Pelitanusantara.com Di tengah hiruk-pikuk kekuasaan kolonial Belanda dan pergulatan budaya Jawa abad ke-19, muncul sosok yang tidak hanya menghiasi khazanah sastra, tetapi juga meramal masa depan bangsa – Raden Ngabehi Ronggowarsita. Dengan nama asli Bagus Burhan, ia dikenal sebagai “Pujangga Terakhir Tanah Jawa” yang menyisakan karya-karya penuh makna dan misteri yang masih menginspirasi hingga kini.
Ronggowarsita lahir pada 15 Maret 1802 di Surakarta, berasal dari garis keturunan bangsawan yang mulia. Ayahnya, Mas Pajangswara, adalah keturunan Kesultanan Pajang, sedangkan ibunya berasal dari Kesultanan Demak. Ia juga cucu dari Yas Adipura II, pujangga besar Kasunanan Surakarta, sehingga darah seni dan kebijaksanaan sudah mengalir dalam dirinya sejak lahir .
Masa mudanya jauh dari mulus. Dikenal nakal dan gemar berjudi, ia dikirim oleh kakeknya untuk belajar agama di Pesantren Gebang Tinatar, Ponorogo, di bawah bimbingan Kyai Imam Besari. Awalnya ia tetap bandel bahkan kabur ke Madiun, namun sebuah pengalaman spiritual di Sungai Kedungwatu mengubahnya menjadi pemuda alim yang pandai mengaji . Setelah kembali ke Surakarta, ia diangkat sebagai cucu angkat oleh Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV) dan diberi gelar Mas Pajanganom pada 28 Oktober 1819 .
Pada 9 November 1821, ia menikah dengan Raden Ayu Gombak dan tinggal bersama mertuanya di Kediri. Rasa jenuh membuatnya berkelana hingga Bali, di mana ia memperdalam ilmu sastra Hindu dari naskah koleksi Ki Ajar Sidalaku . Kariernya tersendat pada masa pemerintahan Pakubuwana V karena ketidaksukaan raja terhadap Panembahan Buminoto, namun ia kembali bangkit setelah menggantikan ayahnya sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom pada 1830 dan kemudian diangkat sebagai Pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada 14 September 1845 .
Selama masa kejayaannya, Ronggowarsita menghasilkan banyak karya sastra yang menjadi warisan budaya tak ternilai. Beberapa di antaranya adalah:
– Serat Sabdajati: Karya terakhirnya yang mencatat tanggal kematiannya (24 Desember 1873), sehingga menimbulkan spekulasi luas. Kajian tentang karya ini telah tercatat dalam koleksi Perpustakaan Nasional RI .
– Serat Jaka Lodang: Syair yang berisi ratapan tentang zaman yang penuh kesusahan serta ramalan akan datangnya kemerdekaan Indonesia, yang disebutkan dalam bait “Wiku Sapta Ngesti Ratu” yang kemudian ditafsirkan sebagai tahun kemerdekaan .
– Paramayoga: Karya prosa yang bercerita tentang asal-usul manusia Jawa dan menggabungkan unsur mitos Hindu dengan ajaran Islam, yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali pada 2017 .
– Serat Kalatidha: Catatan tentang zaman yang penuh ketidakpastian, yang sering dikutip sebagai sumber pemahaman tentang kondisi masyarakat pada masanya .
Karyanya tidak hanya sebatas sastra kesusastraan, tetapi juga berisi petuah, kritik sosial, dan pandangan tentang masa depan. Bahkan, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang – sebuah simbol bahwa ia sangat peka terhadap keluhan rakyat kecil .
Kematian Ronggowarsita pada 24 Desember 1873 meninggalkan banyak pertanyaan. Tanggal kematiannya telah tercantum jelas dalam Serat Sabdajati, sehingga muncul dua pendapat: sebagian penulis seperti Suripan Sadi Hutomo dan Andjar Any menduga ia dihukum mati oleh Belanda, sedangkan elit keraton berpendapat bahwa ia adalah peramal ulung yang mampu meramal hari kematiannya sendiri .
Selain itu, ramalannya tentang kemerdekaan Indonesia menjadi sorotan khusus. Dalam Serat Jaka Lodang dan Serat Sabdajati, ia menyebutkan akan datangnya “jembatan emas kemerdekaan” pada masa Wiku Sapta Ngesti Janma. Tafsiran terhadap bait tersebut menunjukkan bahwa ia telah meramal kelahiran kemerdekaan yang akan menyelamatkan rakyat dari penjajahan .
Ronggowarsita juga terlibat dalam dunia pers kala itu. Ia menjabat sebagai redaktur surat kabar Bramartani hingga tahun 1870, ketika ia keluar karena tekanan Belanda. Tulisan-tulisannya dianggap berbahaya karena mampu membangkitkan semangat perjuangan pribumi terhadap penjajahan. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya seorang pujangga, tetapi juga seorang pejuang yang menggunakan kata-kata sebagai senjatanya.
Selain itu, ayahnya, Mas Pajangswara, pernah ditangkap Belanda karena diduga terlibat dalam pemberontakan Pangeran Diponegoro. Meskipun disiksa hingga tewas, Mas Pajangswara tidak membocorkan rahasia apapun, namun Belanda tetap membuang Pakubuwana VI ke Ambon dengan dalih fitnah. Hal ini membuat hubungan Ronggowarsita dengan Pakubuwana IX (putra Pakubuwana VI) menjadi kurang harmonis, karena ia dianggap sebagai putra pengkhianat .
Setelah meninggal, Ronggowarsita dimakamkan di Dusun Kedon, Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, sesuai dengan wasiatnya untuk dikebumikan berdekatan dengan pusara kakeknya, Sudiro Dirjo Gantang . Makamnya menjadi tempat ziarah yang dihormati dan pernah dikunjungi oleh dua Presiden Indonesia, Soekarno dan Gus Dur.
Untuk mengenang jasanya, pemerintah membangun Museum Ronggowarsito di Semarang, yang menyimpan lebih dari 59.802 koleksi benda bersejarah dari masa prasejarah hingga perjuangan kemerdekaan . Museum ini juga berfungsi sebagai media pembelajaran bagi siswa sekolah dasar hingga menengah atas .
Sumber Referensi
1. Rangga Warsita | Wiki eduNitas, Set of Special Encyclopedia. Tersedia di: https://wiki.edunitas.com/eng/114-10/Ranggawarsita_34895__eduNitas.html
2. Museum Ranggawarsita – PPID Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. Tersedia di: https://ppid-pariwisata.semarangkota.go.id/tempat/museum-ranggawarsita/
3. Museum Ronggowarsito sebagai media dan sumber belajar berbasis kompetensi di SD atau MI SMP atau MTS SMA atau SMK. Tersedia di: https://perpustakaan.smpn10.semarangkota.go.id/index.php?p=show_detail&id=829
4. Lokasi: Kajian simbolik puisi Jawa tradisional “serat sabda jati” karya R.NG. Ranggawarsita dan implikasinya dalam pengajaran apresiasi sastra Jawa. Tersedia di: https://ios.perpusnas.go.id/Record/IOS1.INLIS000000000146324
5. Paramayoga Ronggowarsito : mitos asal usul manusia jawa. Tersedia di: https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1140283
6. Pariwisata Provinsi Jawa Tengah | Destinasi Wisata | MAKAM RONGGOWARSITO. Tersedia di: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/regency/kabupaten-klaten/destinasi-wisata/makam-ronggowarsito
7. Ramalan Ranggawarsita tentang Kemerdekaan Indonesia. Tersedia di: https://koranbernas.id/ramalan-ranggawarsita-tentang-kemerdekaan-indonesia













