Rakyat Jangan Jadi Penonton: Saatnya UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Desa Menguasai Ekonomi!

File 0000000080747208bf211255e1c670bb
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Jawa Barat punya jutaan UMKM, tapi tanpa kedaulatan—rakyat hanya akan terus bertahan, bukan berkuasa.


Oleh: Ketut Sethyon
Wakil Ketua G-Bran Provinsi Jawa Barat


Di tengah gemuruh pertumbuhan ekonomi nasional, kita terus disuguhi angka-angka yang tampak meyakinkan. Investasi meningkat. Infrastruktur dibangun. Proyek berjalan.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Namun ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita abaikan:

apakah rakyat kecil benar-benar ikut menguasai ekonomi, atau hanya menjadi penonton dari pertumbuhan itu sendiri?

Jawa Barat adalah contoh nyata dari paradoks ini.

Provinsi ini memiliki lebih dari 5,4 juta hingga 7 juta UMKM, menjadikannya yang terbesar di Indonesia. UMKM bahkan menguasai hampir 99% struktur usaha dan menjadi penopang utama kehidupan ekonomi masyarakat.

Artinya jelas:
rakyat adalah kekuatan utama ekonomi.

Namun pertanyaannya:
kalau jumlahnya sebesar itu, mengapa kekuatannya belum terasa?


UMKM: Besar dalam Jumlah, Lemah dalam Kendali

Tulang punggung ekonomi, tapi belum jadi penguasa pasar

Jutaan pelaku UMKM di Jawa Barat setiap hari bekerja, berproduksi, dan menghidupi keluarga. Mereka adalah fondasi ekonomi yang sesungguhnya.

Namun realitasnya masih keras:

  • Akses modal terbatas
  • Distribusi dikuasai pemain besar
  • Banyak usaha stagnan, sulit naik kelas
  • Ketergantungan pada pasar lokal masih tinggi

Kita sering membanggakan UMKM sebagai pilar ekonomi.
Tapi tanpa kekuatan dan akses, mereka hanya akan terus bertahan—bukan berkembang.

Jumlah besar tanpa kendali hanyalah potensi yang belum berdaulat.


Ekonomi Kreatif: Potensi Besar yang Belum Dibebaskan

Kreativitas ada, tapi sistem belum berpihak

Jawa Barat adalah rumah bagi jutaan anak muda kreatif. Dari kuliner, fashion, digital konten, hingga kerajinan lokal—semuanya hidup dan berkembang.

Namun potensi ini belum maksimal karena:

  • Akses pasar terbatas
  • Infrastruktur digital belum merata
  • Perlindungan karya lemah
  • Ekosistem belum kuat

Padahal di era digital, ekonomi kreatif bisa menjadi jalan baru menuju kedaulatan—
di mana kreativitas menjadi kekuatan utama, bukan sekadar modal besar.

Jika tidak didukung serius, kreativitas hanya akan berhenti sebagai potensi—bukan kekuatan.


Desa: Kaya Potensi, Tapi Belum Berdaulat

Sumber ekonomi ada, tapi bukan milik rakyatnya

Desa adalah akar ekonomi rakyat. Dari sanalah lahir pangan, budaya, dan sumber daya.

Namun selama ini:

  • Desa hanya jadi objek pembangunan
  • Potensi belum dikelola maksimal
  • Nilai ekonomi sering dinikmati pihak luar

Padahal jika desa diberdayakan:

  • Produksi bisa dikuasai rakyat
  • Distribusi bisa diperpendek
  • Ekonomi bisa tumbuh dari bawah

Desa yang kuat bukan pilihan—itu keharusan untuk kedaulatan.


Masalah Utama: Rakyat Tidak Menguasai Sistem

Bukan sekadar miskin, tapi tidak berdaulat

Rakyat sudah bekerja keras.
Rakyat sudah berusaha.

Namun mereka belum menguasai:

  • Rantai distribusi
  • Akses pasar besar
  • Teknologi dan digitalisasi
  • Arah kebijakan ekonomi

Inilah akar persoalan yang sebenarnya.

Kita terlalu lama bicara kesejahteraan,
tapi lupa bicara kedaulatan.

Padahal:
kesejahteraan bisa diberikan,
tapi kedaulatan harus dimiliki.


Negara Harus Memihak, Bukan Sekadar Mengatur

Kalau negara netral, yang kuat akan menguasai

Dalam kondisi ekonomi yang tidak seimbang, netralitas bukan solusi.

Negara harus hadir dan berpihak:

  • Membuka akses permodalan UMKM
  • Melindungi pasar dari dominasi besar
  • Mendorong ekonomi kreatif secara nyata
  • Menguatkan desa sebagai pusat ekonomi

Jika tidak, maka ekonomi akan terus dikuasai oleh segelintir pihak.

Dan rakyat hanya akan menjadi pelengkap.


Dari Bantuan Menuju Kedaulatan

Rakyat tidak butuh dikasihani—rakyat butuh kekuatan

Selama ini kita terlalu lama terjebak dalam pola bantuan.

Padahal bantuan hanya menciptakan ketergantungan.

Yang dibutuhkan adalah:

  • Pemberdayaan
  • Akses
  • Kemandirian
  • Kendali

Rakyat tidak butuh belas kasihan.
Rakyat butuh kekuasaan atas ekonominya sendiri.


Saatnya Rakyat Jadi Tuan di Rumah Sendiri

Jawa Barat tidak kekurangan pelaku usaha.
Tidak kekurangan kreativitas.
Tidak kekurangan potensi.

Yang kurang hanya satu:
kedaulatan ekonomi rakyat.

Jika jutaan UMKM masih belum menguasai ekonomi,
maka ada yang salah dalam sistemnya.

Dan jika ini terus dibiarkan,
rakyat akan selamanya menjadi penonton
di panggung ekonomi yang mereka bangun sendiri.

“Rakyat tidak boleh hanya hidup dari ekonomi— rakyat harus menjadi pemilik dan penguasa ekonominya.”