Pelita Nusantara Dari puncak Mahameru hingga dasar Samudra Pasai, di setiap jengkal tanah pusaka ini, berdiri tegak para pagar ayu negeri. Mereka bukan sekadar abdi negara berseragam, melainkan perwujudan Tri Hita Karana – harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam – yang terukir dalam lelaku seorang ksatria. Garda terdepan, tameng kamulyan yang tak tergoyahkan, obor pangreksa yang menghalau kegelapan buta, sebagaimana wangsit yang diemban dalam kitab undang-undang, mengemban amanat luhur dari ruh leluhur.
Dengarlah gema semesta, wahai trah Nusantara! “Bhayangkara” bukan sekadar tetenger di dada, melainkan ageman kekuatan yang berdenyut di sanubari. Ia adalah pusaka adiluhung warisan Mahapatih Gajah Mada, sang senapati agung Majapahit, yang menggelorakan semangat Sura Dira Jaya Ningrat Lebur Dening Pangastuti – segala bentuk angkara murka akan luluh oleh kebaikan dan kasih sayang. Semangat inilah yang mengalir deras dalam nadi Kepolisian Republik Indonesia, pelindung kawula dari segala angin puyuh kejahatan, penegak bebener di tengah rimba fatamorgana, pengayom sesami yang tak pandang bulu.
Namun, kala bendu datang menggoda, menyerupai siluman yang menyelinap dalam alam bawah sadar. Sebagian lali marang purwadaksina, lupa akan jati diri dan sumpah setia, terjerumus dalam kubangan nista yang mengotori jiwa, aji mumpung yang meracuni nurani, pecahing sirah yang menghancurkan persatuan. Mereka mencoreng Tri Brata dengan lumpur dosa, mengingkari Catur Prasetya dengan lidah beracun, menodai luhuring budi dengan tangan kotor. Perbuatan papa cidra ini melanggar aturaning bebendu yang disucikan, serta ngidak-idak ageming aji – martabat kemanusiaan – yang menjamin hak darajat dan melarang segala bentuk panindasan yang mengoyak keadilan. Sesanti Bhayangkara yang dulu diagung-agungkan, kini tatu kalis – luka menganga yang sulit tersembuhkan.
Bagaimana kita ngudarasa Garda Bhayangkara kini? Apakah sekadar wayang kulit di panggung kekuasaan, atau penjaga amanat negeri yang berakar pada paramaartha – kebenaran tertinggi – dan kearifan lokal yang mengalir dari hulu ke hilir?
Jawabannya terukir dalam jiwa Bhayangkara sejati, yang tak lekang oleh panasnya mentari dan tak lapuk oleh dinginnya hujan. Bukan sekadar jejibahan yang menunggu upah, ini adalah dharmasatya – pengabdian tanpa pamrih yang menjelma tirakat – kepada sesrawungan yang beragam warna, bebrayan yang kaya budaya, dan jagad raya yang tak terbatas. Mereka adalah perwujudan guyub rukun, rembugan yang menyatukan perbedaan, mufakat yang melahirkan kebersamaan – piwulang luhur Nusantara yang menjadi landasan kokoh penegakan adil paraadil.
Maka, ngresiki Garda Bhayangkara harus dimulai dari eling lan waspada, mulat sarira, ngilo marang awake dhewe – refleksi diri yang mendalam, laku prihatin untuk menemukan kembali esensi. Piwulang budi pekerti berlandaskan Pancasila sebagai lima sila kehidupan dan kearifan lokal sebagai akar budaya harus menjadi suluh utama membentuk polisi andhap asor yang membumi, cakap dalam ilmu dan laku, serta berhati nurani yang bening laksana embun pagi. Mereka harus mangerteni, kuasa adalah titipan dari Gusti Kang Murbeng Dumadi, bukan kesempatan untuk menindas dan nggarong hak-hak sesama.
Pangawasan kang gumathok dari jaba adalah kudu, laksana mata elang yang tak pernah lelah mengawasi. Kawula harus gumregah, ngunandika dengan suara lantang, ngawal dengan semangat membara, ngritik lakuning Garda Bhayangkara dengan cinta dan kepedulian. Papan pangawasan seperti Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), yang dibentuk berdasarkan aturaning nagara sebagai pancatan keadilan, harus diugemi, diduweni kridha yang tak terbatas, demi terciptanya imbanging antara kuasa yang menggenggam dan tanggung jawab yang memikul.
Garda Bhayangkara harus menjadi tuladha yang bersinar, inspirasi yang mengalirkan semangat, panutan dalam ngugemi adil, bebener, katresnan – cinta kasih yang tulus. Mereka adalah pituduh yang menuntun jalan, pangayoman yang memberi rasa aman, mitra bagi kawula yang saling menguatkan, bukan serigala berbulu domba yang memangsa dari dalam. Mereka harus ngrumati aturaning bebrayan tentang paladosan yang prima dan keterbukaan yang jujur, agar kepercayaan rakyat kembali bersemi.
Mari kita nguripake kembali jiwa Bhayangkara yang mancorong, yang memancarkan cahaya kebaikan. Bukan hanya disegani karena panguwasa yang menakutkan, tapi dipiara karena tulus ing ati yang menyejukkan. Garda Bhayangkara ngawal Nusantara dengan ati lan dharma, berlandaskan Trisila – tresna marang bumi (cinta tanah air), tresna marang sesami (cinta sesama), tresna marang Gusti (cinta Tuhan) – yang menjadi nafas kehidupan.
Semoga seratan ini nggeterake jiwa hingga ke sumsum tulang, ngobong semangat yang tak pernah padam, ngowahi pangangen-angen kita akan wigatining Garda Bhayangkara dalam menjaga keutuhan dan katentreman Indonesia, sebagai amanat dari semesta.
(Olah Pikir dari seorang anak Negeri K74D)













