MAKNA BATASAN DIRI DAN KEINGINAN SEBAGAI IMPLEMENTASI KARAKTER PENGUASAAN DIRI

IMG 20210906
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Kata penguasaan menurut KBBI memiliki arti proses/cara/perbuatan menguasai atau menguasakan; pemahaman/kesanggupan untuk menggunakan sesuatu (pengetahuan, kepandaian, dsb). Diri diartikan sebagai orang seorang (terpisah dari yang lain); tidak dengan yang lain. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa penguasaan diri adalah suatu proses/cara /perbuatan menguasai diri sendiri. Atau dimaknai sebagai pemahaman/kesanggupan seseorang menggunakan pengetahuannya.

Buku Charakter First mendefinisikan penguasaan diri sebagai tindakan menolak keinginan saya sendiri dan melakukan apa yang benar. Penguasaan diri dapat menolong seseorang untuk memenangkan pertempuran yang paling penting, yaitu pertempuran untuk menguasai dirinya sendiri dan mengatur perilakunya agar tidak bertindak sesuka hati. Orang yang terbiasa bertindak sesuka hati dapat dipastikan adalah orang yang antisosial atau bahkan akan mengalami banyak penolakan dari sekitarnya akibat tindakannya. Oleh karena itu, seseorang perlu diajarkan karakter penguasaan diri sejak dini dan tentu saja hal ini adalah proses belajar seumur hidup.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Alkitab mengajarkan bahwa penguasaan diri merupakan salah satu unsur/rasa dari buah roh (Galatia 5:22 – 23). Seseorang setelah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam hidupnya sudah semestinya menampilkan tindakan yang penuh buah roh yang salah satu rasanya ada penguasaan diri. Amsal 16:32 menyatakan orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. Orang yang merebut kota sudah pasti seorang yang memenangkan pertempuran. Pahlawan yang mengalahkan musuhnya, menerobos tembok tebal, dan menduduki kota. Dengan kata lain, karakter penguasaan diri menjadikan kita lebih dari pahlawan yang menang.

Penguasaan diri tidak hanya menjadikan kita lebih dari pemenang, juga menjadi teladan mutlak yang dinantikan oleh orang-orang di sekeliling kita. Tuhan tidak meminta kita langsung menjadi teladan hidupnya bagi orang dunia, melainkan harus menjadi teladan lebih dulu bagi sesama orang percaya (1 Tim 4:12). Kemampuan menguasai diri dalam segala hal memang bukanlah suatu hasil yang bisa didapatkan dalam sebulan atau beberapa tahun pelatihan, melainkan proses belajar seumur hidup. Proses belajar membutuhkan pengetahuan. Rasul Petrus mengajarkan untuk mengesampingkan keinginan sendiri butuh pengetahuan (2 Petrus 1: 6). Kemampuan manusia menjalankan kebenaran sangatlah rendah akibat dosa. Ini menyadarkan kita untuk mengijinkan Roh Allah bekerja dalam proses belajar menguasai diri. Ingatlah bahwa karakter ini adalah buah roh, sehingga harus melibatkan pekerjaan Roh Allah. Sebaliknya jika kita berpikir cukup memiliki roh Allah saja tidak perlu mempelajari kebenaran, maka sesungguhnya kita kehilangan makna penguasaan diri. Roh Allah bukanlah pesulap yang bisa menghasilkan sesuatu tanpa benih Firman.

Hal praktis yang dapat kita lakukan agar dapat menguasai diri sebagai berikut:

  1. Tidak menyamakan keinginan dengan hak/kebutuhan Keinginan adalah barang apa yang diingini atau hasrat/kehendak/harapan (KBBI), sedangkan hak adalah hal yang seharusnya diterima. Hak memiliki arti yang mirip dengan kebutuhan (hal mendasar yang dibutuhkan). Manusia diciptakan dengan kehendak bebas, terdapat keinginan-keinginan, yang seharusnya dapat dikendalikan dengan Firman. Tetapi dosa membuat keinginan-keinginan manusia menjadi liar. Ada 3 jenis keinginan yang berasal dunia yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16). Keinginan daging seperti nafsu makan berlebihan, kecanduan main game, kecanduan alkohol, emosi yang dilampiskan, kegilaan seks dsb. Keinginan mata contohnya keinginan membeli segala sesuatu yang menarik hati ketika dilihat. Keangkuhan hidup merupakan kecongkakan yang datang dari kekayaan dan kebesaran seseorang. Manusia butuh makan untuk hidup, namun hasrat makan yang berlebihan tidak lagi berguna bagi kebutuhan hidup melainkan keinginan daging yang dapat menyebabkan kegemukan sehingga tubuh mudah terserang penyakit. Baju dan sepatu merupakan kebutuhan sandang manusia. Berbeda halnya bila setiap melihat iklan baju/sepatu di online shop atau mall lalu menimbulkan hasrat membeli semua yang menarik hati, hal tersebut sudah menjadi keinginan mata. Seseorang dengan jiwa kompetitif adalah baik, tetapi menjadi alarm bila ia selalu memandang rendah atau tidak mau menolong orang lain. Penguasaan diri seharusnya mengarahkan kita hidup memenuhi apa yang seharusnya diterima atau yang menjadi kebutuhan dasarnya, bukan yang menjadi kehasrat/kehendaknya.
  2. Menetapkan batasan bagi diri sendiri  Ayub menyatakan bahwa ia menetapkan syarat bagi matanya untuk tidak memperhatikan gadis (Ayub 31:1). Raja Daud menetapkan untuk tidak menaruh perkara dursila di depan matak dan membenci perbuatan murtad (Maz 101:13). Daniel dan teman-temannya menetapkan diri untuk tidak menyentuh makanan dan angggur raja Babel (Daniel 1: 8-13). Tokoh-tokoh tersebut memberikan teladan bagaimana mereka menguasai dirinya dari keinginan-keinginannya dengan membuat batasan bagi dirinya. Tuhan Yesus pun memberikan teladan bagaimana Ia menguasai diriNya saat menghadapi cobaan Si jahat, dengan berkata dan bertindak sesuai Firman.

Surat Paulus menasehati jemaat Filipi supaya mereka menaruh pikiran dan perasaannya dalam Kristus Yesus (Fil 2:5). Pikiran dan perasaan kita mestinya tidak menguasai hidup kita.
Ketika seseorang tidak mau menetapkan Firman sebagai batasan, maka standart perilakunya tidak ada bedanya dengan dunia ini. Selain itu, saat terus menerus gagal menguasai diri, secara tidak langsung kita sedang membiarkan orang lain menetapkan batasan bagi hidup kita.
Jadi, Firman Tuhan dan pekerjaan RohNya akan memperbaharui pikiran kita (memasang batas yang baru), sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah dari kehendak/keinginan diri sendiri (Roma 12:2). Pola/cara berpikir merupakan area pertempuran yang perlu dikuasai. Cara berpikir kita menentukan cara kita merasa, berbicara, dan bertindak. Selama kita berpikir dengan cara Tuhan, hal itu memudahkan Roh Tuhan bekerja mewujudkan karakter penguasaan diri dalam kita. Karakter penguasaan diri tidak dapat dilahirkan oleh kebenaran lain selain perkataan Allah

Penulis : Juliana F Sodak, S.Pt_Guru Sekolah Tunas Pertiwi

Sumber:

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Online) httpss://kbbi.kemdikbud.go.id
  • Buku Charater First
  • Alkitab
  • Joyce Meyer. 2012. Kekuatan Pikiran. Tangan Pengharapan, Jakarta.