Sunyi yang Kudus: Laku Setia di Bawah Bayang Salib

Kefaspelita
File 000000004f9871fabd2392d5261fc3c7
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com

Yohanes 19:38–42

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ada saat dalam hidup rohani di mana Tuhan tidak berbicara dengan suara yang gemuruh,
melainkan melalui hening yang kudus.

Dalam tradisi iman Kristen Nusantara, kita mengenal laku batin:
menyepi untuk mengerti, diam untuk menangkap kehendak Ilahi.

Bukan untuk lari dari dunia,
tetapi untuk menemukan makna terdalam di hadapan Tuhan.

Golgota sore itu adalah ruang hening seperti itu.

Tidak ada lagi sorak “Hosana”.
Tidak ada lagi mukjizat yang memukau.
Yang tersisa hanyalah tubuh Kristus di salib—
dan dunia yang seolah kehilangan arah.

Namun justru dalam sunyi itulah,
iman yang sejati mulai mengambil bentuknya.


Laku Iman: Dari Sembunyi Menjadi Nyata

Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus bukanlah murid yang tampil di depan.
Mereka adalah “murid dalam sembunyi”—
yang dalam istilah kita, menjalani laku iman yang senyap.

Tetapi ketika semua orang mundur,
mereka maju.

Yusuf menghadap Pilatus—sebuah keberanian yang bukan sekadar sosial, tetapi spiritual.
Nikodemus datang membawa minyak mur dan gaharu—persembahan yang mahal dan penuh makna.

Ini bukan sekadar adat penguburan.
Ini adalah tindakan iman yang sadar akan kemuliaan Kristus.

Dalam terang firman Tuhan:
“Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:17).

Maka iman mereka bukan hanya disimpan,
tetapi diwujudkan—menjadi laku nyata di hadapan Allah.


Salib dalam Rasa Nusantara: Jalan, Bukan Akhir

Dalam banyak budaya Nusantara, penderitaan sering dimaknai sebagai jalan pembentukan.
Ada istilah: “urip iku lelampahan”—hidup adalah perjalanan.

Demikian pula salib.

Secara teologis, salib bukan sekadar penderitaan,
melainkan jalan penebusan Allah bagi manusia berdosa (Yesaya 53:5).

Yesus tidak mati sebagai korban tanpa makna,
tetapi sebagai Anak Domba Allah yang menanggung dosa dunia (Yohanes 1:29).

Penguburan-Nya menegaskan realitas kematian-Nya.
Dan dari situ, kebangkitan menjadi dasar pengharapan kita.

Maka bagi kita,
salib bukan akhir perjalanan—
tetapi pintu menuju kehidupan.

File 00000000da6071fa954ec7b96b0aa92c


Sepi ing Pamrih, Rame ing Laku

Pepatah Jawa berkata:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”

Inilah gambaran iman Yusuf dan Nikodemus.

Mereka tidak mencari panggung.
Tidak menunggu pengakuan.
Tidak menghitung untung-rugi.

Mereka hanya melakukan yang benar—
di hadapan Tuhan.

Dalam spiritualitas Kristen Nusantara, ini disebut:
hidup yang membumi, tetapi berakar di sorga.

Yesus sendiri mengajarkan:
“Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Matius 6:3).

Kesetiaan yang sejati tidak butuh sorotan—
karena ia lahir dari kasih kepada Kristus.


Gusti Ora Sare: Teologi Pengharapan yang Hidup

Dalam keyakinan umat percaya di Nusantara, ada satu pengakuan sederhana tetapi dalam:
“Gusti ora sare.”
Tuhan tidak pernah tidur.

Ini bukan sekadar pepatah,
tetapi pengakuan iman.

Bahwa Allah melihat.
Allah mengetahui.
Allah mengingat setiap laku setia kita.

Yusuf dan Nikodemus mungkin tidak dipuji manusia,
tetapi mereka tercatat dalam Injil—
sebagai bagian dari karya keselamatan Allah.


Refleksi: Iman sebagai Laku, Bukan Sekadar Kata

Hari ini, kita hidup di tengah dunia yang ramai:
ramai aktivitas, ramai pelayanan, ramai suara.

Namun pertanyaannya:
apakah kita masih memiliki ruang sunyi yang kudus bersama Tuhan?

Apakah iman kita hanya berhenti pada kata,
atau menjadi laku nyata?

Firman Tuhan mengingatkan:
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah seperti untuk Tuhan” (Kolose 3:23).

Iman Kristen bukan hanya pengakuan,
tetapi perjalanan hidup yang dijalani setiap hari.


Laku Setia yang Berakar dalam Kristus

Kisah ini mengajarkan bahwa:

  • Iman sejati bertumbuh dalam keheningan
  • Kesetiaan diuji saat tidak ada sorotan
  • Dan tindakan kecil dapat dipakai dalam rencana besar Allah

Dalam terang Kristen Nusantara, kita belajar:
iman bukan hanya diketahui—tetapi dijalani.

Karena pada akhirnya,
bukan yang paling terlihat yang berkenan di hadapan Tuhan,
melainkan yang paling setia dalam laku hidupnya.


Pokok Doa:
Tuhan, ajar kami untuk hidup dalam laku iman yang setia—diam namun berkenan, sederhana namun bermakna di hadapan-Mu.


Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K