Dugaan Modus Penipuan Lowongan Kerja di Tangerang Terbongkar, Pencari Kerja Diperas Berkedok Yayasan Penyalur

File 00000000f51472088cef693e93157e45
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Dugaan Modus Penipuan Lowongan Kerja di Tangerang Terbongkar, Pencari Kerja Diperas Berkedok Yayasan Penyalur

Tangerang — Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan dan tingginya angka pencari kerja, dugaan praktik penipuan berkedok penyaluran tenaga kerja kembali mencuat di Kabupaten Tangerang. Sejumlah korban mengaku kehilangan jutaan rupiah setelah dijanjikan bisa bekerja di perusahaan makanan ternama, namun hingga kini tidak pernah benar-benar diterima bekerja.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Kasus ini menjadi sorotan karena modus yang digunakan dinilai semakin rapi dan terstruktur. Para korban diduga dijaring melalui media sosial TikTok menggunakan akun bernama “Loker Tangerang” yang aktif mengunggah berbagai informasi lowongan kerja.

Dari akun tersebut, calon pelamar diarahkan menghubungi nomor WhatsApp tertentu yang kemudian menawarkan proses “jalur cepat” masuk kerja dengan berbagai dalih administrasi dan biaya yayasan.

Salah satu korban, Nuvi, mengaku awalnya tertarik setelah melihat lowongan kerja di PT Lemonilo yang diposting akun tersebut. Namun setelah menghubungi nomor yang dicantumkan, dirinya justru diminta mentransfer uang dengan alasan biaya pendaftaran anggota yayasan.

“Awalnya hanya Rp300 ribu. Tapi setelah itu terus diminta uang lagi dengan alasan administrasi, penempatan kerja, sampai janji langsung masuk kerja,” ujarnya.

Korban kemudian diarahkan mendatangi sebuah yayasan di wilayah Kutabumi, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Di lokasi itu, korban bertemu pelamar lain yang ternyata mengalami pola serupa.

Setelah proses pemeriksaan berkas dan pendataan, korban kembali diminta membayar sejumlah uang tambahan. Bahkan, korban mengaku sempat diyakinkan bahwa proses tersebut resmi dan terhubung langsung dengan perusahaan tujuan.

Namun harapan korban berubah menjadi kekecewaan saat mereka datang ke perusahaan sesuai arahan terduga pelaku. Korban justru tidak mendapatkan kejelasan dan merasa ditelantarkan tanpa kepastian kerja.

“Saya datang sesuai arahan, tapi tidak ada panggilan kerja seperti yang dijanjikan. Saat ditanya ke perusahaan, mereka malah bilang tidak ada rekrutmen seperti itu,” ungkap korban.

Kasus ini memunculkan kekhawatiran publik karena modus serupa dinilai sering menyasar masyarakat kecil dan para pencari kerja yang sedang berada dalam tekanan ekonomi.

Pengamat sosial menilai, praktik semacam ini bukan sekadar penipuan biasa, tetapi sudah termasuk eksploitasi terhadap kesulitan hidup masyarakat.

“Mereka memanfaatkan kebutuhan orang yang sedang mencari pekerjaan. Korban dijanjikan harapan, lalu diperas sedikit demi sedikit dengan alasan administrasi dan penempatan kerja,” ujar salah satu pemerhati sosial di Tangerang.

Dalam perkara ini, korban menyebut nama seseorang yang dikenal dengan panggilan “Reska”. Namun dari hasil penelusuran transfer dan identitas digital, nama yang muncul diduga mengarah pada beberapa identitas berbeda.

Korban juga mengaku sempat dijanjikan pengembalian uang oleh pihak terduga pelaku, namun hingga kini uang tersebut belum dikembalikan sepenuhnya.

Akibat kejadian itu, korban mengalami kerugian mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Mereka kini berencana melaporkan kasus tersebut secara resmi ke aparat kepolisian agar dugaan praktik penipuan berkedok yayasan penyalur kerja dapat diusut tuntas.

Publik mendesak aparat penegak hukum segera turun tangan karena dikhawatirkan masih banyak korban lain yang belum berani melapor.

Kasus ini juga menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap lowongan kerja di media sosial yang meminta pembayaran di awal, apalagi dengan iming-iming “jaminan masuk kerja”.

Sebab dalam praktik rekrutmen resmi perusahaan, proses penerimaan tenaga kerja pada umumnya tidak memungut biaya dari pelamar.

(Jurnalis/Tim)
(Sumber : JST)