Konflik Internal Wartawan Tangerang Mencuat: Pokja Gunung Kaler–Kresek Tuding Media Online Sebarkan Disinformasi dan Adu Domba

Kefaspelita
Img 20251023 wa0005
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

TANGERANG – Dunia jurnalistik Tangerang kembali diwarnai konflik internal. Ketua Pokja Wartawan Gunung Kaler–Kresek, Alex SB, melontarkan kritik pedas terhadap pemberitaan yang diterbitkan oleh media online Tangerang Dalam Berita. Ia menuding media tersebut menyebarkan disinformasi dan memiliki agenda tersembunyi untuk mengadu domba sesama wartawan.

“Berita yang mereka tayangkan sangat tidak profesional, judul dan isinya tidak sinkron, serta sarat dengan kepentingan pribadi. Ini jelas berpotensi memecah-belah solidaritas wartawan,” ujar Alex dengan nada geram kepada wartawan pada Rabu (22/10/2025).

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Alex menyoroti judul berita “Tercium Aroma, Memaksakan Kehendak Untuk Memuluskan Niat Pembentukan Perkumpulan Pokja Gabungan Kecamatan Kresek dan Gunung Kaler” yang dianggapnya tidak relevan dengan isi berita. Ia menilai, pemberitaan tersebut justru menyerang personal salah satu wartawan dari Volunteer.id.

“Ini jelas menunjukkan penulisnya tidak memahami substansi berita. Ada aroma kepentingan yang ingin memuluskan pembentukan kelompok baru dengan cara menjelekkan Pokja yang sudah berdiri sah,” tegasnya.

Alex juga menanggapi kutipan pernyataan dari H. Retno Juarno, Ketua LSM Kompak (Komunitas Masyarakat Pemberantas Korupsi), dalam berita tersebut. Menurutnya, pernyataan tersebut tidak sesuai konteks. “Saya sudah menghubungi Pak Retno, dan beliau mengkonfirmasi bahwa pemberitaan yang memuat namanya tidak sepenuhnya benar,” jelas Alex.

Lebih lanjut, Alex menegaskan bahwa Pokja Wartawan Gunung Kaler–Kresek berdiri secara independen tanpa intervensi dari pihak mana pun. “Kami tidak mencari panggung. Tujuan kami adalah menjadi mitra strategis pemerintah dan menyampaikan informasi positif kepada masyarakat,” katanya.

Namun, pernyataan ini memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana independensi Pokja dalam menjalankan fungsi kontrol sosialnya. Mengingat kedekatan dengan pemerintah daerah dan aparat kepolisian, ada potensi konflik kepentingan yang perlu diwaspadai.

Alex juga menyoroti pentingnya media untuk mematuhi kode etik jurnalistik, terutama dalam hal konfirmasi kepada narasumber sebelum menayangkan berita. “Kalau tidak ada konfirmasi, itu bukan berita, tapi opini sepihak yang bisa menyesatkan publik,” tegasnya.

Menanggapi tudingan tersebut, pihak Tangerang Dalam Berita belum memberikan pernyataan resmi. Namun, kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh wartawan untuk selalu menjunjung tinggi profesionalisme dan integritas dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Alex menegaskan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan langkah hukum jika pencemaran nama baik terus dilakukan. Meski demikian, ia tetap membuka ruang dialog bagi pihak mana pun yang merasa keberatan dengan keberadaan Pokja.

“Kami siap duduk bersama jika ada pihak atau oknum wartawan yang merasa terganggu. Kami berdiri bukan untuk bersaing, melainkan untuk berkolaborasi dan membantu menyebarkan informasi positif,” pungkasnya.

Konflik internal di kalangan wartawan Tangerang ini menjadi sorotan penting terkait profesionalisme, independensi, dan etika jurnalistik. Masyarakat berharap agar semua pihak dapat menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin dan mengedepankan kepentingan publik.