Romo Kefas: Perjuangan yang Tidak Lahir dari Sorotan, Tetapi dari Keteguhan

Kefaspelita
File 00000000b8ac7206b76385b6e4912e49
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Romo Kefas: Perjuangan yang Tidak Lahir dari Sorotan, Tetapi dari Keteguhan

Bogor, 02 Maret 2026 – Tidak semua perjuangan dimulai dengan panggung dan tepuk tangan. Sebagian tumbuh dalam ruang sunyi, ditempa oleh keadaan, dan diuji oleh waktu. Perjalanan hidup Kefas Hervin Devananda, yang dikenal sebagai Romo Kefas, adalah salah satunya.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Lahir di Jakarta pada 22 Juni 1974 dan menghabiskan masa kanak-kanak hingga dewasa di Bekasi, Romo Kefas memahami arti tanggung jawab sejak usia dini. Ketika ayahnya wafat pada 1986, keluarganya harus bertahan dalam kondisi sederhana. Ibunya berjualan nasi uduk untuk membesarkan tujuh anak.

Sebagai anak sulung, ia tidak hanya menjadi kakak, tetapi menjadi penopang. Dari situ ia belajar bahwa hidup bukan tentang kemudahan, melainkan tentang ketahanan. Bahwa karakter dibangun bukan saat keadaan baik, tetapi saat keadaan sulit.

Sejak remaja, Romo Kefas telah aktif sebagai aktivis dan penggiat budaya. Ia melihat budaya sebagai fondasi identitas bangsa dan sebagai ruang untuk membangun kesadaran kebangsaan. Dalam aktivitasnya, ia menanamkan nilai kesetaraan—bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, tanpa melihat latar belakang, keyakinan, atau posisi sosial.

Nilai itu kemudian ia bawa ke dunia jurnalistik. Baginya, pers bukan sekadar penyampai berita, melainkan penjaga keseimbangan antara kekuasaan dan rakyat. Transparansi dan akuntabilitas bukan slogan, tetapi kewajiban moral.

Perjalanan organisasinya menunjukkan proses yang tidak instan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua PD Pewarna Indonesia Provinsi Jawa Barat dan kini mengemban amanah sebagai Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pewarna Indonesia. Dalam peran ini, ia menekankan pentingnya supremasi hukum yang objektif dan profesional, serta penghormatan terhadap asas praduga tak bersalah.

Namun yang membedakan Romo Kefas bukan sekadar jabatan yang pernah ia emban, melainkan konsistensi sikapnya. Ia tidak bergerak mengikuti gelombang isu, tetapi bergerak mengikuti prinsip. Ia tidak membangun citra melalui sensasi, tetapi melalui keberlanjutan.

Kini menetap di Bogor bersama keluarga, ia tetap menempatkan rumah sebagai pusat nilai. Ia percaya bahwa integritas publik berakar dari komitmen pribadi. Kesetiaan dalam keluarga menjadi fondasi keberanian di ruang publik.

Romo Kefas bukan figur yang dibentuk oleh momentum viral. Ia dibentuk oleh proses panjang, oleh tanggung jawab sebagai anak sulung, oleh idealisme sebagai aktivis muda, dan oleh pilihan sadar untuk tetap berdiri pada nilai.

Perjuangannya bukan tentang kerasnya suara.
Tetapi tentang keteguhan arah.

Dan dalam dunia yang sering berubah cepat, keteguhan seperti itulah yang justru menjadi kekuatan. (*)