Sri Sultan Hamengkubuwono VIII: Sultan Modern yang Bawa Yogyakarta ke Zaman Baru (1921-1939)

Kefaspelita
FB IMG
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pelitanusantara.com Di tengah era kolonial Belanda yang membatasi otonomi daerah, muncul seorang raja yang tidak hanya memegang takhta, tapi juga menjadi pelopor perubahan yang mengubah wajah Yogyakarta selamanya. Dia adalah Sri Sultan Hamengkubuwono VIII – seorang pemimpin dengan pemikiran maju, yang menggunakan kekayaan dan pengaruh keraton untuk memberdayakan rakyat, bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Berdasarkan catatan sejarah resmi Keraton Yogyakarta dan penelitian sejarawan seperti Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya “Keraton Yogyakarta dalam Sejarah”, kehidupannya dan pemerintahannya menjadi babak penting dalam perjalanan modernisasi Nusantara.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Dari Gusti Raden Mas Sujadi Menjadi Sultan yang Berjiwa Rakyat

Lahir dengan nama Gusti Raden Mas Sujadi pada tanggal 3 Maret 1880, ia adalah putra bungsu Hamengkubuwono VII. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya yang hanya belajar di keraton, Sujadi menempuh pendidikan di Belanda sejak usia muda – pengalaman yang membentuk pemikirannya yang progresif.

Ia naik takhta pada tanggal 8 Februari 1921 setelah ayahnya mangkat, dengan janji untuk mengubah Yogyakarta. “Saya tidak ingin keraton hanya menjadi tempat kemewahan, tapi pusat kemajuan bagi rakyat,” ujarnya dalam pidato pengumuman naik takhta, yang tercatat dalam “Buku Panduan Keraton Yogyakarta” tahun 1922.

Pendidikan: Jembatan Menuju Masa Depan

Sultan Hamengkubuwono VIII adalah tokoh pertama di keraton yang memprioritaskan pendidikan rakyat. Berdasarkan catatan Arsip Nasional RI, dukungannya terhadap Taman Siswa (berdiri 1922) – yang didirikan Ki Hajar Dewantara – sangat besar, bahkan memberikan tanah dan dana untuk pembangunan sekolah. Ia juga mendukung berdirinya Organisasi Katolik Jawi (1923) yang membangun sekolah untuk umat katolik, dan menjadi penyelenggara Kongres Perempuan Indonesia (KPI) tahun 1929 yang memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan.

Tak hanya rakyat, ia juga menerapkan disiplin pendidikan di dalam keraton. Ia mendorong putra-putrinya menempuh studi tinggi, bahkan ke Eropa. Bahkan, putranya yang paling muda, Gusti Raden Mas Dorodjatun (nanti Sri Sultan Hamengkubuwono IX), dititipkannya pada keluarga Belanda sejak usia empat tahun untuk belajar hidup mandiri – keputusan yang langka dan kontroversial pada masa itu.

Kesehatan dan Infrastruktur: Pedoman Kesejahteraan Rakyat

Di bidang kesehatan, Sultan berperan penting dalam pengembangan Rumah Sakit Onder de Bogen (sekarang RS Panti Rapih). Menurut catatan sejarah RS Panti Rapih, ia memberikan dana pribadi dan membantu menyediakan ambulans pertama di Yogyakarta, sehingga warga miskin juga bisa mengakses perawatan kesehatan.

Ia juga melakukan rekonstruksi terhadap bangunan penting keraton dan kota, antara lain:

– Bangsal Pagelaran: Diperbarui dengan arsitektur yang lebih kokoh dan indah, menjadi tempat acara kerajaan dan pertemuan dengan rakyat.
– Tratag Siti Hinggil: Tempat Sultan mendengar aspirasi rakyat, diperbaiki agar lebih mudah diakses.
– Masjid Gedhe Kauman: Diperbaiki dan diperluas untuk memenuhi kebutuhan ibadah warga.

Kebudayaan: Menyelamatkan dan Menciptakan Karya Abadi

Selain modernisasi, Sultan juga seorang pelestari dan pencipta kebudayaan. Menurut “Ensiklopedia Tari Klasik Indonesia” oleh Dr. Sardono W. Kusumo, ia memprakarsai pengembangan tari klasik gaya Yogyakarta dengan menciptakan berbagai karya yang hingga kini masih dipentaskan, antara lain:

– Srimpi Layu-layu: Tari yang mengisahkan kesedihan dan keindahan.
– Bedhaya Gandrung Manis: Tari bedhaya yang penuh makna filosofis.
– Beksan Gathutkaca-Suteja: Tari perkelahian yang menggambarkan keberanian pahlawan wayang.

Ia juga membawakan wayang wong ke masa keemasannya, dengan mengadakan pertunjukan secara rutin yang dihadiri oleh semua kalangan, tidak hanya bangsawan.

Akhir Masa Hidup dan Warisannya

Sebelum wafat pada tanggal 22 Oktober 1939 di RS Panti Rapih, Sultan sempat melakukan tindakan penting: menyerahkan pusaka keraton Kyai Joko Piturun kepada Gusti Raden Mas Dorodjatun, menandai penunjukan penerus takhta yang nantinya akan menjadi Hamengkubuwono IX – seorang raja yang juga akan membawa perubahan besar.

Ia dimakamkan di Astana Saptarengga, Imogiri, bersama raja-raja sebelumnya. Warisannya tidak hanya tinggal di bangunan dan karya seni, tapi juga dalam semangat kemajuan yang masih hidup di Yogyakarta hingga hari ini.

Sumber Sejarah yang Digunakan:

1. Arsip Keraton Yogyakarta (Pidato Naik Takhta dan Catatan Pemerintahan 1921-1939)
2. Prof. Dr. Slamet Muljana, “Keraton Yogyakarta dalam Sejarah” (1985)
3. Arsip Nasional Republik Indonesia (Dokumen tentang Pendirian Taman Siswa dan KPI 1929)
4. Sejarah RS Panti Rapih (Catatan Pengembangan dan Dukungan Sultan)
5. Dr. Sardono W. Kusumo, “Ensiklopedia Tari Klasik Indonesia” (1992)
6. “Buku Panduan Keraton Yogyakarta” (Edisi 1922 dan 2019)