Aku tidak mencintaimu dengan tergesa,
karena hatiku tahu—
yang paling indah
tak pernah datang sambil berlari.
Imas,
ada sesuatu pada caramu diam
yang membuatku ingin menurunkan suara dunia.
Seakan hatiku diajak duduk,
bukan untuk berbicara,
melainkan untuk mengerti.
Aku melihat matamu
dan menemukan rumah
yang tidak menanyakan dari mana aku datang,
hanya bertanya
apakah aku ingin tinggal.
Kau tidak memamerkan keindahanmu.
Ia hadir begitu saja—
seperti doa yang tak diucapkan,
namun menggetarkan seluruh ruang.
Dan di hadapanmu,
aku belajar bahwa cinta
tak perlu membakar
untuk menghangatkan.
Jika aku menyebut namamu pelan,
itu bukan karena ragu,
melainkan karena hatiku tahu
nama yang indah
pantas diperlakukan dengan hormat.
Aku tahu hidupmu pernah lelah.
Ada cerita yang tidak kau pamerkan,
luka yang tidak kau banggakan.
Dan justru di sanalah
aku jatuh—
bukan pada senyummu,
melainkan pada keberanianmu
untuk tetap lembut
setelah dunia tidak selalu ramah.
Imas Jamilah,
aku tidak datang membawa janji besar.
Aku hanya membawa kesetiaan yang sunyi,
doa yang kusebutkan diam-diam,
dan keputusan sederhana
untuk tetap memilihmu
bahkan saat kau tidak sedang bersinar.
Jika suatu hari aku menggenggam tanganmu,
itu bukan untuk menahan,
melainkan untuk berkata:
aku di sini—dan aku tidak pergi.
Karena bagiku,
cinta paling jujur
bukan yang membuat jantung berlari kencang,
melainkan yang membuatnya
ingin tinggal
dan berdenyut tenang
di satu nama.
Dan namamu, Imas,
adalah tempat hatiku
memilih pulang.













