Pelitanusantara.com – Bung Tomo. Nama yang langsung memicu imaji tentang Surabaya bergejolak, semangat membara, dan perlawanan heroik. Tapi, tunggu dulu! Sebelum kita hanyut dalam romantisme sejarah, mari kita bertanya: benarkah Bung Tomo adalah pahlawan tanpa cela? Ataukah ada sisi gelap yang sengaja disembunyikan di balik gemuruh pidatonya? Artikel ini mengajak Anda untuk membongkar legenda yang terlalu sempurna ini, menelanjangi kebenaran yang mungkin lebih pahit dari yang kita bayangkan.
Suara Bung Tomo menggetarkan Surabaya, membangkitkan tsunami semangat di dada arek-arek Suroboyo. Namun, mari kita jujur: apakah pidato-pidato itu adalah wahyu ilahi yang menginspirasi, ataukah racun yang mematikan, yang meracuni pikiran dan membutakan hati? Seperti yang diungkapkan Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983), nasionalisme adalah konstruksi sosial yang bisa dimanipulasi untuk tujuan politik. Apakah Bung Tomo adalah arsitek dari konstruksi ini? Ataukah ia hanyalah pion yang digerakkan oleh kekuatan yang lebih besar?
Kita tahu, perang adalah panggung yang sempurna untuk propaganda. Bung Tomo sangat piawai memainkan emosi massa. Namun, kita juga harus ingat, propaganda adalah senjata yang berbahaya. Seperti yang dijelaskan Jacques Ellul dalam Propaganda: The Formation of Men’s Attitudes (1965), propaganda bisa digunakan untuk mencuci otak dan mengendalikan perilaku manusia. Apakah Bung Tomo adalah maestro propaganda yang lihai, ataukah ia hanyalah korban dari ideologi yang ia yakini?
Bung Tomo memang berhasil menggerakkan ribuan orang untuk melakukan tindakan heroik. Tapi, sejauh mana ia terlibat dalam perencanaan strategi pertempuran? Apakah ia seorang jenius militer, atau hanya simbol perlawanan yang dimanfaatkan oleh para komandan yang lebih kompeten? Menurut Peter Carey dalam Our Revolutions (2015), Pertempuran Surabaya lebih didorong oleh semangat heroik rakyat daripada taktik militer yang terencana. Apakah Bung Tomo adalah otak di balik perlawanan, ataukah ia hanyalah wajah dari perlawanan itu?
Faktanya, Pertempuran Surabaya lebih diwarnai oleh semangat heroik yang membabi buta. Bung Tomo, dengan pidatonya, berhasil membangkitkan semangat itu. Namun, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa ia bukanlah seorang panglima perang yang ulung. Seperti yang ditulis William H. Frederick dalam Visions and Heat: The Making of the Indonesian Revolution (1989), revolusi seringkali dipicu oleh emosi dan idealisme, bukan hanya perhitungan strategis. Apakah ini berarti Bung Tomo hanyalah boneka yang dimainkan oleh para dalang revolusi? Ataukah ia memiliki agenda tersembunyi yang tidak kita ketahui?
Setelah Indonesia merdeka, nama Bung Tomo justru meredup, bahkan nyaris lenyap ditelan bumi. Ia sempat masuk politik, namun gagal total. Mengapa seorang pahlawan revolusi justru menjadi paria di negerinya sendiri? Apakah ia tidak mampu beradaptasi dengan sistem yang korup, atau ada konspirasi jahat yang merenggut kejayaannya? Teori “Hukum Besi Oligarki” dari Robert Michels, yang dijelaskan dalam Political Parties (1911), menjelaskan bagaimana organisasi politik cenderung dikuasai oleh elit yang memiliki kepentingan sendiri. Apakah Bung Tomo adalah korban dari oligarki ini? Ataukah ia memilih untuk mengasingkan diri dari dunia yang penuh kepalsuan?
Mungkin, Bung Tomo terlalu idealis, jujur, dan kritis untuk dunia politik yang penuh intrik. Seperti yang diungkapkan Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran (1969), idealisme adalah kutukan bagi mereka yang ingin berkuasa. Akibatnya, ia tersingkir, dilupakan, dan hanya dikenang sebagai pahlawan di buku sejarah. Ataukah ada rahasia kelam yang sengaja disembunyikan oleh para penguasa?
Bung Tomo adalah sosok yang enigmatis, penuh teka-teki, dan jauh dari citra pahlawan yang sempurna. Untuk memahaminya, kita harus berani menembus kabut kebohongan, mengakui kelemahannya, dan mempertanyakan segala dogma yang selama ini kita yakini. Seperti yang dikatakan Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting (1979), perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Mari kita kobarkan api kritis dalam diri kita, agar sejarah tidak dibajak oleh para manipulator.
Dengan bersikap kritis, kita bisa lebih menghargai kontribusi Bung Tomo sebagai bagian dari sejarah yang kompleks dan penuh warna. Namun, kita juga harus berani mengakui bahwa sejarah adalah medan pertempuran ideologi, di mana kebenaran seringkali dikorbankan demi kepentingan politik. Seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa (1980), bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menghadapi hantu masa lalunya. Sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang, tapi juga tentang siapa yang kalah, dan mengapa mereka kalah. Dan yang terpenting, sejarah adalah tentang bagaimana kita belajar dari kesalahan para pendahulu kita, agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
Oleh Kefas Hervin Devananda alias Romo Kefas













