Ketika Rindu Belajar Menyentuh Waktu

File 000000001f8071faa3ae15cad04fee91
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Ketika Rindu Belajar Menyentuh Waktu

Imas Jamilah menyukai malam yang turun tanpa tergesa. Di beranda rumah Tanjungwangi, lampu temaram membuat bayang-bayang menjadi lebih jujur. Udara sejuk mengantarkan aroma tanah basah—jejak hujan yang belum benar-benar pergi. Di situlah Kirno duduk bersamanya, dekat namun tak menuntut, seperti rindu yang telah dewasa.

Mereka bertemu bukan dari kebetulan, melainkan dari kesabaran. Pesan-pesan pendek yang dulu terasa canggung kini berubah menjadi bahasa yang saling mengerti. Jarak pernah memanjangkan hari, tapi juga mengajarkan cara menunggu. Dan menunggu, bagi mereka, adalah bentuk lain dari mencintai.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Kirno menoleh, memperhatikan Imas yang menautkan jemari di pangkuannya. Rona pipinya lembut, senyumnya tipis—cukup untuk membuat malam terasa penuh. Ia tak berkata apa-apa; ia memilih diam yang aman. Imas membalas dengan tatapan singkat, lalu mengalihkan pandang ke hujan yang jatuh pelan. Ada banyak hal yang tak perlu diucapkan.

Ketika angin berembus, Kirno mendekat sedikit. Bukan untuk memotong jarak, melainkan memastikan kehadiran. Imas menyandarkan bahunya—gerak kecil, keputusan besar. Detak jantung saling mencari ritme; napas menjadi lebih tenang. Kedekatan itu tak berisik, tapi hangatnya merayap perlahan, seperti waktu yang akhirnya memberi izin.

Malam kian larut. Lampu menyinari wajah mereka dengan warna keemasan. Kirno menyentuh punggung tangan Imas—ringan, sopan—sekadar menegaskan bahwa ia ada. Imas tak menarik diri. Ia tersenyum, dan senyum itu menyimpan cerita tentang rindu yang telah menemukan tempat beristirahat.

“Pelan,” ucap Imas, nyaris berbisik.

Kirno mengangguk. Ia paham: pelan adalah cara mereka menjaga. Pelan agar tak kehilangan, pelan agar rasa tumbuh utuh. Mereka saling mendekat dalam batas yang disepakati, menikmati keheningan yang tak canggung. Ada keintiman yang lahir dari kepercayaan—bukan dari tuntutan.

Hujan berhenti. Malam tetap tinggal. Mereka berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu kembali duduk—tak ingin cepat usai. Di antara Tanjungwangi dan Pandeglang, di antara hari-hari yang pernah berjauhan, mereka belajar satu hal: cinta dewasa tak perlu gaduh. Ia hadir sebagai ketenangan yang memilih tinggal.

Ketika akhirnya Kirno pamit, Imas menatap punggungnya dengan perasaan cukup. Rindu tak lagi mendesak; ia menjadi janji yang lembut. Malam itu, waktu seolah mengangguk—memberi restu pada dua hati yang memilih menjaga.

Dan di beranda yang sama, Imas tahu: rindu telah belajar menyentuh waktu—pelan, hangat, dan setia.