Palangkaraya – PN News Akhirnya masyarakat di Desa Tumbang Lapan dan desa Tumbang Sian,Pendarangas bisa bernafas lega. Bertahun-tahun dalam pergumulan menyaksikan dan merasakan, betapa tersiksanya, bila hujan turun dan membuat jalan raya berbecek tebal, mengakibatkan perjalan bisa terhambat.
Bila mengenang tahun-tahun yang sudah lewat, 2023 di bulan Pebruari, masyarakat Tumbang Lapan sudah dapat bernafas lega, karena melihat jalan raya yang penuh kenangan, berubah menjadi jalan raya menyakitkan hati, kenapa dibilang menyakitkan hati? nafas sudah lega melihat aspal sudah samapi di desa Tumbang Lapan,
namun saat mengadakan perjalanan dengan menggunakan motor bila kecepatan motor 60-70 /jam motor tanpa musik seperti dandut bergoyang lompat alias aspal tidak rata di beberapa titik, bahakan ada beberapa titik jalan raya yang baru di aspal, baru usia sebulan dua bulan, sudah banyak yang berlubang- lubang.
Itu yang membuat menyakitkan hati, karena jika tidak hati- hati mengemudikan kendaraan motor, wajah yang Cantik dan ganteng bisa berciuman dengan Aspal.
Namun tetap bersyukur karena sudah tidak lagi menghalangi perjalanan bila sedang berpergian ke Tumbang Miri.
Berbeda dengan Jalan raya Tumbang Miri – Tewah, dibeberapa titik jalan harus bergumul karena jalan rusak parah, jika turun hujan, memungkin di beberapa titik jalan kendaraan beroda 4 dan beroda 2 bisa terhambat.
Jalan raya yang pernah di aspal bertahan dua tahun lebih, sekarang rusak parah akibat kendaraan besar sejenis Dam muatan kelapa sawit.
Karena di Kecamatan Tumbang Miri sudah ada Perkebunan kelapa sawit, baik dari masyarakat maupun dari Perusahan, dan perusahan kayu.
Para pengguna jalan kendaraan beroda empat dan beroda dua, para pebisnis dagang kecil mengeluhkan jalan Tumbang Miri Menuju Tewah.
Hanya menikmati sesaat dua tahun lebih jalan aspal dan sekarang jalan berbecek tebal diwaktu hujan.
Entah kapan jalan raya ini kembali di diperbaiki dan di aspal belum ada tanda- tanda material di pinggiran jalan.
Nasib masyarkat yang tinggal di hulu/pedalaman masih tetep terukir dilubuk hati.
Perjalanan menuju Kota Palangka Raya selain harus bergumul dalam melewati jalan yang berlubang-lubang, bergumul pembiayaan kendaraan bila menggunakan kendaraan Taxi harus mengeluarkan + 300san ribu sekali jalan, padahal perjalanan hanya ditempuh 4-5 atau 6 jam Sampai di Kota PalangkaRaya dari Tumbang Miri.
Masyarakat yang ada di sekitaran kecamatan Tumbang Miri,Damang batu dan Mirimanasa terus berharap agar pemerintah instansi yang terkait dapat memperhatikan di kemudian hari agar Masyarakat mengalami kemerdekaan dalam perjalanan.**(AW)













