Pelitanusantara.com Mahisa Anabrang, juga dikenal sebagai Kebo Anabrang dan Lembu Anabrang, adalah seorang senapati Kerajaan Singasari yang diutus untuk menjalin persahabatan dengan Kerajaan Malayapura dalam Ekspedisi Pamalayu. Pada tahun 1288, Mahisa Anabrang berhasil menaklukkan seluruh wilayah Melayu, termasuk Jambi dan Palembang.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Mahisa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Kertanegara, raja yang mengutusnya. Namun, saat tiba di Jawa, ia mendapati bahwa Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah runtuh akibat serangan Jayakatwang dari Kediri.
Jayakatwang sendiri kemudian tewas dibunuh pasukan Mongol, yang kemudian diserang oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai lanjutan dari Kerajaan Singhasari. Dara Petak, adik Dara Jingga, kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya dan melahirkan Kalagemet atau Sri Jayanegara, raja Majapahit kedua.
Dengan demikian, Jayanegara raja Majapahit kedua yang memiliki darah Melayu merupakan keponakan Mahisa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung. Mahisa Anabrang sendiri memiliki peran penting dalam politik Majapahit, termasuk dalam penumpasan pemberontakan Ranggalawe. Namun, ia gugur dalam tugas di tangan Lembu Sora.
Dari pernikahannya dengan Dara Jingga, Mahisa Anabrang menurut Babad Arya Tabanan memiliki enam putra, yaitu: Arya Cakradara, Arya Dhamar, Arya Kenceng, Arya Kutawandira, Arya Sentong, dan Arya Belog. Mereka kemudian bergabung dengan Gajah Mada dalam perang penaklukan Bali (Bedahulu) sekitar tahun 1340. [*]













