Piring yang Hilang di Tengah Lumbung: Sebuah Kisah Tentang Gizi, Kuasa, dan Nafsu yang Tak Pernah Kenyang
Oleh: Romo Kefas
Orang Jawa punya petuah lama: “Aja dumeh.”
Jangan mentang-mentang berkuasa lalu lupa daratan.
Jangan mentang-mentang memegang anggaran lalu merasa memegang nasib rakyat.
Jangan mentang-mentang duduk di kursi tinggi lalu mengira langit bisa dibeli.
Sayangnya, sejarah Indonesia seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Tokohnya berganti. Seragamnya berganti. Kantornya berganti. Namun ceritanya sering kali sama.
Rakyat menanam padi.
Negara membangun lumbung.
Lalu entah bagaimana, tikus selalu lebih gemuk daripada petani.
Di tanah Sunda ada filosofi silih asah, silih asih, silih asuh.
Saling mengajari.
Saling mengasihi.
Saling menjaga.
Filosofi ini lahir dari kesadaran bahwa hidup bukan soal siapa yang paling kaya, melainkan siapa yang paling berguna bagi sesama.
Karena itu ketika sebuah program negara dibuat untuk memberi makan anak-anak, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar dapur umum.
Yang sedang dibangun adalah masa depan bangsa.
Sebab menurut data UNICEF Indonesia dan Kementerian Kesehatan, masalah gizi masih menjadi tantangan serius. Stunting dan kekurangan gizi terbukti berpengaruh terhadap perkembangan otak, kualitas pendidikan, hingga produktivitas ekonomi di masa depan.
Artinya, satu piring makanan bergizi bukan sekadar nasi, telur, dan sayur.
Di dalamnya ada kecerdasan.
Ada kesehatan.
Ada masa depan.
Ada cita-cita seorang anak yang ingin menjadi dokter, guru, tentara, insinyur, bahkan presiden.
Tetapi di negeri ini, terkadang ada orang yang melihat piring anak-anak bukan sebagai amanah.
Melainkan sebagai peluang.
Orang Bugis mengenal konsep siri’ na pacce.
Harga diri dan empati.
Dulu, seorang pemimpin akan merasa malu jika rakyatnya lapar.
Hari ini, yang sering terjadi justru rakyat yang malu melihat pemimpinnya ditangkap.
Ironis.
Sangat ironis.
Seolah-olah kita hidup di negeri yang memiliki terlalu banyak slogan, tetapi terlalu sedikit rasa malu.
Padahal dalam budaya Nusantara, malu bukan kelemahan.
Malu adalah benteng moral.
Ketika rasa malu hilang, maka lahirlah manusia yang bisa tidur nyenyak di atas tumpukan uang yang bukan miliknya.
Anekdot warung kopi mengatakan:
“Kalau ada proyek bernilai miliaran, tiba-tiba banyak orang berubah menjadi patriot.”
Patriot proposal.
Patriot tender.
Patriot anggaran.
Patriot yang cintanya kepada bangsa meningkat seiring meningkatnya nilai kontrak.
Lucunya, mereka selalu berbicara atas nama rakyat.
Padahal rakyatnya sendiri sedang antre minyak goreng.
Sedang mencicil motor.
Sedang memikirkan uang sekolah anak.
Sedang berjuang membeli beras.
Rakyat sering dijadikan nama belakang dalam pidato.
Tetapi jarang menjadi nama depan dalam keputusan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Indonesia masih berada di angka puluhan juta jiwa. Sementara data World Bank berkali-kali menegaskan bahwa kualitas gizi anak memiliki hubungan langsung dengan produktivitas ekonomi suatu bangsa.
Maka ketika ada program yang menyangkut gizi anak, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya APBN.
Yang dipertaruhkan adalah masa depan Indonesia 20 sampai 30 tahun mendatang.
Itulah sebabnya dugaan penyimpangan dalam program publik selalu terasa lebih menyakitkan dibanding kasus-kasus lain.
Karena korupsi jalan tol mungkin membuat perjalanan terlambat.
Korupsi gedung mungkin membuat bangunan roboh.
Tetapi korupsi yang menyentuh kebutuhan dasar anak-anak berpotensi merobohkan masa depan generasi.
Di Minangkabau ada petuah:
“Kok tinggi tampak jauh, kok dekat tampak jelas.”
Artinya seorang pemimpin harus mampu melihat persoalan besar sekaligus memahami penderitaan rakyat kecil.
Sayangnya, ada sebagian orang yang ketika duduk terlalu tinggi justru kehilangan kemampuan melihat ke bawah.
Mereka melihat angka.
Tetapi tidak melihat manusia.
Mereka melihat anggaran.
Tetapi tidak melihat anak-anak.
Mereka melihat proyek.
Tetapi tidak melihat masa depan.
Akibatnya, yang tersisa hanyalah tabel dan laporan yang rapi, sementara substansinya sudah lama hilang.
Seperti rendang tanpa daging.
Ada kuahnya.
Ada aromanya.
Tetapi inti utamanya tidak ada.
Rakyat Indonesia sebenarnya luar biasa sabar.
Mungkin terlalu sabar.
Harga naik, rakyat sabar.
BBM naik, rakyat sabar.
Pajak naik, rakyat sabar.
Janji politik hilang, rakyat masih sabar.
Tetapi ada satu hal yang sulit dimaafkan rakyat:
Ketika anak-anak dijadikan korban keserakahan orang dewasa.
Karena di mata rakyat kecil, anak adalah harapan terakhir yang mereka miliki.
Ketika harapan itu diganggu, luka yang muncul bukan hanya ekonomi.
Tetapi juga moral.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bangsa ini bukan kurangnya program.
Bukan kurangnya anggaran.
Bukan kurangnya regulasi.
Melainkan kurangnya manusia yang mampu menahan diri ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Leluhur Nusantara telah meninggalkan banyak warisan kebijaksanaan.
Dari siri’ na pacce di Sulawesi.
Dari silih asah, silih asih, silih asuh di Sunda.
Dari aja dumeh di Jawa.
Dari falsafah adat basandi syarak di Minangkabau.
Semuanya mengajarkan hal yang sama:
Bahwa kekuasaan adalah titipan.
Bukan warisan.
Bahwa jabatan adalah amanah.
Bukan kesempatan.
Bahwa uang negara adalah hak rakyat.
Bukan hadiah untuk pejabat.
Karena sejarah selalu membuktikan satu hal.
Tidak ada tikus yang bisa membawa lumbung ke liang selamanya.
Cepat atau lambat, lumbung akan dibuka.
Dan ketika itu terjadi, yang berbicara bukan lagi pidato.
Melainkan fakta.
Bukan lagi jabatan.
Melainkan pertanggungjawaban.













