SEJARAH BARU DI ALUN-ALUN BOGOR: “SRIKANDI BHUANA” BIKIN RIBUAN WARGA TERPEJUK – DRAMA TARI WAYANG KOLOSAL YANG HIDUPKAN JATI DIRI KOTA HUJAN!

Kefaspelita
IMG 20251223 WA0009
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

KOTA BOGOR,23 DESEMBER 2025 – Malam Sabtu (20/12/2025) Alun-alun Kota Bogor tak lagi hanya tempat berjalan-jalan atau bersantai. Ia bertransformasi menjadi panggung megah yang menyaksikan kelahiran sejarah baru dalam dunia seni pertunjukan di Kota Hujan – ribuan warga memadati area ikonik itu untuk menyaksikan kemegahan Drama Tari Wayang “Srikandi Bhuana” yang bukan sekadar tarian, melainkan simbol kebangkitan kekuatan budaya lokal yang terhempas badai pandemi.

Acara yang digelar dalam rangka Evaluasi ke-55 Sanggar Seni Getar Pakuan adalah kolaborasi megah dengan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025, digagas dan didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Ditjen Risbang Kemendiktisaintek melalui LPPM ISBI Bandung. Dengan panggung berskala nasional dan tata cahaya yang futuristik, pementasan ini dinilai sebagai pertunjukan seni tradisi terbesar yang pernah ada di ruang publik terbuka Bogor.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ketua Sanggar Seni Getar Pakuan, Zen Djuansyah (yang akrab disapa Kang Zen), tak kuasa menahan haru saat berbicara. Ia menceritakan perjalanan panjang sanggar yang kini memasuki usia evaluasi ke-55, meski sempat mengalami masa sulit:

“Sanggar ini sudah berjalan 33 tahun, namun kemarin kami sempat vakum karena pandemi Covid-19. Baru sekitar dua tahun ini kami kembali hadir, dan hari ini dalam acara Evaluasi Tari ke-55, kami dipercaya menggelar Drama Tari Wayang bekerjasama dengan ISBI Bandung dan IPB Vokasi. Ini membuktikan bahwa kami kembali bangkit menggetarkan untuk pengabdian pada negeri tercinta, Indonesia!”

Kang Zen juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu:

“Terima kasih kepada Direktorat PPM Ditjen Risbang Kemendiktisaintek, ISBI Bandung, IPB Vokasi, Wali Kota, Ketua DPRD, Forkopimda, sponsor, dan seluruh warga Bogor. Terutama anak-anak sanggar dan orang tua yang luar biasa. Bagimu Negri jiwa raga kami!”

Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., Kepala LPPM ISBI Bandung, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah perwujudan PISN:

“Kami berkomitmen agar riset dan inovasi seni tidak hanya mendekam di kampus, tapi memberi dampak nyata. Melalui PISN, kami berikan pendampingan agar tradisi lokal di Getar Pakuan bisa bertransformasi menjadi pertunjukan yang relevan dengan zaman tanpa kehilangan nilai luhurnya. Malam ini adalah buktinya!”

Mewakili Rektor ISBI Bandung Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum., Dr. Ismet Ruchimat, S.Sen., M.Hum. (Dekan Fakultas Seni Pertunjukan) memuji standar artistik yang dicapai:

“ISBI hadir untuk memperkuat ekosistem seni. Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan praktisi sanggar menciptakan harmoni indah. Srikandi Bhuana adalah representasi bagaimana akademik dan talenta lokal bisa menciptakan karya berskala internasional!”

Abdul Rosyid, Anggota DPRD Komisi III yang mewakili Ketua DPRD Kota Bogor, menyebut perhelatan ini sebagai pemanfaatan ruang publik yang paling ideal:

“Saya sangat terpukau dan mengapresiasi, luar biasa pisan! Ini adalah contoh konkret bagaimana inovasi pendidikan dan seni tradisi membuahkan hasil yang bisa dinikmati rakyat. Kami di legislatif akan terus mendorong agar agenda budaya seperti ini menjadi prioritas dan Getar Pakuan rutin digelar sebagai daya tarik pariwisata Bogor. Kita juga punya event tahunan seperti di daerah lain!”

Ia juga menyampaikan pesan Ketua DPRD:

“Kami sangat mendukung penuh kegiatan yang menghidupkan Alun-alun dengan nilai edukasi dan budaya. Ini adalah sejarah baru, di mana Alun-alun Bogor bertransformasi menjadi panggung megah yang bisa dinikmati semua lapisan masyarakat secara gratis namun berkualitas tinggi!”

Mewakili Wali Kota Bogor, Adhitya Bhuana Karana, S.STP., M.Si. (Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan), menyatakan rasa bangganya:

“Malam ini, Alun-alun bukan sekadar ruang terbuka hijau, tapi menjadi ruang peradaban. 33 tahun Getar Pakuan konsisten menjaga jati diri Bogor. Kolaborasi dengan ISBI membuktikan seni tradisi kita punya daya saing tinggi dan pemerintah akan terus mendukung ekosistem budaya seperti ini.”

Ia juga menyampaikan pesan khusus dari Bapak Wali Kota Dedie A. Rachim:

“Pesan Bapak Wali Kota sangat jelas: Bogor harus menjadi kota yang modern secara infrastruktur namun tetap ‘nyunda’ secara jiwa. Apa yang dilakukan Getar Pakuan dan ISBI malam ini adalah bentuk pelestarian jati diri bangsa. Pemerintah akan selalu menjadi rumah yang ramah bagi kreativitas seni!”

Antusiasme penonton menjadi puncak kesuksesan malam itu. Asep (45), warga Tanah Sareal yang membawa istri dan anak:

“Saya lahir dan besar di Bogor, tapi baru pertama kali lihat pertunjukan seni tradisi di tempat terbuka dengan panggung sekeren ini. Lampunya, suaranya, tariannya – semuanya seperti di film kolosal. Ini benar-benar sejarah baru buat kota kita!”

Sementara Maya (21), mahasiswi, menyebut acara ini sebagai booster kebanggaan generasi muda:

“Ternyata tarian wayang kalau dikemas modern seperti ini sangat keren ya. Nggak kalah sama konser musik luar negeri. Semoga tahun depan ada lagi!”

Malam itu, Alun-alun Kota Bogor tidak hanya menjadi tempat berkumpul – ia menjadi ruang sakral di mana sejarah, inovasi, dan kebanggaan nasional menyatu dalam satu gerak yang memesona: Srikandi Bhuana.

Jurnalis: Romo Kefas