Pelitanusantara – Bayangkan sebuah kerajaan yang lahir dari puing-puing kemegahan Majapahit, dengan ambisi membara untuk menyatukan seluruh Jawa di bawah satu panji. Inilah Kasultanan Mataram, kekuatan militer terbesar di Nusantara pada abad ke-16 dan 17. Di bawah kepemimpinan visioner Sultan Agung (1613-1645), Mataram menjelma menjadi mesin perang yang tak tertandingi, melancarkan serangkaian kampanye militer epik yang mengguncang seluruh kepulauan.
Setelah keruntuhan Majapahit pada tahun 1527, Jawa terpecah belah menjadi kadipaten-kadipaten kecil yang saling berseteru. Di tengah kekacauan ini, Mataram muncul sebagai kekuatan baru yang menjanjikan persatuan. Didirikan pada tahun 1586, Mataram memiliki visi yang jelas: menyatukan seluruh Jawa di bawah satu pemerintahan yang kuat.
Ambisi ini mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Sultan Agung, seorang pemimpin karismatik yang memiliki visi geopolitik yang luas. Dengan dukungan militer yang solid dan strategi yang brilian, Sultan Agung melancarkan serangkaian kampanye militer yang bertujuan untuk menaklukkan seluruh Jawa dan memperluas pengaruh Mataram ke seluruh Nusantara.
Berikut adalah beberapa kampanye militer utama yang dilakukan oleh Kasultanan Mataram, yang menunjukkan skala kekuatan militer dan ambisi ekspansionis mereka:
1. Kampanye Lasem-Pati (1615): Dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dan Adipati Pragola, kampanye ini melibatkan 15.000-20.000 prajurit.
2. Kampanye Madiun-Kediri (1614-1620): Adipati Mandurareja dan Adipati Martasana memimpin ekspedisi ini, dengan kekuatan 10.000-20.000 prajurit per ekspedisi.
3. Kampanye Pasuruan-Malang (1616-1617): Tumenggung Bahureksa dan Adipati Mandurareja kembali memimpin, kali ini dengan 20.000-30.000 prajurit.
4. Kampanye Ponorogo-Ngunut-Trenggalek (1620): Tumenggung Singaranu dan Adipati Mandurareja memimpin 10.000-15.000 prajurit dalam kampanye ini.
5. Kampanye Priangan Barat (1620-1630): Adipati Ukur memimpin 10.000-20.000 prajurit per ekspedisi untuk menaklukkan wilayah Priangan Barat.
6. Kampanye Madura (1624-1625): Sultan Agung sendiri turun tangan memimpin kampanye ini bersama Tumenggung Bahureksa, dengan kekuatan 20.000-30.000 prajurit.
7. Kampanye Giri Kedaton/Gresik (1625): Sultan Agung memimpin langsung kampanye ini, didampingi oleh sejumlah jenderal seperti Tumenggung Bahureksa, Adipati Mandurareja, Tumenggung Singaranu, dan lainnya. Kekuatan pasukan diperkirakan mencapai 70.000-100.000 prajurit (M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1300, 1993).
8. Kampanye Surabaya (1614-1625): Sultan Agung kembali memimpin kampanye ini, dengan dukungan dari Adipati Mandurareja, Adipati Ukur, Tumenggung Bahureksa, dan lainnya. Sumber-sumber Belanda dan Babad Tanah Jawi menyebutkan kekuatan pasukan mencapai lebih dari 100.000 prajurit.
9. Kampanye Batavia/Jayakarta (1628-1629): Kampanye ambisius untuk merebut Batavia dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ini dilakukan dalam dua ekspedisi:
– Ekspedisi 1 (1628): Dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dan Adipati Mandalika, dengan 10.000-15.000 prajurit.
– Ekspedisi 2 (1629): Dipimpin oleh Tumenggung Endranata dan Adipati Mandurareja, dengan 30.000-60.000 prajurit.
Meskipun gagal merebut Batavia, kampanye ini menunjukkan tekad dan kekuatan militer Mataram yang luar biasa. Pengepungan Batavia juga berdampak signifikan bagi VOC, menyebabkan kerugian besar dan bahkan kematian Gubernur Jenderal J.P. Coen akibat penyakit (F. de Haan, Oud Batavia, 1922).
10. Kampanye Blambangan (1635-1639): Dipimpin oleh Adipati Mandurareja dan sejumlah jenderal lainnya, kampanye ini melibatkan 50.000-80.000 prajurit. Meskipun Tawang Alun, pemimpin Blambangan, menyerah pada tahun 1640, wilayah ini kembali memberontak setelah wafatnya Sultan Agung pada tahun 1645.
Wafatnya Sultan Agung pada tahun 1645 menjadi titik balik bagi Kasultanan Mataram. Kegagalan menaklukkan Batavia dan Banten, ditambah dengan konflik internal dan pemberontakan, melemahkan kekuatan Mataram secara signifikan.
Ambisi Sultan Agung untuk memperluas pengaruh Mataram ke seluruh Nusantara pun akhirnya kandas. Mataram gagal menjadikan Banten sebagai pijakan untuk menyeberang ke Sumatra, mempengaruhi Palembang dan Jambi, menghabisi Kesultanan Aceh, menguasai penuh Tanjungpura (Kalimantan), dan menaklukkan Bali.
Meskipun demikian, Kasultanan Mataram tetap menjadi salah satu kerajaan terpenting dalam sejarah Indonesia. Warisan militernya, ambisi politiknya, dan kontribusinya terhadap budaya Jawa terus dikenang hingga saat ini.
Kasultanan Mataram adalah bukti nyata dari kekuatan militer dan ambisi politik yang membara. Meskipun pada akhirnya gagal mencapai semua tujuannya, Mataram tetap menjadi kekuatan dominan di Nusantara pada abad ke-17, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah Indonesia.
Sumber:
– M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c.1300 (Stanford: Stanford University Press, 1993).
– F. de Haan, Oud Batavia (Batavia: G. Kolff & Co., 1922).
– H.J. de Graaf, De Geschiedenis van Indonesië (Bandung: Penerbit ITB, 1985).
– Babad Tanah Jawi (berbagai edisi).
Disadur oleh Kefas Hervin Devananda berdasarkan berbagai sumber
Foto : ilustrasi gambar menggunakan Teknologi AI













