BERHENTI BERMAIN JADI TUHAN! KEADILAN BUKAN DI TANGANMU

File 000000002ac071faac9d67911c160a36
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com

Tanggal: 26 Maret 2026
Bacaan: Roma 12:17–18

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan… sedapat-dapatnya, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”

Ada satu kecenderungan yang sering tidak disadari orang percaya:
kita ingin Tuhan adil—tetapi dengan cara kita.

Kita berdoa minta pembelaan,
tetapi diam-diam kita sudah menyiapkan balasan.

Kita berkata percaya Tuhan,
tetapi tetap ingin “mengurus sendiri” orang yang menyakiti kita.

Dan di sinilah masalahnya:
kita tidak hanya terluka—kita juga sedang mengambil alih peran Tuhan.

Mari jujur.

Ketika kita membalas kejahatan, kita sedang mengatakan:
“Tuhan, Engkau terlalu lambat. Biar saya saja yang menyelesaikan ini.”

Itu bukan sekadar emosi.
Itu adalah pernyataan teologis yang keliru.

Alkitab dengan tegas menolak pola ini:
“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan…”

Mengapa?

Karena keadilan adalah hak Allah, bukan manusia.

Dalam kearifan Jawa dikatakan:
“Sopo sing nandur bakal ngundhuh.”
(Siapa yang menanam, dia yang akan menuai.)

Artinya, setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Kita tidak perlu mengambil alih peran Tuhan untuk “membalas,” karena hukum tabur-tuai tetap berjalan.

Masalah terbesar kita bukan karena Tuhan tidak adil,
tetapi karena kita tidak sabar.

Kita ingin:

  • Tuhan langsung membalas
  • Tuhan langsung membuka kebenaran
  • Tuhan langsung memulihkan keadaan

Namun Allah tidak bekerja berdasarkan tekanan emosi manusia.

Dia bekerja berdasarkan kebenaran, waktu, dan tujuan kekal.

Roma 12 bukan hanya melarang balas dendam,
tetapi mengarahkan kita kepada satu sikap radikal:
hidup dalam damai sejauh itu bergantung pada kita.

Dalam budaya Jawa juga dikenal prinsip:
“Alon-alon waton kelakon.”
(Perlahan-lahan asal terlaksana.)

Ini mengajarkan bahwa proses tidak selalu instan, tetapi pasti menuju hasil. Demikian pula keadilan Tuhan—tidak selalu cepat, tetapi selalu tepat.

Banyak orang berpikir membalas adalah bentuk ketegasan.

Padahal secara rohani, itu adalah tanda kehilangan kendali.

Mengapa?

Karena Anda sedang bereaksi, bukan memimpin diri.
Anda sedang dikendalikan oleh luka, bukan oleh kebenaran.

Lebih dalam lagi:
Anda sedang memberikan otoritas atas emosi Anda kepada orang yang menyakiti Anda.

Orang Jawa berkata:
“Menang tanpa ngasorake.”
(Menang tanpa merendahkan.)

Inilah prinsip rohani yang sejati—kemenangan tidak harus melalui balasan, tetapi melalui penguasaan diri dan kebenaran hidup.

Jika ada satu pribadi yang paling berhak membalas, itu adalah Yesus.

Dia difitnah, disiksa, disalibkan.
Namun Dia tidak membalas.

Bukan karena Dia tidak mampu.
Tetapi karena Dia memilih tunduk pada kehendak Bapa.

Ini bukan etika biasa.
Ini adalah inti Injil.

Keselamatan kita lahir bukan dari balasan, tetapi dari pengorbanan.

Mengapa kita sulit tidak membalas?

Karena kita ingin:

  • terlihat benar
  • dipulihkan nama baik
  • dihargai kembali

Namun iman Kristen tidak dibangun di atas kebutuhan untuk terlihat benar,
melainkan pada kepercayaan bahwa Tuhan tahu kebenaran.

Dan itu cukup.

Kedewasaan rohani bukan terlihat saat Anda menang debat,
tetapi saat Anda memilih diam ketika diserang.

Bukan saat Anda membalas dengan kata-kata tajam,
tetapi saat Anda tetap hidup benar tanpa perlu membalas.

Orang Jawa mengingatkan:
“Ngono yo ngono, nanging ojo ngono.”
(Begitu ya begitu, tapi jangan begitu juga.)

Artinya, ada batas dalam bersikap. Emosi boleh ada, tetapi jangan sampai melampaui kebenaran.

Selama Anda masih merasa harus membalas, itu berarti Anda belum sepenuhnya percaya bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil.

Berhenti mengambil alih peran Tuhan.

Anda tidak dipanggil untuk membalas.
Anda dipanggil untuk percaya.

Serahkan semua kepada-Nya.

Karena ketika Tuhan yang membela,
Dia tidak hanya memulihkan keadaan—
Dia juga memulihkan hati Anda.


KEADILAN SEJATI TIDAK LAHIR DARI BALASAN MANUSIA,
TETAPI DARI TANGAN TUHAN YANG BERDAULAT.


Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI