Pdt. Onwin Hetharie: Pancasila Bukan Hanya Warisan Para Pendiri Bangsa, Tetapi Amanat yang Harus Dijaga oleh Generasi Penerus

File 000000000a3c7207ae27957c4315699c
Img 20241215 Wa0122
File 00000000d2f0720984501526d662de3c
Spread the love

Ketua PW PGLII DIY: Indonesia Akan Kehilangan Arah Jika Kemajuan Tidak Diiringi dengan Kematangan Moral dan Spiritualitas Kebangsaan

Yogyakarta, 30 Mei 2026 – Setiap bangsa besar memiliki fondasi yang menjadi penuntun perjalanan sejarahnya. Bagi Indonesia, fondasi itu adalah Pancasila, sebuah mahakarya kebangsaan yang lahir dari pergumulan, pengorbanan, dan kebijaksanaan para pendiri bangsa dalam merajut keberagaman menjadi sebuah kekuatan nasional.

WhatsApp Image 2026 04 09 at 06.35.58

Di tengah dinamika global yang ditandai oleh meningkatnya konflik, polarisasi sosial, krisis identitas, serta menurunnya rasa saling percaya di berbagai belahan dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat berharga. Modal itu bukan hanya kekayaan alam atau jumlah penduduk yang besar, melainkan kemampuan hidup bersama dalam perbedaan yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Namun tantangan zaman terus berkembang. Arus informasi yang tidak terbendung, menguatnya individualisme, serta berbagai gesekan sosial yang muncul di tengah masyarakat menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang otomatis terjaga.

Saat dihubungi Tim Media pada Sabtu pagi (30/5/2026), Ketua Pengurus Wilayah Persekutuan Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Daerah Istimewa Yogyakarta, Pdt. Onwin Hetharie, mengatakan bahwa Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum untuk membangunkan kembali kesadaran kebangsaan, kesadaran moral, dan kesadaran spiritual seluruh rakyat Indonesia.

Menurutnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan bangsa yang mampu menjaga nilai-nilai luhurnya ketika menghadapi berbagai tantangan.

“Pancasila bukan sekadar peninggalan sejarah yang disimpan dalam buku pelajaran. Pancasila adalah amanat kebangsaan yang harus terus dihidupi. Jika nilai-nilainya tidak lagi menjadi pedoman, maka bangsa ini berisiko kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang begitu cepat,” ujar Pdt. Onwin.

Indonesia Memerlukan Kebangunan Karakter

Pdt. Onwin menilai bahwa salah satu tantangan terbesar bangsa saat ini adalah persoalan karakter.

Menurutnya, kemajuan teknologi dan pembangunan ekonomi tidak akan menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan apabila tidak dibarengi dengan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.

“Kita bisa membangun jalan, gedung, dan infrastruktur dalam waktu singkat. Tetapi membangun karakter membutuhkan komitmen yang panjang. Karena itu Indonesia memerlukan kebangunan karakter yang dimulai dari keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa bangsa yang kuat lahir dari masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap sesama, menghormati hukum, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Onwin juga menyoroti pentingnya menjaga kerukunan sosial di tengah kehidupan bangsa yang majemuk.

Menurutnya, berbagai peristiwa yang sempat menjadi perhatian publik, termasuk yang terjadi di Bantul beberapa waktu lalu, harus menjadi pembelajaran bersama bahwa persaudaraan kebangsaan memerlukan perhatian dan perawatan yang terus-menerus.

“Perbedaan tidak boleh dipandang sebagai ancaman. Perbedaan adalah kenyataan yang telah Tuhan izinkan hadir dalam kehidupan bangsa ini. Tugas kita bukan menghapus perbedaan, tetapi mengelolanya dengan kasih, kebijaksanaan, dan rasa hormat kepada sesama,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dan generasi muda untuk terus memperkuat ruang dialog dan komunikasi yang sehat demi menjaga keutuhan bangsa.

Gereja Harus Menjadi Penjaga Hati Nurani Bangsa

Sebagai pemimpin gereja, Pdt. Onwin menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial dan kebangsaan.

Menurutnya, gereja harus hadir sebagai suara moral yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya kasih, keadilan, dan perdamaian.

“Gereja dipanggil bukan untuk menjadi menara yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Gereja harus menjadi pelita yang menerangi, menjadi sahabat bagi mereka yang terluka, dan menjadi penjaga hati nurani bangsa di tengah berbagai tantangan zaman,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ajaran Kristus tentang kasih tidak pernah mengenal batas suku, golongan, maupun agama.

“Kasih yang diajarkan Kristus adalah kasih yang merangkul, bukan mengucilkan. Kasih yang membangun, bukan menghancurkan. Kasih yang mempersatukan, bukan memecah belah. Nilai inilah yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia hari ini,” katanya.

Indonesia Emas Dimulai dari Jiwa yang Emas

Pdt. Onwin mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dibangun melalui investasi, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, Indonesia Emas harus dimulai dari lahirnya manusia-manusia Indonesia yang memiliki jiwa yang emas, yaitu pribadi yang takut akan Tuhan, mencintai sesama, menjunjung kejujuran, dan mengutamakan kepentingan bangsa.

“Jangan sampai kita mewariskan kemajuan teknologi tetapi kehilangan kebijaksanaan. Jangan sampai kita mewariskan kemakmuran ekonomi tetapi kehilangan persaudaraan. Indonesia masa depan harus menjadi Indonesia yang maju sekaligus bermoral,” ujarnya.

Menjadi Pembawa Damai bagi Indonesia

Menjelang Hari Lahir Pancasila 2026, Pdt. Onwin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi agen perdamaian di lingkungan masing-masing.

Menurutnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh keputusan para pemimpin, tetapi juga oleh tindakan sederhana yang dilakukan masyarakat setiap hari.

“Ketika kita memilih mengampuni daripada membenci, kita sedang membangun Indonesia. Ketika kita memilih merangkul daripada memusuhi, kita sedang menjaga Indonesia. Ketika kita memilih melayani daripada mementingkan diri sendiri, kita sedang mewariskan masa depan yang lebih baik bagi bangsa ini,” katanya.

Menutup pernyataannya, Pdt. Onwin menyampaikan pesan rohani yang mendalam bagi seluruh anak bangsa.

“Tuhan menempatkan kita di Indonesia bukan untuk menjadi penonton, tetapi untuk menjadi berkat. Jadilah pembawa damai di tengah pertikaian, jadilah pembawa terang di tengah kegelapan, dan jadilah penjaga persatuan di tengah perbedaan. Sebab ketika kasih Tuhan hidup dalam hati rakyat Indonesia, maka tidak ada kekuatan apa pun yang mampu meruntuhkan persaudaraan bangsa ini,” pungkasnya.

Jurnalis: Romo Kefas

Narasumber:
Pdt. Onwin Hetharie
Ketua PW PGLII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, 30 Mei 2026.