Pelitanusantara.com Seorang tentara yang pernah berjibaku di medan perang memutuskan untuk meninggalkan karir militernya dan menjadi pendeta. Ia ingin membawa semangat juang dan disiplin ke dalam pelayanan rohani, tapi dengan sedikit twist.
Suatu hari, saat memberikan khotbah, ia berkata, “Anak-anak Tuhan, kita harus siap untuk maju ke garis depan spiritual! Jangan ada yang tertinggal, dan jangan lupa untuk selalu membawa senjata spiritual, yaitu… amplop untuk persembahan!”
Jemaat gereja terkejut dan tidak bisa menahan tawa mereka. “Pak Pendeta, apakah kita harus memakai seragam tentara dan membawa senjata juga?” tanya salah satu jemaat dengan nada bercanda.
Pendeta eks tentara itu tersenyum dan berkata, “Tidak perlu senjata, tapi semangat tempur dan disiplin adalah kunci untuk mencapai tujuan spiritual kita. Dan jangan lupa, kita harus selalu siap untuk ‘menyerang’ dengan kasih sayang, pengampunan, dan… donasi!”
Jemaat gereja tidak bisa menahan tawa mereka lagi. “Pak Pendeta, sepertinya Bapak masih tentara banget, tapi dengan cara yang lebih ‘damai’!” kata salah satu jemaat dengan tertawa.
Pendeta itu tersenyum dan berkata, “Apa boleh buat, saya hanya mencoba membawa semangat positif dari karir sebelumnya ke dalam pelayanan rohani. Semoga tidak terlalu ‘keras’ bagi kalian, dan jangan lupa untuk selalu memberi!”
bagaimanapun cara kita berkomunikasi adalah melihat latar belakang seseorang dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, bahkan dalam konteks yang berbeda seperti keagamaan. Semoga anekdot ini dapat memberikan sedikit hiburan dan refleksi!













