KADIN DIY Pariwisata, Launching Rumah Sasak Gunung Ireng, Jadi Ikon Mengejar Fajar.

Kefaspelita
IMG 20221014 WA0020
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

YOGYAKARTA – KADIN Daerah Istimewa Yogyakarta Bidang Pariwisata, berkolaborasi dengan Forum Mebel Kerajinan dan Seni (FORMEKERS) Indonesia, Pegiat Pariwisata, LPPM ISI Yogyakarta, Lurah Pengkok, Patuk, Gunung Kidul dan Kelompok Sadar Wisata Gunung Ireng melaunching bangunan Rumah Sasak baru sebagai Ikon Mengejar Fajar di Obyek Wisata Puncak Gunung Ireng, Dusun Srumbung, Pengkok, Patuk Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta , Kamis, (13/10/2022)

Prosesi peresmian Rumah Sasak Gunung Ireng ini diawali tasyakuran dan pengajian bersama sekitar 50 warga masyarakat padukuhan Srumbung, dipimpin oleh ustad Triyono Hari Kuncoro, diakhiri dengan kembul atau makan bersama kuliner khas pedesaan yaitu Nasi Uduk dengan Ingkung ayam yang beralaskan daun jati.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Ustad Kuncoro memimpin doa dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan pengguntingan pita, peresmian Rumah Sasak yang dilakukan oleh Ir. M. Arif Effendi selaku Wakil Ketua Umum KADIN DIY Bidang Pariwisata bersama Itock Van Diera Pegiat Pariwisata, Sugit Lurah Pengkok, Agung Wicaksono dari LPPM ISI Yogyakarta, Rahmad Soemardi dari Formekers Indonesia dan disaksikan anggota pokdarwis serta warga sekitar.

Wakil Ketua Umum KADIN DIY Bidang Pariwisata, Ir. M. Arif Effendi menjelaskan, bahwa KADIN DIY Bidang Pariwisata mengucapkan terimakasih atas dukungan dan kolaborasi yang terjalin baik dan harmonis dari banyak pihak dalam mengangkat obyek wisata Gunung Ireng, agar dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas dan juga masyarakat internasional.

Waktu pukul 5 pagi, disini seperti negeri diatas awan dan rumah sasak ini menjadi ikon dalam mengejar fajar atau sunrise para wisatawan yang berkunjung, kita juga bisa lihat bintang – bintang yang bertaburan dengan jelas saat malam hari bila cuaca cerah, ujar Arif Efendy.

Harapan saya Gunung Ireng akan semakin cantik, berhias dan semakin tertata, masyarakat bisa sama – sama peduli dengan obyek wisata ini untuk memajukannya, sehingga bisa memberi dampak ekonomi yang luas, tuturnya.

Sementara itu Agung Wicaksono dari LPPM ISI Yogyakarta mengatakan, peran akademisi atau kampus sangat penting dalam hal penelitian dan pengabdian masyarakat , khususnya dalam hal peningkatan kapasitas SDM, kajian – kajian pengembangan destinasi wisata, kolaborasi antara pelaku dengan pengabdian masyarakat.

Kerjasama masyarakat dengan pihak lain, penguatan kelembagaan pokdarwis dan peran dari pemerintah desa serta masyarakatnya harus ditingkatkan terus, karena dalam wisata itu ada tiga pilar yaitu akses, infrastruktur dan atraksi, ujarnya.

Agung juga menuturkan, bahwa ISI Yogyakarta sudah melakukan pengabdian masyarakat sebanyak dua kali yaitu membantu pengembangan seni tari wong ireng, tarian khas gunung ireng, pengembangan pemberdayaan wilayah seni selama satu bulan khususnya di seni pertunjukan karawitan dan tarian serta pengembangan embrio industri kerajinan batik.

Awalnya Gunung Ireng ini adalah wisata alam lalu muncul wisata forografi, terus wisata yang berbasis pengetahuan dan pengalaman wisatawan, hingga akhirnya muncul sumber daya alam dan sumber daya manusia yang bisa dikembangkan untuk menunjang nilai ekonomi yaitu kerajinan bambu, kayu, batik dan kulinernya, tutur Agung.

Dalam rangka memberdayakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah obyek wisata Gunung Ireng, Sugit selaku Lurah Pengkok mengucapkan terimakasih kepada KADIN DIY Bidang Pariwisata, FORMEKERS INDONESIA dan Juga ISI Jogja yang sudah berkenan hadir dalam acara kegiatan mandiri peresmian Rumah Sasak sebagai Ikon Obyek Wisata Gunung Ireng.

Formekers Indonesia tahun lalu juga sudah membantu pompa air untuk pengairan di wilayah Gunung Ireng dan sampai saat ini bisa mengairi sekitar 60 kepala keluarga dengan lancar, ungkap Sugit.

Lebih lanjut ,Lurah Pengkok menjelaskan, mengapa diberi nama dan arti dari Rumah Sasak ini, karena bahan baku pembuatannya memang kita manfaatkan dari limbah kayu atau sasak, imbuhnya.

Sugit jug menyampaikan, bahwa saat ini pokdarwis dan masyarakat sedang berkolaborasi bersama Formekers Indonesia dan ISI Jogja dalam hal pengembangan kerajinan batik, ecoprint dan juga empon – empon khususnya tanaman jahe untuk oleh – oleh khas Gunung Ireng. (Ome)