Tri Adhianto Mulai Benahi Titik-Titik Semrawut Kota Bekasi, Pasar Pondok Gede dan Pasar Baru Jadi Prioritas

IMG 20260622 WA0159
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Tri Adhianto Mulai Benahi Titik-Titik Semrawut Kota Bekasi, Pasar Pondok Gede dan Pasar Baru Jadi Prioritas

KOTA BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi mulai memfokuskan perhatian pada sejumlah kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber keluhan masyarakat. Dari persoalan kemacetan, trotoar yang kehilangan fungsi, hingga kawasan perdagangan yang tumbuh tanpa penataan optimal, semuanya kini masuk dalam agenda pembenahan yang dijalankan di era kepemimpinan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Dua kawasan yang menjadi prioritas saat ini adalah Pasar Pondok Gede dan Pasar Baru Bekasi. Keduanya memiliki karakter yang hampir serupa, yakni menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus menghadapi persoalan klasik perkotaan yang belum terselesaikan selama bertahun-tahun.

Bagi masyarakat Bekasi, kondisi tersebut bukan hal baru. Kepadatan pedagang di ruang publik, saluran air yang kurang terawat, serta akses pejalan kaki yang terbatas telah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun pemerintah menilai kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan terus berlangsung jika Kota Bekasi ingin berkembang sebagai kota modern yang nyaman bagi warganya.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan bahwa penataan kawasan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan sesaat. Dibutuhkan proses panjang yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pedagang, pengelola pasar, aparatur wilayah, hingga masyarakat yang sehari-hari menggunakan kawasan tersebut.

Menurutnya, tujuan utama pembenahan bukan sekadar menciptakan kawasan yang terlihat rapi, tetapi menghadirkan solusi terhadap persoalan yang selama ini berulang tanpa penyelesaian yang jelas.

“Yang ingin kita bangun adalah perubahan yang berkelanjutan. Persoalan yang sudah berlangsung bertahun-tahun harus diselesaikan dengan langkah yang terukur dan tidak hanya bersifat sementara,” ujarnya.

Di kawasan Pasar Baru, pemerintah melakukan penataan aktivitas perdagangan dengan menempatkan pedagang pada lokasi yang telah disediakan. Sementara di Pondok Gede, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan ketertiban kawasan dan mengoptimalkan fungsi fasilitas umum yang selama ini kurang maksimal.

Tidak hanya itu, pembenahan juga menyentuh aspek infrastruktur. Pemerintah melakukan perbaikan drainase, peningkatan penerangan jalan, pembangunan jalur pedestrian, serta penataan lingkungan sekitar pasar guna menciptakan kawasan yang lebih nyaman dan aman.

Pengamat tata kota menilai bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari proses transformasi ruang publik yang memang dibutuhkan oleh kota-kota penyangga metropolitan seperti Bekasi. Pertumbuhan ekonomi yang cepat harus diimbangi dengan pengelolaan ruang yang baik agar tidak menimbulkan persoalan sosial dan lingkungan di kemudian hari.

Meski demikian, tantangan terbesar bukan terletak pada pembangunan fisik, melainkan menjaga konsistensi setelah penataan selesai dilakukan. Tanpa pengawasan dan komitmen bersama, kawasan yang telah ditata berpotensi kembali menghadapi persoalan yang sama seperti sebelumnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Bekasi menegaskan bahwa pembenahan kawasan perdagangan akan terus dilakukan secara bertahap. Pasar Pondok Gede dan Pasar Baru hanyalah awal dari agenda yang lebih besar untuk memperbaiki kualitas ruang kota sekaligus meningkatkan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Bagi warga Bekasi, keberhasilan program ini nantinya akan diukur bukan dari banyaknya proyek yang dibangun, melainkan dari perubahan nyata yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika trotoar kembali dapat digunakan, kemacetan berkurang, lingkungan menjadi lebih tertata, dan aktivitas ekonomi tetap tumbuh, saat itulah tujuan penataan benar-benar tercapai.

(Romo Kefas)