Pelitanusantara
Saat badai mencabik sukma, hatiku luruh bagai senja,
“Mengapa, Tuhan? Mengapa air mata tak kunjung reda?”
Namun sentuhan-Mu hadir, bagai bisikan angin sepoi,
“Aku adalah pelukmu, jangan biarkan mimpi terkoyak sepi.”
Hidupku sungai berkelok, mengalir antara suka dan lara,
Kadang riang bagai tawa, sering kali sunyi merana.
Namun ku dayung perahu harap, menyusuri takdir yang ada,
Menuju muara kedamaian, di mana cinta abadi bertahta.
Kurelakan diri menjadi pelita, walau redup diterpa badai,
Menyebarkan kehangatan kasih, di tengah malam yang sunyi sepi.
Meski perih menggores, takkan padam nyala jiwaku,
Karena itulah takdirku, menjadi penuntun bagi yang pilu.
Ujian datang bagai ombak besar, menghempas biduk impian,
Namun ku berpegang teguh pada janji-Mu, sebagai pedoman.
Bak elang perkasa, ku kepakkan sayap melawan badai,
Kemenangan kuraih, dengan kekuatan yang tak terhingga nilai.
Dalam kawah penderitaan, jiwaku ditempa menjadi mutiara,
Seperti bintang yang bersinar, setelah melewati malam gulita.
Setiap goresan takdir, ku rajut menjadi permadani,
Karena ku sadari, hidupku adalah anugerah Illahi.
Ku terus berdansa di atas bara, di tengah pusaran badai,
Iman adalah perisaiku, kasih adalah kompas sejati.
Ku yakini, setelah badai reda, mentari kan bersinar kembali,
Dan setelah air mata kering, kebahagiaan kan menyelimuti hati.
Tujuan hidupku, menyelami samudra cinta-Mu yang tanpa batas,
Menjadi insan kamil, yang memancarkan cahaya tanpa bekas.
Ku tantang takdir, dengan semangat membara dalam jiwa,
Karena ku tahu, aku terlahir untuk menaklukkan, segala nestapa yang ada.
Romo Kefas













