Kemuliaan Allah sebagai Tanda Kehadiran-Nya di Tengah Umat

File 000000003370720699413c1704ffd576
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Kemuliaan Allah sebagai Tanda Kehadiran-Nya di Tengah Umat

Sapaan Gembala: Pdt. Andy Markus – Rabu, 28 Januari 2026

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
Roma 11:36 TB

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Kemuliaan Allah adalah simbol kehadiran-Nya. Dalam keyakinan bangsa Israel, kehadiran Allah selalu menjadi tanda bahwa kemuliaan-Nya telah turun dan menyertai umat-Nya. Dalam konteks Perjanjian Lama, kehadiran Allah ini erat kaitannya dengan Kemah Suci atau Tabernakel, tempat Allah berdiam di tengah-tengah umat-Nya.

Dalam Targum—yaitu parafrasa atau penjelasan Tanakh Ibrani yang disampaikan para rabi dalam bahasa sehari-hari—dikenal istilah שְׁכִינָה (shekinah). Kata ini menunjuk pada keberadaan atau kehadiran Allah yang nyata, ketika kemuliaan-Nya turun dan diam di tengah umat, khususnya di Kemah Suci. Walaupun istilah shekinah tidak tertulis secara eksplisit dalam teks Alkitab, makna kehadiran Allah dengan kemuliaan-Nya dicatat dengan sangat jelas dan konsisten dalam Perjanjian Lama.

Melalui pemahaman ini, orang Yahudi diyakinkan bahwa Allah tidak jauh dan abstrak, melainkan Allah yang hadir, tinggal, dan menyertai umat-Nya. Kehadiran Allah tersebut bukan hanya bersifat rohani, tetapi juga nyata—terlihat, dirasakan, dan dialami dalam perjalanan hidup umat-Nya di bumi.

Salah satu dokumentasi paling kuat tentang kehadiran Allah dalam kemuliaan-Nya adalah ketika bangsa Israel berjalan di padang gurun, dipimpin oleh tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Tanda-tanda itu menegaskan bahwa Allah benar-benar hadir di tengah perjalanan umat-Nya, membimbing, melindungi, dan menyatakan kemuliaan-Nya secara nyata.

Dengan demikian, kemuliaan Allah bukan sekadar konsep teologis, melainkan realitas ilahi yang dapat dialami. Kemuliaan Allah sungguh nyata—dapat dilihat dengan mata manusia dan dirasakan dalam kehidupan umat yang berjalan bersama-Nya.