Paguyuban Jathilan di Sleman Gelar Pertunjukan Virtual

Sleman, Pelitanusantara.com  Beragam cara dapat diterapkan untuk menghidupkan kembali pertunjukan kesenian Jathilan pada masa pandemi COVID-19 ini. Salah satunya melakukan pertunjukan melalui media daring.

Hal tersebut ditunjukkan oleh para pegiat seni yang tergabung dalam Paguyuban Jathilan Kudha Kumara Padukuhan Modinan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Sleman yang menggelar kegiatan Seni Jathilan (kesenian seperti kuda lumping, red), pada Minggu (14/2/2021) siang, secara live streaming di kanal Youtube.

Walaupun diselenggarakan secara virtual, kegiatan seni yang dapat dijadikan sebagai hiburan warga di tengah pandemi tetap dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan penanganan COVID-19 antara lain, dengan melakukan penyemprotan menggunakan larutan disinfektan di lokasi sebelum pertunjukan dimulai, penggunaan masker, dan menjaga jarak di bawah pengawasan para relawan Jagabaya Kademangan Demakidjo.

Koordinator Jagabaya, Wahyu Abdul yang melakukan pengamanan dan pengawasan protokol kesehatan acara Jathilan virtual menyebutkan bahwa, pandemi yang terjadi menyebabkan terpuruknya produktivas masyarakat. Namun pada satu sisi, aktivitas daring masyarakat meningkat. Sehingga menurutnya, media daring merupakan salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menampilkan produk seni pertunjukan rakyat.

“Tujuan diselenggarakan pertunjukan seni jathilan ini untuk membangkitkan kreativitas dan produktivitas seniman atau komunitas jathilan, meningkatkan keterampilan dan pengemasan seniman jathilan dalam menjawab tantangan di zaman milenial, melestarikan tradisi seni tari dalam pertunjukan jathilan di Kabupaten Sleman, serta mencari alternatif ekonomi kreatif tradisi jathilan berbasis bisnis virtual,” kata Wahyu Abdul di sela-sela pengawasannya.

Pertunjukan virtual tersebut diharapkan Wahyu, menjadi salah satu jalan yang dapat memberikan harapan baru untuk memperbaiki keterpurukan ekonomi, selain menjadi wadah kegiatan yang memberi peluang bagi tumbuhnya produktivitas seni yang memiliki nilai ideologis dan nilai ekonomi yang berimbang.

Wahyu menambahkan, penerapan protokol kesehatan berdampak besar bagi para seniman. Mereka tidak dapat menjalani profesinya karena pencanangan phisycal distancing dan pelarangan terhadap keramaian. Sehingga pertujukan virtual ini menjadi kesempatan dan tantangan baru bagi para seniman, dalam mengemas pertunjukan mereka.

“Oleh karena itu, muncul tantangan baru bagi seniman seni pertunjukan untuk mendesain produknya dalam berbagai media baik yang berbasis media sosial maupun non media sosial,” tutup dia.(PN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *