IDEOLOGI PANCASILA DAN KETAHANAN BANGSA

Palicardo
20200615
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

PELITANUSANTARA.comSumber Daya Manusia (SDM) yang besar dan majemuk merupakan aset penting bagi Indonesia. Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang melimpah sangat tergantung pada keutuhan dan kualitas SDM yang dimiliki.

SDM yang memiliki peran penting dan strategis harus terus dijaga keutuhannya. Satu-satunya jalan memelihara keutuhan Bangsa Indonesia yang besar ini adalah dengan pembinaan Ideologi Pancasila, Pancasila harus terus dikumandangkan, hari ini, esok, dan selama-lamanya.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Nilai-nilai Pancasila harus terus dijaga dan ditanamkan bagi setiap warga negara Republik Indonesia. Menjaga pancasila agar semakin berakar dan bertumbuh merupakan upaya menjaga ketahanan bangsa, seperti isi pembahasan dalam dialog interaktif yang berlangsung di TVRI Riau (12/6/20).

Dialog Interaktif yang di inisiasi oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) mengangkat tema “Ideologi Pancasila dan Ketahanan Bangsa” dengan maksud untuk mengajak seluruh masyarakat Riau untuk selalu menjadikan Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Acara yang di moderatori Dr. Wahyu Donri, SH., M.Hum mengahadirkan beberapa narasumber dari berbagai bidang keilmuaan, yakni; Ketua Forum Pembauran Kebangsaan, Ir. Fachri Yasin, M.Agr, Akademisi, Dr. Tri Sukirno Putro, SE., M.Si, Budayawan, Syaukani Alkarim dan salah satu pengurus Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Dt. Drs. H. Rustam Effendy.

Dalam dialog yang berlangsung sekitar satu jam ini, Dt. Drs. H. Rustam Effendy mengatakan Lembaga Adat Melayu Riau memiliki tujuan untuk memelihara nilai-nilai adat dan mempertahankan masyarakat adat di Provinsi Riau.

Ketua Majelis Kerapatan Adat ini juga mengatakan LAM Riau dalam mencapai tujuannya tetap bedasar dan berlandaskan Pancasila sebagai salah satu asas yang tumbuh dan berkembang.

Ketua FPK, Ir. Fachri Yasin dalam dialog menyampaikan perbedaan-perbedaan itu adalah kekayaan yang dimiliki Indonesia. Ribuan suku dan beragam bahasa adalah aset dan kekayaan negeri, yang harus dijaga dan diwariskan pada generasi-generasi bangsa.

“Beragam perbedaan adalah fakta di negeri ini, namun kita jangan mencari-cari perbedaan tetapi harus mencari persamaan-persamaan sesama kita” ucap Ketua FPK.

Dr. Tri Sukirno Putro juga mengatakan lima sila Pancasila yang ada saat ini bukan keputusan satu pihak, namun kesepakatan bersama yang tidak bertentangan dengan Agama manapun yang ada dan diakui di Indonesia.

Dr. Tri Sukirno Putro juga menyampaikan bahwa seluruh warga Indonesia wajib dan harus menjadikan Pancasila sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegara.

Budayawan, Syaukani Alkarim dalam pemaparannya menyampaikan ketahanan bangsa akan tetap terpelihara selagi kita semua bersepakat menerapkan khaidah-khaidah dalam Pancasila di kehidupan sehari-hari.

Syaukani juga mengajak seluruh warga Riau untuk menjaga dan memelihara Pancasila tetap hidup dalam setiap diri manusia.

Setelah dialog berakhir Dr. Wahyu Donri juga menyampaikan ringkasannya pada awak media bahwa Indonesia dalam masa depannya, harus dimulai dengan pembangunan SDM yang baik dan benar.

Peningkatan SDM adalah tolak ukur bagaimana Indonesia kedepan. Karena masa depan Indonesia ada ditangan SDM nya. Bila SDM nya buruk maka buruklah Indonesia.

Cita-cita Indonesia seutuhnya ada ditangan rakyatnya. Untuk mencapai cita-cita bangsa harus dimulai dengan fondasi dasarnya, yaitu peradaban rakyat Indonesia itu sendiri.

“Tidak mungkin kita bisa hidup bersatu, bila dalam diri kita tak bisa menerima perbedaan-perbedaan yang ada” ucap Dr. Wahyu.

Menurut Dr. Wahyu bahwa pemicu persoalan kerukunan yang ada sangat komplek, sehingga penangannya harus komplek dan menyeluruh. Dan bukan hanya menyeluruh tetapi juga harus mendasar dan mendalam.

Menurut Dr. Wahyu semua harus terlibat dalam menjaga keutuhan dan ketahanan bangsa, bukan hanya pemerintah, tetapi semua unsur negara dan perangkat yang ada dimasyarakat. Semua memiliki peran sentral dalam upaya menumbuh kembangkan nilai-nilai persaudaraan, persahabatan, perdamaian, toleransi, dan kerukunan umat beragama.

Tokoh-tokoh agama dalam kapasitas sebagai penceramah harus menjadi sumber pencerahan yang baik bagi umatnya, menanamkan nilai-nilai keagamanan tanpa harus keluar dari nilai-nilai keIndonesiaan.

Tokoh adat juga memiliki peran sentral dalam menebarkan nilai-nilai budaya yang baik, yang dapat membangun karakter manusia Indonesia yang yang beradab dan memiliki moral yang baik.

Selain itu, tokoh-tokoh masyarakat, Guru, Dosen, dan seluruh pendidik anak bangsa harus ambil bagian dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila dan keindonesiaan.

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara sudah sangat tepat dan kuat, dan tidak bertentangan dengan agama manapun yang ada di Indenesia. Tinggal bagaimana kita membumikan pancasila itu bagi setiap anak bangsa.

Pancasila itu adalah kesepakatan pendiri bangsa yang beragam agama, budaya dan bahasa. Mereka telah melalui masa-masanya dengan hidup damai dan berdampingan.

Nenek moyang kita telah mencontohkan dan mengajarkan kita banyak hal tentang bagaimana hidup damai, rukun dalam bingkai keIndonesiaan.

Sejarah sangat penting bagi seluruh rakyat Indonesia, agar bangsa ini tidak kehilangan arah dalam menggapai tujuan dan cita-cita besar Republik Indonesia.

Dr. Wahyu juga mengajak masyarakat Riau untuk terus memperkuat nilai-nilai toleransi, nilai-nilai kerukunan, dan nilai-nilai persaudaraan di antara sesama anak bangsa sehingga kehidupan masyarakat semakin baik.

Sonny Silaban, Ketua PSMTI, Peng Suyoto, Ketua IKBR, Hotman Halolo dan beberapa mahasiswa.

Saat dimintai tanggapannya terkait acara, Sonny Silaban sangat mengapresiasi acara yang berlangsung. Menurut Sonny dialog lintas tokoh harus terus dibangun, agar terpelihara komunikasi yang baik dan menjadi contoh yang baik bagi generasi yang akan datang. (*)