Kutai Barat – Pelita Nusantara Puncak perayaan Dahau ke-26 Kabupaten Kutai Barat berlangsung meriah dan penuh makna. Ketua Panitia Dahau 2025, FX Sumardi, mengungkapkan rasa bangga dan haru atas antusiasme luar biasa masyarakat yang datang dari berbagai penjuru daerah.
“Saya merasa sangat bangga sekaligus terharu. Antusiasme masyarakat sungguh luar biasa. Dari anak-anak hingga orang tua, semua datang dengan semangat kebersamaan. Ini menandakan bahwa masyarakat Kutai Barat memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap budayanya sendiri,” ujar Sumardi penuh rasa syukur saat di wancara media pelita Nusantara Rabu 5/11/2025.
Menurutnya, persiapan Dahau tahun ini dilakukan dengan sangat matang. Selama hampir dua bulan, seluruh pihak terlibat ,mulai dari perangkat daerah, camat, perwakilan kampung, hingga paguyuban etnis — bekerja dengan semangat gotong royong.
“Kami ingin Dahau bukan hanya menjadi acara seremonial, tetapi juga perayaan identitas dan kebersamaan masyarakat Kutai Barat,” tambahnya.
Momen Spektakuler Puncak Dahau
Beberapa kegiatan menjadi sorotan utama, seperti penerbangan paramotor yang membawa bendera ucapan HUT Kutai Barat, tari kolosal dengan 700 penari dari enam suku besar di Kubar, hingga pemecahan rekor MURI dengan 1.000 tudung kepala dari kain khas daerah.
Selain itu, parade budaya dari 16 kecamatan juga memeriahkan acara dengan menampilkan cinderamata khas dan salam hormat kepada Bupati serta Ibu Bupati Kutai Barat.
“Semua itu menggambarkan betapa kayanya budaya kita dan kuatnya rasa persaudaraan di antara masyarakat,” tutur Sumardi.
Harmoni dalam Keberagaman
Mengusung tema “Harmoni Kebersamaan dalam Budaya”, Dahau ke-26 menjadi wujud nyata kehidupan masyarakat Kutai Barat yang hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Lewat Dahau, kita ingin menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama membangun daerah ini,” jelasnya.
Sumardi juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga semangat persatuan.
“Dahau bukan hanya pesta budaya, tetapi pengingat bahwa kemajuan daerah lahir dari persatuan dan gotong royong,” tegasnya.
Pelibatan Generasi Muda dan Dampak Ekonomi
Dahau tahun ini juga melibatkan generasi muda secara luas, mulai dari tari kolosal hingga parade budaya.
“Kami ingin mereka merasa memiliki Dahau, karena merekalah penerus budaya Kutai Barat di masa depan,” ungkapnya.
Tak hanya berdampak pada pelestarian budaya, perayaan ini juga memberikan efek ekonomi yang signifikan.
“Perputaran ekonomi meningkat pesat. Pelaku UMKM, hotel, kuliner, dan kerajinan lokal semua merasakan manfaatnya,” jelas Sumardi.
Harapan dan Inovasi ke Depan
Sumardi berharap agar Dahau terus berkembang dengan inovasi yang tetap berakar pada budaya lokal. Ia menyoroti pentingnya digitalisasi dan dokumentasi budaya agar dapat diakses luas, termasuk dalam promosi pariwisata berbasis konten digital.
“Kami juga akan terus mendorong kolaborasi dengan komunitas kreatif agar Dahau semakin dikenal hingga tingkat nasional,” ujarnya optimis.
Di akhir wawancara, Sumardi
menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat.
“Terima kasih kepada Bapak Bupati dan Ibu Bupati Kutai Barat atas dukungan penuh, kepada seluruh panitia, perangkat daerah, camat, petinggi kampung, paguyuban etnis, pelaku seni, dan masyarakat. Tanpa dukungan mereka semua, Dahau tidak akan semeriah dan seindah ini.”
FX Sumardi menutup dengan pesan penuh makna:
“Mari kita lanjutkan semangat Dahau dalam kehidupan sehari-hari. Gotong royong, toleransi, dan saling menghargai harus terus menjadi ciri khas masyarakat Kutai Barat. Dahau boleh berakhir, tapi semangatnya jangan pernah padam.” (MM)













