Sehati dalam Persekutuan dan Misi Injil
Sapaan Gembala – Pdt. Andy Markus
Kamis, 26 Februari 2026
“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
(Kisah Para Rasul 2:46–47 TB)
Gereja mula-mula hidup dalam satu kekuatan utama: kesehatian. Mereka tidak hanya berkumpul, tetapi membangun kehidupan bersama yang dipenuhi doa, ketekunan, dan tujuan yang sama.
Kesehatian mereka lahir dari kehidupan doa yang dijalani secara terus-menerus. Di dalam doa ada permohonan bersama, ada kerinduan yang sama, dan ada hati yang dipersatukan oleh Roh Kudus. Doa bukan sekadar kegiatan rohani, tetapi telah menjadi gaya hidup.
Kesehatian itu melampaui batas-batas latar belakang, suku, gender, dan perbedaan sosial. Apa yang sebelumnya membatasi relasi manusia, dipatahkan oleh kuasa Injil dan persekutuan yang hidup.
Tantangan Gereja Masa Kini
Budaya gereja masa kini sering kali berbeda dengan jemaat mula-mula. Pada zaman Kisah Para Rasul, persekutuan adalah kebutuhan utama, bukan sekadar program tambahan. Mereka bekerja dan melayani bersama untuk satu tujuan: pemberitaan Injil Kristus.
Di sini kita perlu membedakan antara perkumpulan dan persekutuan.
Perkumpulan dibentuk oleh jenis kegiatan atau kepentingan tertentu.
Tetapi persekutuan memiliki tujuan yang sudah ditetapkan sejak awal oleh Tuhan, yaitu mempersiapkan umat-Nya menjadi pemberita Injil Kristus.
Persekutuan yang Alkitabiah tidak berhenti pada kebersamaan emosional, tetapi bergerak dalam mobilisasi pekabaran Injil. Artinya, setiap orang yang ada di dalam persekutuan dipersiapkan dan diutus untuk menyelesaikan Amanat Agung (The Great Commission).
Ketika gereja hidup dalam kesehatian, doa menjadi gaya hidup, pelayanan dilakukan bersama, dan Injil diberitakan dengan setia—maka seperti gereja mula-mula, Tuhan sendiri yang akan menambahkan jumlah orang-orang yang diselamatkan.
Kiranya gereja hari ini kembali kepada pola ilahi:
sehati dalam doa, bertekun dalam persekutuan, dan setia dalam misi Injil.
Soli Deo Gloria.













