Ketika Kematian Menyelesaikan Perpisahan
Tidak semua luka datang dengan suara.
Sebagian hadir diam-diam, menyusup di antara hari yang tampak biasa, lalu menetap selamanya.
Ada pagi-pagi tertentu yang terasa lebih berat dari biasanya, meski matahari tetap terbit dan dunia berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Udara terasa asing, napas lebih pendek, dan hati seolah tahu bahwa sesuatu telah berubah—meski akal belum sempat memahami apa. Pada saat-saat seperti itulah, kehilangan mulai bekerja, perlahan dan kejam.
Imas Jamilah belum tahu bahwa hari itu akan menjadi batas. Batas antara sebelum dan sesudah. Antara rindu yang masih punya harapan, dan rindu yang tidak lagi memiliki alamat. Ia belum tahu bahwa beberapa cerita tidak menunggu kita siap untuk berakhir. Bahwa ada perpisahan yang tidak memberi kesempatan untuk kembali, apalagi memperbaiki.
Pagi itu berjalan biasa—terlalu biasa. Hingga ponsel di meja bergetar pendek. Getaran kecil yang memutus ketenangan Imas menjadi serpihan-serpihan halus. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tak ia simpan.
“Mbak Imas… Mas Kirno meninggal dunia subuh tadi.”
Kalimat itu dingin. Pasti. Tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Imas membacanya berulang kali, seolah huruf-huruf itu akan berubah jika ditatap cukup lama. Tapi tidak. Kata meninggal dunia tetap di sana—mengunci udara di dadanya.
Tubuhnya melemah. Ia duduk perlahan di lantai, punggung bersandar pada dinding. Tidak ada jerit, tidak ada tangis yang pecah. Hanya hampa yang mengalir, pelan namun kejam, memenuhi rongga dada sampai napasnya terputus-putus.
“Tidak,” bisiknya.
“Tidak mungkin… kita baru saja berpisah.”
Di situlah rasa paling menyakitkan itu datang—menyadarkan bahwa perpisahan bukanlah luka terburuk. Perpisahan hanya latihan. Kehilangan adalah ujian yang sesungguhnya.
Imas teringat pertemuan terakhir mereka: tatapan Kirno yang lelah, kata-kata yang belum sempat diselesaikan, pelukan yang tidak pernah terjadi. Ia menyadari dengan ngeri bahwa ia tidak pernah benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Cintanya masih bernapas, sementara Kirno telah berhenti.
Pemakaman berlangsung sederhana. Tanah merah masih basah ketika peti itu diturunkan. Imas berdiri di antara pelayat—tubuhnya hadir, tetapi jiwanya tertinggal jauh. Ketika tanah terakhir dijatuhkan, sesuatu di dalam dirinya runtuh tanpa suara.
Ia berlutut. Jemarinya menggenggam tanah basah itu erat-erat, seolah bisa menarik Kirno kembali. Air mata akhirnya tumpah—deras, tak terkendali, membawa penyesalan yang tak punya pintu pulang.
“Mas…” suaranya pecah.
“Aku belum siap kehilangan kamu. Aku bahkan belum selesai mencintai kamu.”
Hujan turun perlahan, seperti ikut berduka. Rambut dan bajunya basah, tapi Imas tidak peduli. Ia membiarkan hujan dan air mata bercampur—keduanya sama dingin, sama tak bisa dihentikan.
Malamnya, Imas kembali ke kamar yang terasa terlalu sunyi. Ia duduk di tepi ranjang—tempat rindu pernah berharap. Tangannya meraih ponsel, refleks, lalu berhenti. Tidak ada lagi nomor yang bisa dihubungi. Tidak ada lagi suara yang akan menjawab.
Yang tersisa hanyalah kenangan yang kini berubah menjadi hukuman.
Sejak hari itu, Imas tidak lagi takut ditinggalkan. Ia tahu ada luka yang lebih kejam daripada ditinggalkan: ditinggalkan oleh kematian, saat cinta masih utuh dan belum selesai. Kirno tidak pergi membawa kebencian; ia pergi membawa separuh hidup Imas—dan meninggalkan sisanya untuk belajar bertahan.
Dan setiap kali hujan turun, Imas Jamilah tahu: beberapa cinta tidak pernah benar-benar berakhir. Mereka hanya berubah menjadi duka yang harus dipeluk seumur hidup.













