Pelitanusantara.com Halo, Sobat Digital! Siapa sih yang sekarang nggak kenal sama yang namanya Artificial Intelligence (AI)? Teknologi yang satu ini bukan lagi barang fiksi ilmiah, tapi sudah jadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Mulai dari asisten virtual di HP, rekomendasi lagu di Spotify, sampai fitur canggih di kantor, semua ada sentuhan AI.
Di Indonesia sendiri, persepsi masyarakat terhadap AI cenderung optimis! Berdasarkan beberapa survei, orang Indonesia termasuk yang paling semangat dan yakin bahwa AI bisa membawa perubahan positif dan mempermudah banyak hal, meskipun kita juga sadar kalau Indonesia masih perlu mengejar ketertinggalan dalam pengembangannya. Intinya, kita melihat AI sebagai peluang emas, bukan sekadar ancaman.
Salah satu momen paling ikonik dan bikin melongo, yang menunjukkan keunggulan AI adalah saat mesin berhasil mengalahkan grandmaster catur legendaris, Garry Kasparov. Tepatnya pada tahun 1997, komputer buatan IBM bernama Deep Blue berhasil menaklukkan sang juara dunia catur. Ini bukan sekadar menang, tapi ini menjadi titik balik bersejarah yang membuktikan bahwa mesin bisa meniru, bahkan melampaui, kecerdasan manusia dalam bidang tertentu. Saat ini, program catur modern seperti AlphaZero sudah jauh lebih canggih lagi!
AI memang punya potensi super dalam menganalisis data dalam jumlah masif untuk memecahkan masalah medis, iklim, hingga luar angkasa, menggantikan manusia dalam pekerjaan yang berisiko tinggi dan menciptakan inovesi atau ide-ide baru yang tak terpikirkan oleh manusia.
Namun, laju perkembangan AI yang super cepat ini mulai memunculkan kekhawatiran serius. Pada Maret 2023, sebuah organisasi nirlaba bernama Future of Life Institute (FLI) memulai petisi yang menggegerkan dunia. Mereka mendesak semua laboratorium AI untuk menghentikan pelatihan sistem AI yang lebih kuat dari GPT-4 (salah satu model AI tercanggih saat itu) setidaknya selama enam bulan.
Kenapa harus dihentikan? Alasannya adalah kekhawatiran atas risiko besar bagi masyarakat dan kemanusiaan jika teknologi ini berkembang di luar kendali dan tanpa regulasi yang memadai. Mereka khawatir AI bisa menjadi terlalu kuat, sulit diprediksi, dan berpotensi disalahgunakan, bahkan bisa menyebabkan pengangguran massal.
Petisi ini didukung oleh nama-nama besar, termasuk: Elon Musk (CEO Tesla dan SpaceX), Steve Wozniak (Salah satu pendiri Apple), Yuval Noah Harari (Penulis dan sejarawan terkenal), serta ribuan peneliti, CEO, dan akademisi AI terkemuka lainnya.
Yang lebih membuat jantung berdebar adalah pembahasan tentang Artificial Super Intelligence (ASI) atau kecerdasan Super, yaitu AI yang kecerdasannya jauh melampaui gabungan semua kecerdasan manusia paling cerdas. Kapan ASI ini bisa mulai digunakan? Para ahli punya prediksi yang beragam, namun beberapa pakar bahkan menyebutkan bahwa Artificial General Intelligence (AGI)—langkah sebelum ASI—bisa dicapai dalam tiga hingga delapan tahun ke depan. Artinya, potensi munculnya ASI bisa terjadi segera, mungkin sekitar tahun 2027 atau beberapa tahun setelahnya, jauh lebih cepat dari yang dibayangkan!
Belum lama ini Futurism.com melansir berita dengan judul: Hundreds Of Power Players, From Steve Wozniak to Steve Bannon, Just Signed a Letter Calling for Prohibition On Development of AI Superintelligence. Berita tersebut menyatakan ratusan tokoh public – termasuk beberapa “godfather” AI dan sejumlah tokoh agama, media, dan teknologi yang sangat unik – baru saja menandatangani surat yang menyerukan larangan terhadap perlombaan untuk membangun Kecerdasan Super.
Surat berjudul “pernyataan tentang kecerdasan Super” yang diajukan oleh Future of Life Institute (FLI) ini sangat ringkas. Surat tersebut menyerukan “larangan pengembangan kecerdasan super”, yang menurutnya tidak boleh dicabut sebelum ada consensus ilmiah yang luas dan bahwa itu akan dilakukan dengan aman dan terkendali “serta dengan dukungan publik yang kuat”.
Alasannya tetap sama: kekhawatiran terhadap bahaya eksistensial—ancaman yang bisa mengakhiri keberadaan manusia—jika teknologi ini tidak dikelola secara hati-hati. Mereka menyerukan perlunya mengembangkan protokol keamanan dan regulasi yang kuat sebelum melangkah lebih jauh. Ratusan tokoh public mendukung desakan moratorium tersebut, termasuk Pangeran Harry dan ilmuwan dunia, ikut menyerukan agar riset ASI dihentikan sementara.
Tentu saja ada pihak yang menolak penghentian total ini. Beberapa argumen penolaknya antara lain: Penghentian itu tidak Efektif karena pihak jahat atau negara lain yang punya kapabilitas akan mengabaikan moratorium dan justru memanfaatkan jeda tersebut untuk mendominasi. Adalah Lebih baik diatur, Bukan Dihentikan. Tokoh seperti Bill Gates berpendapat bahwa fokus seharusnya adalah bagaimana memanfaatkan AI sebaik-baiknya dan mengembangkan batasan etis yang kuat, bukan menghentikannya.
Selain itu, menghentikan pengembangan berarti menghambat potensi AI untuk memecahkan masalah besar umat manusia, seperti penyakit dan krisis iklim. Profesor Mauridhi Hery Purnomo dari ITS, dikutip dari Tempo English, berpandangan bahwa ancaman memang ada, tapi AI tetaplah “man behind the gun,” yang artinya manusia yang memegang kendali di belakangnya.
Melihat tarik-ulur ini, masyarakat Indonesia sebaiknya tetap bersikap Optimis, tapi Kritis: Kita harus tetap mengambil sikap optimis terhadap manfaat AI yang luar biasa, namun pada saat yang sama, kita harus mengawal perkembangan regulasi yang melindungi dari risiko penyalahgunaan, disinformasi, dan isu etika. Daripada takut, kita perlu beradaptasi dan meningkatkan keterampilan (upskilling) serta kesiapan SDM agar AI menjadi alat bantu, bukan pengganti total dalam pekerjaan. Indonesia perlu ambil bagian dalam diskusi global tentang tata kelola AI dan ASI, mendesak kolaborasi internasional untuk memastikan pengembangan teknologi ini berjalan dengan aman dan berpihak pada kemanusiaan.
Intinya, AI adalah pedang bermata dua. Di satu sisi ia menjanjikan masa depan super canggih; di sisi lain, ia menuntut pertanggungjawaban yang super pula. Sikap terbaik adalah waspada, tapi tidak panik, serta aktif berpartisipasi dalam menentukan arah masa depan teknologi ini.
Jurnalis : S_HaNu
Gambar : AI













