Patih Nawang Dipuro: Kesetiaan Abadi Sang Punggawa dari Jipang Panolan

Img 20250818 wa0004
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelita Nusantara Di antara lembaran sejarah yang terukir samar, nama Patih Nawang Dipuro muncul sebagai sosok yang tak hanya mengukir kisah pengabdian, tetapi juga menjadi simbol kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ia bukanlah seorang raja atau pahlawan perang yang kisahnya dielu-elukan, melainkan seorang punggawa yang memilih jalan sunyi untuk mengabdi hingga akhir hayatnya.

Menurut legenda masyarakat Cepu, Patih Nawang Dipuro adalah seorang punggawa militer kepercayaan di Kadipaten Jipang Panolan, yang dipimpin oleh Pangeran Benawa, putra dari Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) dari Kesultanan Pajang. Keterikatan Patih Nawang Dipuro dengan Pangeran Benawa sangatlah kuat, menjadikannya salah satu orang terdekat dan paling dipercaya.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Pangeran Benawa menugaskan Patih Nawang Dipuro untuk menjemput Pangeran Penjaringan, sosok yang juga dikenal sebagai Mbah Balun, agar kembali ke Jipang Panolan karena dianggap pengembaraan beliau telah cukup. Namun, di sinilah kisah Patih Nawang Dipuro mengambil jalan yang tak terduga.

Patih Nawang Dipuro berangkat melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Namun, ia dan pasukannya mendapati Pangeran Penjaringan telah membulatkan tekadnya untuk menetap dan mengabdikan diri di sebuah wilayah yang kelak menjadi Desa Balun, Blora. Meskipun telah dibujuk, Pangeran Penjaringan tetap menolak untuk kembali.

Dalam kebimbangan, Patih Nawang Dipuro dihadapkan pada dua pilihan sulit. Kembali ke Jipang dengan tangan kosong berarti menghadapi hukuman karena gagal menjalankan titah sang adipati. Di sisi lain, meninggalkan Pangeran Penjaringan sama saja dengan mengkhianati tugas dan nuraninya.

Tanpa pikir panjang, ia membuat keputusan yang mengabadikan namanya dalam sejarah: memilih untuk tidak kembali. Ia memilih tinggal di Balun, mendampingi Pangeran Penjaringan dalam mengurus pemerintahan dan menata kehidupan masyarakat setempat. Pangeran Penjaringan, sosok ulama yang disegani dan dihormati, terharu dan bangga dengan keputusan Patih Nawang Dipuro. Sebagai bentuk penghormatan, Pangeran Penjaringan kemudian mengangkat Patih Nawang Dipuro sebagai anaknya.

Hingga akhir hayatnya, Patih Nawang Dipuro mengabdi di Balun, menjadi tonggak sejarah yang tak terpisahkan dari Pangeran Penjaringan. Kedua sosok ini dimakamkan dalam satu kompleks yang sama, di Kelurahan Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Makam ini menjadi saksi bisu keabadian sebuah pengabdian, di mana seorang patih rela meninggalkan segalanya demi menemani seorang pangeran hingga akhir hayat.

Kisah Patih Nawang Dipuro menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya, mengingatkan kita akan pentingnya kesetiaan, pengorbanan, dan kejujuran dalam menjalani hidup. Menurut riwayat hidup Pangeran Penjaringan, Patih Nawang Dipuro adalah contoh nyata dari seorang punggawa yang setia dan berdedikasi.

Sampai saat ini, makam Patih Nawang Dipuro dan Pangeran Penjaringan masih diziarahi oleh masyarakat setempat dan menjadi simbol kesetiaan dan pengabdian yang abadi. [*]

Keterangan ilustrasi menggunakan teknologi AI