Pelitanusantara com Langit Jawa pada awal abad ke-19 tidak selalu membawa harapan.
Di sepanjang bentangan Anyer hingga Panarukan, ia menjadi saksi bisu ribuan manusia yang dipaksa bekerja di bawah tekanan, tanpa kepastian hidup.
Pagi datang bukan sebagai awal yang baru, melainkan perintah yang tak bisa ditolak.
Rakyat digiring keluar dari desa mereka—meninggalkan sawah, keluarga, dan kehidupan yang sederhana—untuk membangun sebuah jalan panjang yang bahkan tidak mereka pahami maknanya. Cangkul menghantam tanah keras, tubuh dipaksa melampaui batas, dan rasa lelah tak lagi punya arti.
Di bawah kebijakan , proyek Jalan Raya Pos (Groote Postweg) memang lahir dari ambisi besar: memperkuat pertahanan dan mempercepat mobilitas di tanah Jawa. Namun di balik ambisi itu, tersembunyi kisah penderitaan yang panjang dan menyayat.
Selama ini, sejarah populer menggambarkan proyek ini sebagai kerja rodi—kerja paksa tanpa upah. Tetapi penelitian modern menghadirkan fakta yang lebih kompleks.
Daendels sebenarnya mengalokasikan dana lebih dari 30.000 ringgit untuk upah dan kebutuhan konsumsi para pekerja. Dana itu dipercayakan kepada para bupati dan penguasa lokal untuk disalurkan kepada rakyat.
Namun, di sinilah tragedi mulai menemukan bentuknya.
Harapan yang sempat ada, perlahan hilang di tengah jalan.
Dana yang seharusnya menjadi penyambung hidup justru tidak pernah sampai sepenuhnya kepada para pekerja. Praktik korupsi di tingkat lokal membuat upah itu “lenyap”—terkuras oleh kepentingan pribadi para elite.
Akibatnya, rakyat tetap bekerja dalam kondisi yang nyaris tak manusiawi.
Perut kosong menjadi teman setia.
Jatah makanan minim.
Penyakit menyebar tanpa pengobatan.
Dan kelelahan menjadi hukuman harian.
Hari demi hari, tubuh-tubuh itu melemah.
Sebagian jatuh di tengah pekerjaan.
Sebagian lagi tak pernah bangkit kembali.
Tidak ada nama yang dicatat.
Tidak ada upacara perpisahan.
Hanya tanah yang menutup mereka—diam, tanpa suara.
Diperkirakan sekitar 12.000 jiwa melayang dalam proyek ini. Mereka tidak gugur di medan perang, tetapi dalam sunyi—di tengah kerja paksa, kelaparan, dan keputusasaan.
Sejarawan seperti menegaskan bahwa tragedi ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Kekejaman memang terjadi, tetapi bukan semata karena tidak adanya anggaran. Justru, persoalan terbesar terletak pada kegagalan distribusi dan penyalahgunaan kekuasaan di tingkat lokal.
Dengan demikian, Jalan Raya Pos bukan hanya simbol kekuasaan kolonial.
Ia adalah cermin dari dua lapis penindasan:
- Kebijakan kolonial yang keras dan memaksa
- Serta korupsi lokal yang mengkhianati rakyatnya sendiri
Jalan itu memang menghubungkan kota ke kota.
Namun di setiap jengkalnya, tersimpan jejak keringat, air mata, dan nyawa yang hilang.
Ia bukan sekadar infrastruktur.
Ia adalah monumen penderitaan.
Dan hingga hari ini, jika kita mau merenung, sejarah itu menyampaikan pesan yang tak lekang oleh waktu:
bahwa pembangunan tanpa keadilan dan tanpa hati nurani, selalu dibayar mahal oleh mereka yang paling lemah.
Sumber
Sejarah Cirebon (disarikan dari kajian sejarah kolonial dan penelitian akademik modern)
Penulis / Penyadur
Disadur ulang oleh Romo Kefas













