Air Terjun Putri Nglirip: Nostalgia Pribadiku dari 1966 hingga 2025

IMG 20250526 WA0029
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Tahun 1966—aku masih kecil, dengan mata yang penuh keajaiban dan hati yang meluap dengan rasa ingin tahu. Dunia terasa luas, sejuk, dan penuh misteri. Salah satu tempat yang paling membekas di hati adalah Air Terjun Putri Nglirip, yang tersembunyi di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Di sanalah, pertama kalinya aku merasakan keindahan alam yang begitu murni, seolah-olah diciptakan hanya untuk dikenang.

Perjalanan ke sana dulu bukan perkara mudah. Tak ada kendaraan yang langsung mengantar. Kami naik truck perusahaan Migas menyusuri hutan liar, melewati pohon-pohon yang belum tersentuh modernisasi. Pohon beringin berdiri gagah di sepanjang jalur, akarnya menjuntai liar dan megah. Suara Gareng Pung mengisi udara—nyaring, namun justru menjadi alunan alami yang menenangkan. Aku merasa seperti sedang memasuki dunia dongeng, di mana setiap pohon dan batu memiliki cerita tersendiri.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58
Gambar menggunakan teknologi AI – Pelitanusantara.com

Saat aku tiba di Air Terjun Putri Nglirip, aku merasa seperti sedang berada di surga kecil. Airnya jernih sebening kaca, dan setiap batu di dasar sungai bisa terlihat jelas. Air yang jatuh dari ketinggian membentuk tirai putih, berkilau diterpa cahaya matahari yang menyusup lewat celah dedaunan. Aku merasa seperti sedang berada di dalam mimpi, di mana keindahan alam menjadi nyata.

Aku bermain di sekitar air terjun, merasakan air yang dingin dan segar. Aku berlari-lari di sekitar hutan, mengejar kupu-kupu dan mencari bunga-bunga liar. Aku merasa seperti sedang berada di dalam dunia yang tak terbatas, di mana keajaiban dan keindahan alam menjadi nyata.

Tahun-tahun berlalu, dan aku kembali beberapa kali ke Air Terjun Putri Nglirip. Setiap kedatangan, aku menyadari perubahan. Jalan mulai dibeton. Kios mulai muncul. Hutan tak lagi sepadat dulu. Tapi kenangan masa kecilku tetap hidup, tetap jernih dalam ingatan.

Gambar menggunakan teknologi AI - Pelitanusantara.com
Gambar menggunakan teknologi AI – Pelitanusantara.com

Dan kini, di tahun 2025, aku kembali lagi—dengan rambut yang telah memutih, namun hati yang masih menyimpan masa kecilku. Yang paling membuatku sedih: airnya kini keruh. Buthek. Tak lagi jernih seperti saat aku kecil. Dulu, air ini seolah memantulkan langit dan isi hatiku. Kini, ia tampak lelah—membawa lumpur, sisa-sisa tangan manusia, dan jejak zaman yang tak lagi peduli pada kejernihan.

Tapi aku bersyukur: kenangan tak bisa dikeruhkan. Di dalam diriku, Putri Nglirip tetap jernih, tetap suci, tetap menjadi bagian dari masa kecil yang hangat dan utuh. Aku masih bisa mencium bau tanah basah, masih bisa mendengar Gareng Pung, masih bisa merasa angin yang dulu menyapu wajah bocah tahun 1966.

Kini aku berdiri di tepi air yang telah berubah. Tapi hatiku penuh—karena aku tahu, di antara derasnya waktu dan perubahan, aku punya bagian kecil dari dunia yang dulu pernah begitu indah. Itulah nostalgia pribadiku. Dari 1966 hingga 2025—59 tahun berlalu, tapi kenangan itu tetap hidup, tetap jernih… setidaknya dalam ingatan. [÷]

Gambar menggunakan teknologi AI – Pelitanusantara.com