PELITANUSANTARA.COM: Tangerang Selatan, 20 Juni 2026 – Di tengah perubahan global yang bergerak sangat cepat, perguruan tinggi Islam menghadapi tantangan baru yang tidak ringan. Kompetisi internasional, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, perubahan geopolitik, hingga transformasi ekonomi dunia menuntut kampus untuk bergerak lebih adaptif, terbuka, dan memiliki pandangan jauh ke depan.
Menurut Prof. Dr. Muhammad, M.Ag., perguruan tinggi Islam tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan tersebut. Kampus harus hadir sebagai pusat penghasil ilmu pengetahuan, ruang dialog antarperadaban, sekaligus penggerak perubahan bagi masyarakat. Dalam pandangan ini, beliau melihat IAIN Pontianak memiliki peluang sangat strategis untuk tumbuh menjadi pusat studi Islam yang terkemuka di kawasan Borneo dan Asia Tenggara.
Posisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia serta berdekatan dengan Brunei Darussalam dipandang bukan sekadar batas wilayah administratif, melainkan kekuatan geopolitik dan aset akademik yang harus dikembangkan secara visioner. Oleh karena itu, Prof. Muhammad menawarkan arah pengembangan kampus yang lebih terbuka terhadap jejaring internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Bagi beliau, internasionalisasi kampus bukan sekadar memperbanyak perjanjian kerja sama, melainkan membangun ekosistem akademik yang mampu berkolaborasi secara global. Hal ini diwujudkan melalui peningkatan kualitas riset, publikasi ilmiah, serta memperluas pengaruh pemikiran di tingkat regional. Langkah nyata yang didorong meliputi kerja sama penelitian bersama, penerbitan karya ilmiah, pertukaran mahasiswa dan pengajar, penyelenggaraan konferensi internasional, hingga pembangunan pusat kajian khusus kawasan Borneo dan wilayah perbatasan ASEAN.
Keunggulan Nilai Lokal sebagai Kekuatan Global
Keistimewaan utama yang dimiliki IAIN Pontianak, menurut Prof. Muhammad, adalah kekayaan khas yang tidak dimiliki banyak kampus lain: warisan budaya Borneo, kehidupan masyarakat yang majemuk, tradisi hidup rukun, serta corak Islam moderat yang tumbuh subur di tanah Kalimantan Barat.
Nilai-nilai sosial ini menjadi modal yang sangat berharga di tengah dunia yang kini dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari konflik identitas, perpecahan sosial, ketidaktoleranan, hingga krisis kemanusiaan. Atas dasar itu, cita-cita yang dibangun adalah menjadikan IAIN Pontianak tidak hanya sebagai pusat pengkajian ajaran Islam, tetapi juga pusat dialog peradaban dan laboratorium pengamalan moderasi beragama di kawasan Borneo.
Nilai budaya lokal seperti filosofi Rumah Betang yang mengajarkan hidup bersama dalam keberagaman, maupun tradisi Besaprah dalam budaya Melayu yang mencerminkan kesetaraan dan saling menghormati, diangkat menjadi bagian penting dari identitas kampus. Nilai-nilai ini dipadukan dengan semangat Islam Rahmatan lil ‘Alamin (penuh kasih sayang bagi seluruh alam), membentuk fondasi pendidikan yang inklusif dan berkeadaban.
Menuju Kampus Cerdas dan Beradab
Selain memperkuat jejaring dan nilai budaya, transformasi digital serta pembaruan sistem pendidikan juga menjadi perhatian utama. Generasi masa kini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dari sebelumnya; sehingga kampus harus menghadirkan pembelajaran yang kreatif, adaptif, berbasis teknologi, namun tetap berpegang teguh pada nilai moral dan spiritual.
Melalui konsep Kampus Islam Cerdas 5.0, dikembangkan berbagai layanan seperti penasihat akademik berbasis kecerdasan buatan, perpustakaan digital, sistem tata kelola elektronik, hingga pengintegrasian seluruh layanan akademik secara digital. Tujuannya adalah menciptakan budaya akademik yang efisien, inovatif, dan mudah diakses.
Namun, di tengah pesatnya kemajuan teknologi ini, Prof. Muhammad menegaskan satu hal mendasar: inti dari perguruan tinggi tetaplah manusia. Kemajuan tidak cukup hanya dibangun melalui gedung megah atau sistem canggih, melainkan harus didukung oleh integritas pribadi, budaya akademik yang sehat, kepemimpinan yang baik, serta kemampuan untuk menjaga harapan bersama. Kampus harus menjadi rumah intelektual yang aman, nyaman, dan memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap warga kampus untuk berkembang.
Visi Transformasi: Unggul, Inklusif, Berintegritas
Pandangan-pandangan tersebut disusun menjadi kerangka besar visi pengembangan IAIN Pontianak untuk periode 2026–2030, dengan tujuan akhir transformasi menjadi Universitas Islam Negeri Kalimantan Barat. Bagi beliau, perubahan status ini bukan sekadar penggantian nama, melainkan gerakan besar menuju kemajuan.
Visi yang ditetapkan adalah:
“Mewujudkan Universitas Islam Negeri Kalimantan Barat yang Unggul, Inklusif, Berintegritas, Berbasis Peradaban Islam dan Kearifan Budaya Borneo, serta Ber-Rekognisi Internasional.”
Untuk mewujudkannya, pengembangan kajian akademik diarahkan pada kekhasan wilayah, seperti kajian Peradaban Perbatasan, Teologi Ekologis Borneo, Pengetahuan Asli, Peradaban Hutan, hingga Ekonomi Halal di wilayah perbatasan. Tujuannya agar kampus menjadi pusat yang tidak hanya mengajar, tetapi juga melahirkan gagasan strategis yang bermanfaat bagi pembangunan daerah, bangsa, dan dunia.
Pada akhirnya, bagi Prof. Dr. Muhammad, pendidikan tinggi Islam memikul tanggung jawab besar dalam menjaga masa depan peradaban. Seluruh gagasan, pengalaman, dan pengabdiannya bermuara pada satu keyakinan sederhana namun mendalam: Ilmu pengetahuan harus hadir untuk membangun manusia, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan harapan bagi masa depan bersama.
HERU













