Pulang yang Selalu Dipanggil Rindu

FB IMG
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pulang yang Selalu Dipanggil Rindu

Pelitanusantara.com – Kadang saya bertanya dalam hati… kenapa setiap musim mudik tiba, perasaan ini selalu ikut bergerak?

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Padahal kami tidak merayakan Lebaran.
Tidak ada kewajiban untuk pulang.
Tidak ada tradisi yang harus dijalani.

Tapi setiap kali jalanan mulai penuh, orang-orang bergegas kembali ke kampung halaman, entah mengapa… hati ini seperti ikut dipanggil.

Seakan ada suara yang pelan, tapi pasti—
“Pulanglah…”

Dan setiap kali itu terjadi, ingatan saya selalu kembali ke satu tempat: Karangpandan, Karanganyar. Tepatnya di Dusun Geneng, tempat di mana istri saya dilahirkan. Tempat sederhana, tapi penuh makna.

Dulu… pulang ke sana bukan sekadar perjalanan.

Itu kebahagiaan.

Perjalanan panjang, macet, lelah—semuanya seperti tidak berarti. Karena kami tahu, di ujung sana ada yang menunggu. Ada pelukan yang tulus. Ada senyum yang tidak pernah berubah dari Ibu dan Bapak mertua kami.

Kami tidak pulang untuk merayakan hari raya.
Kami pulang untuk merasakan rumah.

Saya masih ingat… betapa hangatnya suasana itu.

Kami pergi bersama saudara-saudara, kadang berlibur, kadang hanya duduk bersama. Makan malam sederhana, tapi penuh cerita. Tertawa tanpa alasan, berbincang tanpa batas—dan di tengah semua itu, ada kedua orang tua yang menjadi pusat dari segala kehangatan.

Saat itu, semuanya terasa biasa saja.

Tapi sekarang… saya tahu, itu adalah hal-hal yang paling berharga.

Tahun 2020 menjadi titik yang mengubah segalanya.

Sejak Bapak dan Ibu mertua kami pergi, saya mulai mengerti—bahwa pulang tidak akan pernah sama lagi.

Karangpandan masih ada.
Dusun Geneng tetap seperti dulu.
Rumah itu mungkin masih berdiri.

Tapi suasananya… sudah berbeda.

Tidak ada lagi yang menunggu di depan pintu.
Tidak ada lagi suara yang menyambut dengan hangat.
Tidak ada lagi rasa “lengkap” seperti dulu.

Dan sejak itu, kerinduan pulang berubah bentuk.

Kadang, kerinduan itu tidak membawa kami ke rumah.
Tapi ke makam mereka.

Kami datang… berdiri dalam diam… dan mengenang.

Tidak ada percakapan.
Tidak ada tawa.
Hanya hati yang penuh oleh rindu yang tidak pernah selesai.

Di sana, saya belajar sesuatu yang tidak pernah saya pahami sebelumnya:

Bahwa pulang bukan tentang tempat.
Pulang adalah tentang kehadiran.

Dan ketika kehadiran itu sudah tidak ada…
maka pulang menjadi sesuatu yang hanya bisa dirasakan di dalam hati.

Namun anehnya, rindu itu tidak pernah hilang.

Ia tetap datang… terutama saat musim mudik tiba.

Saat orang-orang pulang dengan penuh sukacita, saya justru pulang dalam ingatan. Mengingat setiap tawa, setiap kebersamaan, setiap momen sederhana yang dulu terasa biasa—namun kini menjadi sangat berarti.

Dan sekarang saya mengerti…

Yang saya rindukan bukan hanya kampung halaman.
Bukan hanya Dusun Geneng.
Bukan hanya rumah itu.

Saya merindukan suasana yang pernah hidup di sana.
Saya merindukan cinta yang dulu menyambut kami.
Saya merindukan kehadiran yang membuat semua itu terasa utuh.

Dan mungkin… itulah arti pulang yang sebenarnya.

Bukan tentang ke mana kita pergi,
tetapi tentang siapa yang pernah membuat tempat itu terasa seperti rumah.

Dan kini… kampung halaman itu tetap ada.

Namun yang saya rindukan,
akan selalu tinggal… di dalam kenangan.


Diceritakan oleh Romo Kefas kepada Redaksi.