Masyarakat Diimbau Waspadai Informasi Hoaks Terkait Vaksin Covid-19

WhatsApp Image 2021 01 12 at 07 58
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Lumajang,Pelitanusantara.com Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang dr. Bayu Wibowo Ignasius mengimbau kepada masyarakat, agar tidak mudah terpengaruh terhadap informasi hoaks terkait vaksin Covid-19 yang marak beredar di media sosial.

Faktanya, vaksin itu sendiri diklaim telah melalui uji klinis satu sampai tiga kali. Bahkan di beberapa negara, vaksin tersebut juga sudah mulai digunakan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

“Kita harus percaya, vaksinasi Covid-19 ini sudah mendunia, dunia sudah ikut mengamati, ikut meneliti dan menggunakan ramai-ramai,” katanya, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Selasa (12/1/2021).

Setelah dihebohkannya masyarakat terkait video imunisasi yang beredar di media sosial, dr. Bayu meluruskan, bahwa video itu merupakan imunisasi difteri. Di mana, vaksin yang diberikan untuk melawan Corynebacterium diphtheriae, yaitu bakteri yang menyebabkan penyakit difteri.

“Itu adalah imunisasi difteri, namanya ORI, reaksi semacam itu bersifat personal, artinya bisa saja anak bersangkutan takut saat diimunisasi, akhirnya timbul gejala pusing, mual dan lemas, dan itu saya fikir bukan gejala yang umum dan sangat personal,” jelasnya.

Sementara untuk vaksin Covid-19, dikatakan dr. Bayu nantinya memiliki efek samping kategori ringan hingga sedang. “Jadi ada efek samping, cuma efek samping itu adalah efek samping lokal, seperti nyeri. Kemudian efek sistemik, itu sedikit meriang, tapi yang paling besar adalah meriang, jadi ini memang sama seperti vaksinasi yang lain,” terangnya.

Oleh karena itu, dirinya mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh berita-berita hoaks yang beredar di media sosial.

“Masyarakat harus faham, mana itu berita benar maupun hoaks, mohon bisa lebih cerdas dalam menerima informasi, jadi yang ditampilkan, apabila orang yang mendapatkan imunisasi kemudian mengalami gejala yang tidak diinginkan, itu mungkin terlalu dibesar-besarkan,” pungkasnya.(PN)