KETIKA JANJI MENJADI MURAH, KARAKTER IKUT TERJUAL

File 0000000045e872069eee17d156427f0a
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

KETIKA JANJI MENJADI MURAH, KARAKTER IKUT TERJUAL

Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.”
(Matius 5:37)

Ada satu hal yang semakin langka di zaman modern ini. Bukan emas. Bukan berlian. Bukan jabatan tinggi. Melainkan sebuah karakter yang masih menghargai perkataannya sendiri.

Hari ini kita hidup di tengah generasi yang pandai berbicara, tetapi sering lupa bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya. Lidah begitu ringan mengucapkan janji, tetapi langkah terasa berat untuk menepatinya. Kata-kata melambung setinggi langit, sementara realitasnya jatuh sedalam jurang.

Ironisnya, sebagian orang merasa dirinya terhormat hanya karena memiliki jabatan. Merasa dirinya penting karena banyak yang mengenal namanya. Merasa dirinya berpengaruh karena banyak yang memanggilnya pemimpin.

Padahal sejarah telah mengajarkan satu hal: jabatan bisa dibeli, kekuasaan bisa diwariskan, popularitas bisa direkayasa, tetapi integritas tidak pernah bisa dipalsukan.

Dunia hari ini sedang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin terlihat hebat tanpa mau menjadi benar. Sibuk membangun citra, tetapi lalai membangun karakter. Rajin menjaga reputasi, tetapi lupa menjaga hati.

Tidak sedikit yang tampil bak singa di depan umum, namun berubah menjadi bayangan ketika tiba waktunya mempertanggungjawabkan perkataannya sendiri.

Mereka senang berbicara tentang loyalitas, tetapi lupa arti kesetiaan.
Mereka mengajarkan tentang komitmen, tetapi hidup dalam kebiasaan menunda.
Mereka menuntut kepercayaan dari orang lain, tetapi tidak pernah bertanya apakah dirinya masih layak dipercaya.

Lebih menyedihkan lagi, semua itu sering dibungkus dengan bahasa rohani.

Ayat demi ayat dikutip.
Doa demi doa dipanjatkan.
Pelayanan demi pelayanan dijalankan.

Namun ada satu hal yang sering luput diperiksa:

Apakah kehidupan kita sedang mencerminkan Kristus atau hanya sedang mempertahankan pencitraan?

Sebab Tuhan tidak pernah tertipu oleh penampilan.

Manusia melihat pakaian.
Tuhan melihat hati.

Manusia melihat gelar.
Tuhan melihat karakter.

Manusia mendengar pidato.
Tuhan mendengar kejujuran hati.

Banyak orang berpikir dosa terbesar adalah mencuri, berzina, atau melakukan kejahatan besar lainnya. Padahal sering kali kerusakan karakter dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil: perkataan yang tidak dijaga.

Janji yang diucapkan tanpa kesungguhan.
Komitmen yang diberikan tanpa niat melaksanakan.
Harapan yang dibangun tanpa tanggung jawab.

Lalu semuanya ditutupi dengan satu kata yang paling populer dalam kamus kemunafikan modern:

“Nanti.”

“Nanti saya bantu.”

“Nanti saya transfer.”

“Nanti saya urus.”

“Nanti saya hubungi.”

“Nanti saya pikirkan.”

Dan sering kali kata “nanti” ternyata hanyalah cara yang lebih sopan untuk mengatakan “lupakan saja.”

Inilah satir kehidupan yang menyakitkan.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan kehormatan.
Lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas.
Lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan kepercayaan.

Padahal ketika kepercayaan hilang, sesungguhnya yang runtuh bukan sekadar hubungan antarmanusia. Yang runtuh adalah fondasi karakter itu sendiri.

Yesus tidak pernah meminta murid-murid-Nya menjadi orang yang pandai berbicara.

Ia meminta mereka menjadi terang.

Dan terang tidak berbicara tentang dirinya sendiri.
Terang cukup bersinar.

Karakter juga demikian.

Karakter tidak membutuhkan panggung.
Karakter tidak membutuhkan tepuk tangan.
Karakter tidak membutuhkan publikasi.

Karakter hanya membutuhkan konsistensi.

Sebab pada akhirnya dunia tidak akan mengingat seberapa banyak janji yang pernah kita ucapkan.

Dunia akan mengingat berapa banyak janji yang benar-benar kita tepati.

Mungkin hari ini ada seseorang yang masih menunggu sebuah komitmen yang pernah kita berikan.

Mungkin ada harapan yang masih menggantung karena kelalaian kita.

Mungkin ada kepercayaan yang mulai retak karena kita terlalu sibuk mencari alasan.

Jika demikian, jangan salahkan waktu.

Jangan salahkan keadaan.

Jangan salahkan kesibukan.

Karena sering kali masalah terbesar bukanlah lupa menepati janji.

Masalah terbesar adalah ketika hati sudah tidak lagi menganggap janji sebagai sesuatu yang suci.

Dan ketika perkataan kehilangan kesuciannya, maka karakter sedang menuju kehancurannya.

Sebelum kita meminta orang lain menghormati kita, tanyakan terlebih dahulu:

Apakah perkataan saya masih memiliki nilai?

Sebelum kita menuntut orang lain mempercayai kita, tanyakan:

Apakah saya masih setia terhadap apa yang pernah saya ucapkan?

Karena pada akhirnya, Surga tidak akan menilai kita dari seberapa hebat kita berbicara tentang kebenaran.

Surga akan menilai apakah kita hidup dalam kebenaran itu.

“Karakter adalah tanda tangan jiwa. Ia tidak terlihat setiap saat, tetapi selalu meninggalkan jejak ke mana pun seseorang melangkah.”

— Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K.
(Romo Kefas)