Pelitanusantara.com Rian dan Siti tiba di Semarang sore hari. Langit sudah mulai gelap, tapi lampu Natal di sepanjang jalan raya menyala-warni – membuat dia teringat hari 3 tahun lalu ketika dia tiba terlalu terlambat. Mereka langsung menuju kuburan ibunya di pemakaman yang sunyi, jauh dari keramaian kota.
Di depan kuburan yang ditutupi rumput dan bunga melati yang masih segar (kemungkinan tetangga yang tanamkan), Rian duduk pelan. Dia membuka amplop putih yang sudah aus, mengambil lembar kertas di dalamnya. Angin sepoi-sepoi bertiup, membatuk-batuk tulisan ibunya.
“Saya akan baca ini untukmu, Bu,” ujarnya pelan, matanya terjatuh pada kata-kata yang dia baca pertama kali pagi itu. Tapi saat dia mulai membaca, dia melihat ada tulisan kecil di bagian bawah lembar kertas – tulisan yang dia tidak perhatikan sebelumnya: “Nak, jika kamu membaca ini setelah ibunda pergi, jangan lupa cek laci bawah meja tamu di rumah. Ada sesuatu yang ibunda simpan untukmu – sesuatu yang akan membuatmu memahami makna Natal lebih jelas.”
Rian terkejut. Selama 3 tahun, dia tidak pernah kembali ke rumah tua ibunya – takut akan kenangan yang menyakitkan. Tapi hari ini, dia merasa dorongan untuk pergi.
Mereka tiba di rumah tua yang berdinding bata, lantai keramik yang sudah aus. Lalu, dia mendekati meja tamu yang sama seperti dulu, membuka laci bawahnya. Di dalamnya, ada sebuah buku Alkitab yang sudah sangat tua, kulitnya mengelupas. Dia membukanya – dan di dalamnya, ada kumpulan surat-surat yang dia kirimkan ke ibunya ketika dia masih kuliah di Jakarta.
Dia membaca salah satu surat: “Bu, hari ini di kampus ada acara Natal. Saya membantu mengorganisir acara untuk mahasiswa yang tidak bisa pulang. Saya ingat kata Bu: Natal itu tentang berbagi. Saya merasa senang, Bu.” Di samping surat itu, ibunya menulis catatan dengan pena: “Nak, ini dia makna Natal yang ibunda maksud – kamu sudah memahaminya jauh sebelum ibunda tulis catatan itu. Kamu bukan hanya menyebarkan cahaya, tapi sudah menjadi cahaya itu sendiri.”
Rian merasa air mata kembali turun – tapi kali ini, bukan air mata sedih, tapi syukur. Dia membaca surat lainnya: “Bu, saya ragu mau kerja di media besar. Mereka mau saya tulis berita yang tidak jujur. Saya takut gagal.” Ibunya menulis: “Nak, ikutilah hati mu. Kegagalan itu hanya ketika kamu melupakan apa yang benar. Tuhan akan membimbingmu, selalu.”
Saat dia membaca satu per satu surat dan catatan ibunya, dia menyadari sesuatu yang dia lewatkan selama 3 tahun: ibunya tidak pernah merasa dia gagal. Sebaliknya, ibunya selalu bangga pada dia – pada cara dia hidupkan makna Natal di setiap hari kehidupannya.
Tiba-tiba, pintu rumah bunyi. Masuk seorang nenek yang sudah tua – tetangga ibunya yang namanya Bu Aminah. “Rian? Kamu pulang?” tanyanya dengan senyum. “Ibunda selalu menceritakan tentangmu di setiap Natal. Dia bilang, ‘Rian itu anak yang baik, dia membawa harapan ke orang lain’. Hari ini, saya bawa kue Natal yang ibunda suka – mau makan bareng?”
Rian tersenyum lebar. Dia melihat Siti, melihat buku Alkitab di tangannya, melihat kuburan ibunya yang jauh di pemakaman. Dia memahami sekarang: makna Natal yang dia cari di bayangan ibunya ternyata sudah ada di dirinya sendiri – dalam setiap cerita yang dia tulis, dalam setiap orang yang dia bantu, dalam setiap langkah yang dia lalui.
Malam itu, mereka makan kue Natal bersama Bu Aminah di rumah tua ibunya. Di luar, lampu Natal menyala terang, dan bintang di langit terlihat jelas – seolah-olah ibunya sedang menyinarinya. Rian membuka laptopnya, mulai menulis cerita baru – bukan cerita tentang duka, tapi tentang harapan yang tumbuh dari kenangan:
“Hari ini, saya menemukan makna Natal yang tersembunyi di buku tua. Ibunda tidak pernah tinggalkan saya – dia selalu ada di setiap kata yang saya tulis, di setiap cinta yang saya berikan. Seperti yang tertulis di Matius 5:16: ‘Jadi biarkan terangmu bersinar di depan orang, sehingga mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapa mu yang di sorga’ – ini adalah makna Natal yang ibunda ajarkan, dan yang akan saya terus sampaikan, tidak hanya di Natal, tapi setiap hari.”
Ketika dia menekan “publish”, sinar lampu Natal di rumah menyinari layar laptopnya. Dia merasa ibunya ada di sana – bukan di bayangan, tapi di hati dan dalam setiap cerita yang dia ceritakan.
By Romo Kefas













