NORMALITAS PASCA “NEW NORMAL”

  • Bagikan

 

 

Pelitanusantara.com |   Akhir-akhir ini kita menjadi sangat akrab dengan mahluk tak terlihat bernama corona. Corona bukanlah sejenis mahluk halus, tapi bisa membuat kita ketakutan. Kita dipaksa merubah cara hidup, cara berbelanja, dan cara berinteraksi, yang berbeda dari kebiasaan normal selama ini. Banyak orang memprediksi perubahan ini akan menjadi kebiasaan baru, sehingga merubah dunia setelah pandemi berakhir.

Yang menjadi pertanyaan adalah benarkah setelah berhentinya wabah pandemi virus corona, manusia akan hidup di satu “dunia yang sama sekali baru”, yang berbeda dengan dunia yang kita kenal selama ini? Ini menjadi satu diskusi yang menarik, bukan hanya di kalangan awam, tetapi juga di kalangan scholar dalam ranah stratejik manajemen. Banyak orang yang “latah” mengatakan bahwa semuanya akan berubah dan kita akan hidup di dunia “new normal” atau kenormalan yang baru, yang ditandai dengan manusia yang lebih banyak hidup menyendiri di rumah, menjaga social dan physical distancing, manusia yang jauh lebih perduli pada sektor higienis, manusia yang punya banyak waktu luang untuk menciptakan keseimbangan antara kerja dan kebahagiaan, manusia yang enggan menjelajah (travelling) karena takut terpapar virus baru dan bahkan menjadi manusia a-sosial yang enggan berpelukan, berjabat erat dan berkumpul.

Untuk sementara waktu, mungkin benar karena manusia masih dihantui oleh berita mengenai penderitaan yang ditimbulkan akibat corona virus. Tetapi ketika keadaan benar-benar sudah reda, apakah semuanya akan balik ke kondisi normal yang lama atau akan tercipta “new normal”? Saya bukan fortune teller (tukang ramal), tetapi saya mendasarkan analisa dan prediksi saya berdasarkan data dan fakta yang terjadi. Pandangan saya ini pasti tidak sepenuhnya didukung oleh para pakar yang sedang gemar jualan pakem mengenai “kenormalan baru”.

Mari kita cermati. Pandemi virus corona yang melanda seluruh muka bumi bukanlah pandemi pertama dalam sejarah beradaban manusia. Pada jaman modern, pandemi flu Spanyol yang terjadi sesudah perang dunia pertama, yaitu tahun 1918 – 1920 bahkan menimbulkan kematian yang mencapai 50-100 juta orang di dunia. Di Indonesia sendiri yang dulu dikenal dengan nama Hindia Belanda, terdapat 1.5 – 2.5 juta penduduk yang meninggal akibat wabah tersebut. Kalau kita cermati, langkah proaktif yang dilakukan pemerintah di hampir semua negara ketika wabah tersebut menyerang adalah dengan melakukan pembatasan sosial berskala besar (social and physical distancing) yang waktu itu lebih dikenal dengan istilah “non pharmaceutical intervention”. Intinya sama, yaitu penduduk dilarang untuk berkumpul dan mengadakan kegiatan yang mengumpulkan massa, dipaksa untuk tinggal di rumah dan untuk sementara waktu kegiatan ekonomi dikurangi atau bahkan dihentikan. Tentu saja dampak dari kebijakan pembatasan sosial ini menciptakan “kenormalan baru”, terutama beberapa saat setelah meredanya wabah flu Spanyol, tetapi jelas berangsur sebagian kembali ke kenormalan lama.

Keberadaan tehnologi IT saat ini memungkinkan manusia yang sedang dikurung dalam sangkar seperti burung, tetap menjaga silaturahmi dengan sesama dan kerabatnya lewat pertemuan virtual, arisan virtual bahkan belajar fitnes atau yoga secara virtual. Ketika keadaan benar-benar telah kembali normal, apakah kebutuhan manusia untuk berinteraksi fisik secara langsung akan sirna? Tentu tidak, karena ini adalah kodrat manusia sebagai mahluk sosial. Mungkin pelan, tapi pasti, kenormalan baru akan bergeser lagi ke kenormalan lama, beberapa mungkin dengan sedikit penyesuaian.

Bagaimana dengan keperdulian manusia akan higienis yang saat ini meningkat drastis seperti rajin mencuci tangan, selalu memakai masker dan menjaga kebersihan tubuh. Saat ini semua itu dilakukan terpaksa, semata-mata urusan hidup dan mati, demi agar tidak terpapar corona, sehingga bisa tetap hidup dengan sehat. Ketika ancaman itu mereda, kebiasaan lama akan kembali. Orang-orang Amerika akan kembali lagi malas mandi berhari-hari ketika musim dingin, mencuci tangan seperlunya, terutama jika akan makan. Ini sih sudah diajarkan sejak jaman baheula oleh nenek moyang kita. Bagaimana dengan trend baru, yaitu memakai masker saat bepergian? Tentu saja kita akan berhenti memakai masker, sesudah ditemukannya vaksin. Siapa sih yang senang menciumin bau mulut sendiri yang kadang sangat menyengat gegara ada sisa makanan yang menyelip di sela-sela gigi. Sehingga saya yakin, kenormalan baru yang katanya ditandai dengan manusia yang selalu memakai masker setiap keluar rumah, tidak akan bertahan lama dan akan kembali mencopot maskernya dan memperlihatkan bibir-bibirnya yang sexy yang bergincu.

Bentuk kenormalan baru yang sering diramalkan adalah penjualan online yang diperkirakan akan meningkat drastis bahkan ada yang memprediksi jumlahnya akan mengalahkan penjualan offline. Dengan atau tanpa adanya wabah corona, penjualan online memang mengalami peningkatan di seluruh dunia. Jaman dahulu mana ada sih orang beli cashing HP, popok bayi, sayuran dan daging, perangkat elektronik sederhana dan kue nastar secara online? Sekarang ini adalah hal yang umum, bukan semata karena wabah corona. Pada masa PSBB di mana semua aktivitas bisnis dipaksa tutup, ya tentu saja kita hanya bisa membeli secara online. Wabah corona hanya menjadi katalisator dari pergeseran pola belanja dari offline menjadi online dan bukan sebagai causa prima.

Wabah corona juga katanya menciptakan kenormalan baru di mana “broadcast television is fighting back” dari sebelumnya yang sudah jauh dikalahkan oleh streaming. Ini ditandai dengan peningkatan drastis jumlah pelanggan TV berbayar seperti Netflix. Benarkah ini akan sustainable (berkesinambungan)? Saat ini di tengah keleluasaan waktu akibat dipaksa libur atau istilah kerennya “working from home”, manusia memang jadi punya banyak waktu diam di rumah. Bahkan banyak yang bersih-bersih rumah akibat saking nganggurnya. Kecanduan nonton film box office masih akan tersisa ketika ekonomi sudah pulih, karena hakekatnya manusia perlu waktu untuk beradaptasi. Tetapi ketika tuntutan pekerjaan sudah kembali normal, mana ada waktu lagi untuk leyeh-leyeh nonton film? Waktunya akan kembali dihabiskan untuk “mengukur jalanan” di sela-sela kemacetan lalu lintas yang menjadi ciri khas kota metropolitan dan hanya menyisakan kelelahan fisik dan mungkin batin setibanya di rumah.

Saya tidak menafikan bahwa ada beberapa yang mungkin berubah menjadi kenormalan baru. Di antaranya pertemuan virtual (zoom, hangout meeting atau sejenisnya) akan tetap menjadi trend karena memang terbukti efektif meningkatkan produktivitas kerja. Juga konsep pembelajaran jarak jauh (virtual learning) akan membuka banyak kesempatan bagi (maha)siswa untuk belajar sekolah-sekolah bagus yang seharusnya tidak pagi menjadi eksklusif bagi kalangan berduit dengan biaya sekolah yang mahal. Munculnya bakat-bakat terpendam dalam bidang food and beverage akan tetap memiliki peluang untuk bertumbuh pasca corona, bahkan membesar jika dikelola lebih profesional. Tetapi harus disadari bahwa tidak semua “kenormalan baru” yang terjadi selama dan beberapa saat sesudah wabah corona akan bersifat sustainable.

Benar bahwa ketika ekonomi kembali dibuka, situasinya sementara akan berbeda dibandingkan dengan situasi yang kita sudah alami sebelum wabah corona. Orang masih tetap harus menjaga sosial dan physical distancing sampai pandemi ini benar-benar reda atau berhasil dikalahkan oleh vaksin. Untuk beberapa industri bahkan diibutuhkan waktu 12 – 18 bulan untuk kembali ke kondisi benar-benar normal, yaitu sampai ditemukannya vaksin corona. Sejarah dari pandemi flu Spanyol tahun 1918 mencatat terjadinya gelombang pandemi kedua ketika belahan bumi utara kembali mengalami musim dingin di tahun 1919 dan ini bahkan mengakibatkan jatuhnya korban yang jauh lebih besar. Tetapi perlu dicatat bahwa saat itu tehnologi kesehatan masih jauh tertinggal dan bahkan antibiotik yang sekarang dipercaya mampu mengatasi infeksi sekunder dari pandemi flu baru ditemukan dan diproduksi massal tahun 1927.

Sejarah pulalah yang membuktikan bahwa badai sebesar apapun pasti akan berlalu. Dia akan meninggalkan beberapa riak gelombang, sebelum kembali mengalun dengan tenang. Dan ini tentu menyisakan peluang. Badai yang menerpa akan menyisakan puing yang berserak, menciptakan sebagian tatanan baru dan tentu saja memperkokoh tatanan lama. Sejarah yang akan membuktikan. Mari kita sama-sama menjaga kesehatan agar kita diberi umur panjang untuk menjadi saksi sejarahnya.

Penulis : Dr. Harris Turino – Faculty Member IPMI International Business School.

(Pelitanusantara.com)

  • Bagikan