Pdt. Ruyandi Hutasoit di Usia 76: Kesaksian Seorang Aktivis tentang Konsistensi dan Kepercayaan

Kefaspelita
FB IMG
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Pdt. Ruyandi Hutasoit di Usia 76: Kesaksian Seorang Aktivis tentang Konsistensi dan Kepercayaan

Cianjur – Tanggal 28 Januari bukan sekadar penanda ulang tahun bagi saya. Tanggal ini adalah momen refleksi tentang perjalanan panjang seorang manusia yang memilih untuk tetap setia pada nilai, meskipun jalan yang ia tempuh penuh tikungan, perlawanan, dan kesalahpahaman. Pada 28 Januari 1950, Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U. dilahirkan. Dan pada 28 Januari tahun ini, beliau genap berusia 76 tahun.

Usia yang bagi sebagian orang menjadi alasan untuk berhenti, bagi beliau justru menjadi penanda bahwa panggilan hidup belum selesai.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Saya mengenal beliau sejak tahun 1991, ketika saya masih seorang remaja. Saat itu saya belum menjadi siapa-siapa. Saya belum memahami iman secara utuh, belum mengerti makna pelayanan, apalagi dunia perjuangan sosial dan politik. Penting saya tegaskan sejak awal: saya bukan murid beliau dalam arti pendidikan formal. Saya tidak pernah belajar di ruang kelasnya. Namun saya dibentuk oleh perjumpaan, oleh keteladanan, dan oleh proses berjalan bersama dalam realitas kehidupan.

Saya mengenal beliau jauh sebelum namanya masuk dalam pusaran politik, sebelum pro dan kontra mengiringi setiap langkahnya. Dan karena itulah, kesaksian ini berdiri di atas ingatan yang panjang, bukan kesan sesaat.

Beliau bukan tipe pemimpin yang gemar membangun citra. Ia tidak banyak berbicara tentang dirinya sendiri. Yang ia lakukan adalah bekerja, hadir, dan konsisten. Dari cara ia memperlakukan orang-orang yang terluka, tersingkir, dan dianggap tidak berguna oleh sistem, saya belajar bahwa iman yang sejati selalu menemukan bentuknya dalam keberpihakan pada martabat manusia.

Salah satu momen paling menentukan dalam hidup saya terjadi ketika beliau hadir sebagai narasumber dalam sebuah retreat gereja di Cibulan, Puncak. Tidak ada retorika kosong. Tidak ada manipulasi emosi. Yang ada adalah kejujuran tentang hidup, tentang tanggung jawab, dan tentang pertobatan yang menuntut perubahan arah. Di sanalah saya mulai mengenal Tuhan secara pribadi dan mengambil keputusan untuk bertobat. Keputusan itu mengubah lintasan hidup saya—bukan menjadi lebih mudah, tetapi menjadi lebih bertanggung jawab.

Sebagai seorang aktivis, saya kemudian memahami bahwa perjuangan tidak selalu romantis. Perjuangan sering kali sunyi, melelahkan, dan penuh risiko. Hal itu saya saksikan secara nyata ketika beliau mendirikan dan memimpin Partai Damai Sejahtera (PDS). Di tengah iklim politik yang pragmatis, PDS hadir dengan membawa nilai yang sering dianggap tidak realistis: keadilan, perdamaian, dan kesetaraan martabat manusia.

Prestasi PDS tidak selalu tercermin dalam angka dan kursi kekuasaan. Prestasinya justru terletak pada keberanian membuka ruang politik yang bermartabat, melahirkan kader-kader yang berani bersuara dengan nurani, serta menghadirkan politik sebagai alat pelayanan, bukan semata alat kekuasaan. Bagi kami yang terlibat di dalamnya, PDS adalah sekolah karakter—tempat idealisme diuji tanpa jaminan kemenangan.

Saya bergabung dalam perjuangan itu dan berjalan cukup dekat. Saya mengawal beliau dalam berbagai peristiwa penting, menyaksikan tekanan, konflik, dan dinamika yang tidak pernah muncul di permukaan. Dari situ saya belajar satu hal penting: mempertahankan nilai jauh lebih sulit daripada mengejar jabatan.

Hari ini, di usia 76 tahun, beliau kembali membangun sebuah Rumah Perjuangan baru bernama Partai Setara Indonesia (SETARA). Langkah ini bagi saya bukan nostalgia, bukan ambisi yang tertunda, dan bukan pula pelarian dari masa lalu. Ini adalah kelanjutan logis dari sebuah jalan hidup yang sejak awal memang memilih nilai sebagai kompas.

Saya sepenuhnya sadar bahwa langkah-langkah beliau selalu mengundang pro dan kontra. Kritik, penolakan, bahkan kecurigaan adalah bagian dari realitas politik. Saya tidak menutup mata terhadap itu. Namun justru di titik inilah alasan kepercayaan saya berdiri dengan kokoh.

Saya masih percaya, karena setelah lebih dari tiga dekade sejak pertama kali saya mengenalnya, saya masih melihat orang yang sama.

Nilainya tidak berubah. Sikapnya terhadap manusia tidak berubah. Kepeduliannya pada mereka yang lemah tetap sama. Yang berubah hanyalah usia dan pengalaman. Prinsipnya tetap. Nurani yang ia pegang masih menjadi dasar setiap keputusan, meski konsekuensinya tidak ringan.

Sebagai seorang aktivis, saya belajar bahwa kepercayaan sejati tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari konsistensi jangka panjang. Dan konsistensi itulah yang saya saksikan pada diri Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U.—dari pertama kali saya mengenalnya sebagai remaja, hingga hari ini ketika ia tetap berdiri di tengah badai penilaian publik.

Karena itu, di tengah segala pro dan kontra, saya memilih untuk tetap percaya. Bukan karena loyalitas buta. Bukan karena romantisme masa lalu. Tetapi karena saya masih melihat pribadi yang sama: seseorang yang bersedia membayar harga demi nilai yang ia yakini.

Selamat bertambah usia ke-76,
Pdt. Dr. dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U.
(28 Januari 1950)

Dan selama saya masih melihat orang yang sama itu berdiri,
saya tahu dengan pasti mengapa saya masih percaya.


Dituturkan oleh:
Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
kepada Redaksi