Dari Terang yang Terbit dalam Gelap: Kristus sebagai Wajah Kemuliaan Allah

File 00000000a064720890fa2929bb7d95d6
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Dari Terang yang Terbit dalam Gelap: Kristus sebagai Wajah Kemuliaan Allah

Sapaan Gembala: Pdt. Andy Markus – Selasa, 27 Januari 2026

“Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”
(2 Korintus 4:6 TB)

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Sejak awal sejarah keselamatan, karya penebusan Allah tidak pernah hadir tanpa tanda. Allah menyatakan kehendak-Nya melalui simbol, lambang, dan nubuat yang terpatri dalam Kitab Perjanjian Lama. Seluruh rangkaian nubuat itu tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak menuju satu titik puncak: Mesias, Sang Juruselamat yang dijanjikan.

Pada waktu yang telah ditetapkan, kemuliaan Allah dinyatakan secara penuh dalam diri Anak Allah yang Tunggal, Yesus Kristus. Di atas kayu salib, Kristus menuntaskan karya penebusan-Nya—sebuah kematian yang tidak wajar menurut ukuran manusia, namun justru menjadi jalan keselamatan bagi orang-orang pilihan Bapa. Di sanalah kemuliaan Allah tidak hanya dinyatakan, tetapi juga dimeteraikan.

Kristus bukan sekadar pembawa kemuliaan Allah—Ia adalah lambang dan manifestasi kemuliaan itu sendiri. Karena itu, mereka yang percaya kepada-Nya tidak hanya ditebus, tetapi juga dipanggil untuk ikut dimuliakan di dalam Dia. Injil Kristus menjadi “dokumen hidup” yang menjelaskan siapa Yesus sebagai Mesias, sekaligus bagaimana di dalam diri-Nya terpancar kemuliaan Allah yang sejati.

Sebagai Pribadi yang diutus langsung oleh Bapa (Missio Dei), Kristus menyatukan apa yang sebelumnya terpisah: langit dan bumi, yang ilahi dan yang manusiawi, bahkan kuasa-kuasa yang ada di surga dan di bumi. Di dalam Kristus, jarak antara Allah dan manusia dipulihkan, dan terang ilahi kembali menerangi hati yang gelap oleh dosa.

Dalam Perjanjian Lama, kata kemuliaan diterjemahkan dari bahasa Ibrani כָּבוֹד (kāḇôḏ), yang berarti glory atau honour, dan secara harfiah bermakna “berat”. Makna ini mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah sesuatu yang ringan atau mudah dipermainkan. Ia mengandung nilai, harga, dan bobot makna yang mendalam.

Karena itu, manusia tidak pernah layak memuliakan dirinya sendiri. Setiap upaya untuk meninggikan diri tanpa Allah akan runtuh oleh beratnya kemuliaan itu sendiri. Hanya Allah yang sanggup memikul dan menganugerahkan kemuliaan sejati. Dan kemuliaan itu kini dinyatakan kepada dunia melalui terang Injil Kristus, terang yang sanggup menembus kegelapan terdalam hati manusia.

Kiranya terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus terus bercahaya di dalam hati kita—membentuk iman, menuntun hidup, dan memuliakan Allah dalam setiap langkah kehidupan kita.