MENAPAKI JEJAK SI PANDIR

Pelitanusantara.com  Bongbongan, 2 Mei 2021  ADAKAH yang begitu idiotnya sampai berpikir nenek monyang kita membangun mahakarya Borobudur dan Prambanan, sehingga sekarang kita pasti mampu membikin pusat teknologi dunia di Muntilan. Saya mencoba mencari di google dengan kalimat Muntilan pusat teknologi dunia dan tidak menemukannya.

Saya melakukan itu setelah membaca tulisan Bre Redana di Kompas yang viral dan beredar di aplikasi pertukaran pesan yang saya ikuti, dalam tulisan berjudul “Mengenang Pak Pandir”. Bre mencontohkan atau menganalogikan cara berpikir idiot lebih kurang begini : “Nenek monyang kita membangun mahakarya Borobudur dan Prambanan, oleh karenanya sekarang kita pasti mampu membikin pusat teknologi dunia di Muntilan.”

Akan tetapi, sependek pengetahuan saya belum ada orang mengatakan itu atau berpikiran serupa itu. Mungkin Bre sekilas mencontohkan, memisalkan, mengandaikan. Kalaupun ada saya kira konteksnya menyemangati.

 

Bre lalu mencontohkan ke idiotan lain begini : “Mereka yang mengkritik pemerintah adalah Kadrun.” Yang berpikir seperti ini saya kira ada bahkan banyak. Model pemikiran seperti ini sering di contohkan dalam kuliah logika dan banyak menjadi soal ujian.

 

Bre kiranya menyetarakan contoh pertama dan contoh kedua, sama-sama idiot. Saya lebih suka menyebut keduanya, meminjam istilah Robert Arp, dkk, sebagai “bad arguments,” argumen buruk, ketimbang idiot. Menyebutnya argumen buruk ialah menyasar argumennya.

 

Menyebutnya idiot menyasar orang disebut “ad giminem, dan “ad hominem” termasuk “bad arguments.”

 

Dulu kita sering menyebut mereka yang punya ‘keterbelakangan mental’ sebagai idiot. Saat ini kita menyebut mereka “Berkebutuhan Khusus.” Mungkin di balik sebutan ‘berkebutuhan khusus’ atau ‘argumen buruk’ terkandung eufimisme atau pelembutan.

Namun, pelembutan semacam ini positif, mengandung penghormatan kepada sesama manusia. Bila kita mengatakan “pass away”, kita melakukan pelembutan untuk menunjukkan penghormatan kepada orang yang meninggal.

Holder menyebut contoh seperti “Muntilan pusat teknologi dunia” sebagai argumen buruk kategori, ” chronological snobbery”, gagah-gagahan kronologis. Kita biasa menyebut contoh tentang ‘kadrun’ sebagai argumen buruk kategori ‘generalisasi atau stereotyping’.

 

Generalisasi atau Stereotipe juga terkandung dalam pemikiran begini : mereka membela pemerintah; mereka adalah Cebong. Mereka yang membela pemerintah adalah Cebong. Sayang, Bre tak menyebut contoh ini. Baiklah, saya menambahkan contoh ini disini supaya berimbang meski dengan resiko disebut Cebong oleh mereka yang berpikiran idiot dalam bahasa Bre atau oleh orang berargumen buruk dalam bahasa saya.

 

Bre juga mencontohkan sejumlah pemikiran pandir. Salah satunya begini : orang yang babak belur mengejar koruptor diuji Wawasan Kebangsaannya. Saya tidak tahu mengapa menguji? Wawasan kebangsaan pegawai KPK disebut Pandir. Dimana letak pandirnya?’

Bre sepertinya hendak mengatakan orang sudah babak belur mengajar koruptor tidak perlulah diuji Wawasan Kebangsaannya karena pastilah, yakinlah, wawasan kebangsaan mereka hebat. Ini argumen buruk, kira-kira sama buruknya dengan argumen. Petitih; tak perlulah ditanya seorang dokter pastilah tidak merokok demi menjaga kesehatan karena dia semestinya paham betul merokok itu merusak kesehatan’, padahal, tidak sedikit dokter perokok.

 

Di balik Pemikiran ‘orang yang babak belur mengejar koruptor diuji Wawasan Kebangsaannya’ terkandung pemikiran lain, yakni ‘uji wawasan Kebangsaannya sekadar upaya menyingkirkan orang-orang hebat di KPK yang akan melemahkan KPK’.

Ini pemikiran, imajinasi, ilusi, narasi atau tuduhan yang sengaja diamplifikasi kepada masyarakat? Bila Pemikiran, itu termasuk kategori cerdas, buruk, idiot, atau Pandir? Pemikiran seperti ini kiranya argumen buruk kategori “gagah-gagahan Kronologis”, dulu waktu ada mereka, KPK gagah, dan kelak KPK lemah tanpa mereka.

 

Bre mengatakan kebodohan semacam ‘orang yang babak belur mengejar koruptor diuji Wawasan Kebangsaannya’ diamplifikasi secara konsisten oleh para Influencer ke berbagai saluran media sosial supaya masyarakat mendukungnya.

Begitupun argumen buruk serupa ‘mereka yang babak belur mengejar koruptor tak perlu diuji Wawasan Kebangsaannya’ diamplifikasi secara konsisten oleh para Influencer ke berbagai saluran media agar rakyat mendukungnya.

Bukankah mantan pimpinan KPK, Presenter Televisi, Aktivis anti korupsi, Guru Besar, juga Influencer? (P. Sirait.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *