Pelitanusantara.com Gereja, sebagai komunitas iman, seharusnya menjadi oase di tengah gurun polarisasi politik. Namun, tak jarang riak-riak politik praktis, bahkan primordialisme yang sempit, mencoba menyusup masuk, mengancam keutuhan dan kesucian persekutuan. Fakta menunjukkan, gereja kerap dimanfaatkan sebagai pendulang suara oleh partai politik, yang menjanjikan perlindungan dan kesejahteraan, namun setelah mendapatkan dukungan, janji-janji itu menguap begitu saja. Ironisnya, partai-partai yang mengusung narasi anti-intoleransi pun seringkali terjebak dalam kenikmatan semu kekuasaan, tanpa aksi nyata yang signifikan untuk mengatasi masalah intoleransi yang nyata. “Sebab itu, berjaga-jagalah! Karena kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu akan datang.” (Matius 24:42). “Eling lan waspodo,” Ingatlah selalu (Tuhan) dan waspadalah. Ini mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap godaan duniawi, termasuk politik yang bisa menyesatkan.
Di sinilah peran krusial anak muda Kristen terpanggil untuk menjadi penjaga gerbang, memastikan agar iman tetap menjadi kompas utama, melampaui sekat-sekat duniawi. Politik primordial, dengan segala sentimen kesukuan, kedaerahan, dan identitas sempit lainnya, adalah racun bagi persatuan. Ia menggerogoti rasa persaudaraan, memecah belah umat, dan mengaburkan esensi ajaran kasih Kristus. Anak muda Kristen, dengan semangat idealisme dan keterbukaan pikiran, harus menjadi garda terdepan dalam menolak segala bentuk politik identitas yang memecah belah. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39). “Guyub rukun,” Hidup dalam persatuan dan harmoni. Ini menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Kristen di tengah perbedaan politik.
Lebih jauh lagi, gereja bukanlah arena pertarungan politik praktis. Mimbar bukanlah panggung kampanye, dan jemaat bukanlah target suara. Anak muda Kristen harus berani mengingatkan, dengan cara yang santun dan konstruktif, ketika gereja mulai disusupi kepentingan politik sesaat. Mereka harus menjadi pengingat bahwa panggilan gereja adalah untuk mewartakan Injil, melayani sesama, dan menjadi garam dan terang dunia, bukan menjadi alat kekuasaan. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” (Matius 5:13-14). “Satria pinandhita,” Seorang pemimpin yang bijaksana dan berbudi luhur. Ini mengingatkan bahwa gereja harus dipimpin oleh orang-orang yang berintegritas, bukan oleh kepentingan politik.
Lalu, bagaimana seharusnya anak muda Kristen bersikap di tengah pusaran politik yang semakin kompleks? Pertama, berpikir kritis. Jangan menelan mentah-mentah segala informasi yang beredar. Verifikasi fakta, cari sumber yang kredibel, dan jangan mudah terprovokasi oleh ujaran kebencian dan berita palsu. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21). “Aja grusa-grusu,” Jangan tergesa-gesa dalam bertindak. Ini menekankan pentingnya berpikir jernih sebelum mengambil keputusan politik.
Kedua, berdialog dengan bijak. Jangan menghindari perdebatan, tetapi lakukanlah dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Dengarkan pendapat orang lain, hargai perbedaan, dan jangan memaksakan kehendak. Ingatlah bahwa tujuan dialog adalah untuk mencari kebenaran, bukan untuk memenangkan argumen. “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus menjawab setiap orang.” (Kolose 4:6). “Tata titi titis,” Tertib, cermat, dan tepat. Ini mengingatkan pentingnya berdialog dengan sopan dan menghormati perbedaan pendapat.
Ketiga, bertindak dengan kasih. Politik memang seringkali kotor, tetapi kita tidak boleh ikut terjerumus dalam lumpurnya. Tetaplah berpegang pada prinsip-prinsip kasih Kristus dalam setiap tindakan kita. Jangan membalas kebencian dengan kebencian, tetapi balaslah dengan kebaikan. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). “Aja dumeh,” Jangan mentang-mentang. Ini mengingatkan untuk tidak sombong atau merendahkan orang lain, meskipun memiliki kekuasaan atau pengaruh politik.
Keempat, berfokus pada pelayanan. Gereja memiliki banyak sekali ladang pelayanan yang membutuhkan tenaga dan pikiran anak muda. Alihkan energi dan perhatian kita dari perdebatan politik yang tidak berujung, dan fokuslah pada hal-hal yang konkret dan berdampak positif bagi masyarakat. “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10). “Sengkut gumregut,” Bekerja dengan giat dan bersemangat. Ini menekankan pentingnya melayani masyarakat dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan imbalan politik.
Kelima, berdoa tanpa henti. Mohonlah hikmat dan kekuatan dari Tuhan agar kita mampu menjadi saksi Kristus yang setia di tengah dunia yang penuh tantangan ini. Ingatlah bahwa perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan kuasa-kuasa kegelapan. “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus.” (Efesus 6:18). “Memuji marang Gusti,” Selalu bersyukur dan memuji Tuhan. Ini mengingatkan bahwa kekuatan kita berasal dari Tuhan, dan kita harus selalu mengandalkan-Nya dalam setiap aspek kehidupan, termasuk politik.
Gereja bukanlah sekadar alat pendulang suara, tetapi komunitas iman yang memiliki panggilan profetik untuk menyuarakan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan membawa damai sejahtera bagi dunia. Anak muda Kristen adalah harapan gereja dan bangsa. Jangan biarkan kepentingan politik sesaat merusak panggilan mulia itu. Biarlah iman kita menjadi jangkar yang kokoh di tengah badai politik, dan biarlah kasih Kristus menjadi obor yang menerangi jalan kita, membawa gereja dan bangsa menuju kemuliaan-Nya. “Karena Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17). “Manunggaling kawula Gusti,” Bersatunya hamba dengan Tuhannya. Ini adalah tujuan akhir dari kehidupan kita, yaitu mencapai persatuan dengan Tuhan melalui iman dan perbuatan baik.
Kefas Hervin Devananda













