Bogor, 28 Desember 2025 – Setiap orang tahu Bogor karena udaranya yang segar. Menurut Romo Kefas, ada sesuatu yang sama pentingnya: toleransi yang telah hidup berdampingan dengan warga sejak lama – dan itu terasa seperti udara yang selalu ada di sekitar.
Di warung kopi dekat Taman Kencana, dia menyampaikan ini dengan bahasa lugas. “Toleransi di Bogor bukan hal baru. Ia ada sejak nenek moyang kita – kita jarang sadari, tapi tidak bisa hidup tanpa itu.”
Romo Kefas menunjuk ke Masjid Agung Bogor dan Gereja Katolik Santo Yoseph yang berdampingan di dekat Alun-Alun. “Keduanya sudah ada sejak tahun 1900-an. Di Cibeunying juga ada Pura Tri Hita Karana yang damai berdampingan dengan masjid dan gereja. Ini bukti bahwa toleransi di Bogor sudah ada sejak lama.”
“Kebebasan beragama di UUD 1945 itu penting, tapi di Bogor, itu udah jadi kebiasaan. Kita saling hormati, tidak ganggu satu sama lain – seperti cara kita menghargai udara yang kita bagikan.”
Menanggapi putusan MK tentang pendidikan gratis, dia menyebut program Dinas Kebudayaan “Pembelajaran Budaya Lokal Sehari-Hari” yang berjalan sejak 2025. “Akses sekolah bagus, tapi ajarin juga anak-anak tentang gotong royong Sunda dan cara berbagi dengan teman yang berbeda.”
Data survei IPMJB Juli 2025 untuk Bogor menunjukkan: 82% siswa yang ikut program ini memahami makna saling bantu dalam konteks multikultural. “Bisa aja bikin kue serabi Bogor bersama teman Batak – itu cara mereka memahami perbedaan itu indah.”
Dia melihat gotong royong sebagai wujud nyata dari toleransi. “Setiap bulan, semua lingkungan ada gotong royong – membersihkan taman, acara silaturahmi. Kalau tetangga punya masalah, semua bantuin. Ini seperti kita ‘berbagi udara’ – tanpa itu, masyarakat sulit hidup.”
Laporan Dinas Pemerintahan 2025 menunjukkan jumlah gotong royong di Bogor meningkat 30% dibanding 2024.
Saat menuju Taman Kencana, Romo Kefas tinggalkan pesan: “Toleransi di Bogor seperti udara segar – jangan biarkan terkontaminasi. Cuma lanjutkan kebiasaan kita: saling sapa, berbagi kopi, bantu satu sama lain. Begitu aja, Bogor tetep segar dan damai.”













