Pelitanusantara.com Di tengah kebisingan isu-isu yang membelah masyarakat seperti gelombang kasar, Kefas Hervin Devananda—yang semua orang panggil Romo Kefas—tetap berdiri tegas di pantai. Bukan sebagai figur yang menyebalkan atau menyombong, melainkan sebagai sosok yang membawa pesan toleransi dan keadilan yang hangat, seperti angin sepoi di pagi hari Jawa Barat—berasal dari akar-akar kehidupannya yang sederhana, namun menjelma menjadi suara penting yang tidak bisa diabaikan.
Lahir di Jakarta pada 22 Juni 1974, Romo Kefas tumbuh di Bekasi dengan beban yang berat sejak muda. Ayahnya wafat ketika dia baru berusia 12 tahun—sebuah kejadian yang membuat dunia kecilnya terasa runtuh. Tapi ibunya, seorang penjual nasi uduk yang tangguh, tidak mau menyerah. Setiap pagi, dia bangun sebelum matahari terbit untuk memasak, dan Romo Kefas bersama adik adiknya selalu membantu mempersiapkan semuanya dipagi hari. Cobaan itu tidak membuatnya patah—justru melatihnya menjadi orang yang peduli pada sesama dan berani menghadapi apa pun.
Di SMEA Patriot Bekasi, jiwa kepemimpinannya mulai menyala. Ia aktif di OSIS dan kepramukaan Gugus Depan Pangkalan Patriot, belajar bagaimana memimpin tanpa memandang kedudukan. Setelah menyelesaikan studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Victory Jakarta (lulus 2012), ia bekerja di berbagai bidang—dari account officer hingga kepala gudang—namun hatinya selalu mencari sesuatu yang lebih besar: cara untuk berbicara untuk yang tidak bisa bersuara.
Sejak menjabat Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara.com sejak 2019, Romo Kefas telah menulis ratusan artikel di berbagai media—mulai dari Klik Berita.net hingga Harianesia.com—dengan gaya yang lugas, jelas, dan dekat dengan masyarakat. Setiap kata yang dia tulis bukan hanya sekadar kata—melainkan pedang yang mengungkap kebenaran dan perisai yang melindungi yang lemah.
Karyanya terbaru akhir Desember 2025 bahkan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Di “Natal: Momentum Silaturahmi yang Mengukuhkan Bangsa”, dia mengaitkan semangat berbagi Natal dengan filosofi Sunda “silih asah, silih asih, silih asuh”—seolah-olah kedua nilai itu saling melengkapi seperti matahari dan bulan. Di “Sunda yang Hidup: Seni Tradisi sebagai Jembatan Waktu”, dia menggambarkan bagaimana tari Jaipong dan wayang golek tidak hanya hiburan, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dengan pesan sosial yang masih relevan. Ia juga tidak ragu mengkritik tantangan umat minoritas dalam membangun rumah ibadah, atau menekankan bahwa putusan MK tentang pendidikan gratis hanyalah awal—yang penting adalah implementasi yang adil untuk semua.
Tidak cukup dengan menulis di meja kerja, Romo Kefas turun langsung ke lapangan. Ia menjabat ketua Presidium Forum Masyarakat Kristen Bekasi, bekerja keras untuk memperkuat hubungan antarumat beragama. Sebagai ketua Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia Provinsi Jawa Barat, ia mengajak rekan-rekannya untuk menulis dengan integritas. Bahkan, sebagai Direktur Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum (LKBH) Pewarna Indonesia, ia membantu mereka yang tidak mampu mendapatkan akses keadilan hukum—buktibahwa keadilan itu harus untuk semua, bukan hanya yang mampu.
Pada Pemilu 2024, ia melangkah ke dunia politik sebagai calon legislatif DPRD Provinsi Jawa Barat dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapil Bekasi-Depok. Misi utamanya? Memperjuangkan kesetaraan tanpa pandang agama, pemberdayaan UMKM dengan teknologi, dan memastikan hak guru agama minoritas di sekolah negeri—semua untuk membangun Jawa Barat yang lebih adil dan damai.
Orang-orang yang mengenalnya selalu mengatakan bahwa Romo Kefas adalah sosok yang sederhana dan merakyat. Dia sering terlihat berjalan kaki di pinggir jalan, berbicara dengan warga dengan senyum ramah. Namun, di balik senyum itu tersembunyi integritas yang tinggi dan keberanian yang tak tergoyahkan. Sebagai penggiat aktivis 1998, ia tahu betapa pentingnya berani mengungkap kebenaran, bahkan ketika dunia sedang berteriak lawan.
Nilai-nilai Pancasila dan ajaran kasih menjadi pijakan setiap langkahnya. Dari anak yang membantu ibunya berjualan nasi uduk di pinggir jalan Bekasi, hingga pejuang toleransi yang dihormati di Jawa Barat, Romo Kefas membuktikan satu hal: suara yang kuat bukanlah suara yang paling keras—tetapi suara yang paling tulus, yang mampu menyentuh hati banyak orang.
(Wanjuntak)













