Pdt. Dwi Tartiyasa Memberitakan Firman Tuhan Melalui Kesenian Ketoprak Tobong
YOGYAKARTA, 8 Januari 2025 — , S.Th., dikenal sebagai pendeta Kristen yang secara konsisten memberitakan Firman Tuhan melalui sarana kesenian tradisional Jawa, khususnya ketoprak tobong. Pelayanan pastoralnya dalam naungan berjalan seiring dengan kiprahnya memimpin komunitas seni ketoprak.
Pendeta yang akrab disapa Rama Dwi ini juga dikenal sebagai pengarang tembang-tembang Jawa dan penulis naskah ketoprak dengan nama pena Ki Yoso Dipuro. Ia lahir pada 9 September 1948 dan wafat pada 14 Mei 2024.
Jejak Pelayanan dan Kepemimpinan
Perjalanan pelayanannya dimulai sebagai Pendeta Gereja Baptis Setia Bakti di Kediri, Jawa Timur (1989–2003). Kepemimpinannya menguat hingga terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Gabungan Gereja Baptis Indonesia (2002–2005). Pada 2006, Rama Dwi hijrah ke Yogyakarta dan melayani sebagai Pendeta Gereja Baptis Demakijo (2006–2009).
Bersentuhan dengan Ketoprak
Saat melayani di Jawa Timur, Rama Dwi mulai bersentuhan dengan dunia ketoprak. Pada 1992 berkembang komunitas ketoprak Sri Budaya di Kediri, yang kemudian berganti nama menjadi Candra Kirana (1994). Krisis ekonomi 1999 membawa komunitas ini ke masa sulit. Dalam situasi tersebut, Rama Dwi hadir dan membangkitkan kembali komunitas ketoprak sejak 23 Juli 2000. Sejak saat itu, kelompok ketoprak tobong bertumbuh di bawah kepemimpinannya.
Hijrah ke Yogyakarta dan Ketoprak Tobong
Seiring kepindahan Rama Dwi ke Yogyakarta pada 2006, komunitas binaannya turut hijrah dan berganti nama menjadi Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya. Istilah tobong merujuk pada keseluruhan perangkat pertunjukan—mulai panggung, gamelan, hingga bangunan semi-permanen bagi para seniman. Ciri khas ketoprak tobong adalah nomaden, berpentas dari desa ke desa.
Meski sempat meredup pada 2010, kelompok ini bangkit kembali sejak 2012. Selama di Yogyakarta, mereka berpindah lokasi hingga 49 kali, sebelum akhirnya menetap di Dusun Brayut, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.
Ketoprak sebagai Media Pewartaan
Selain mengangkat kisah-kisah kerajaan Majapahit, Mataram, Babad Tanah Jawi, hingga cerita dari Persia, Rama Dwi menggubah pementasan ketoprak yang mengangkat kisah-kisah Alkitab. Di sinilah ketoprak dijadikan media pewartaan Firman Tuhan secara kontekstual. Organisasi Gereja Baptis Indonesia mendukung langkah ini sebagai bentuk pelayanan yang efektif dan membumi.
Putra Pdt. Dwi, Risang Yuwono, turut mendukung dengan mendokumentasikan pementasan ketoprak Alkitabiah dan mengunggahnya ke platform digital seperti YouTube. Beberapa pementasan berbahasa Jawa juga dilengkapi narasi bahasa Indonesia oleh Livy Laurens MACE, MA, sehingga menjangkau audiens yang lebih luas.
Pelayanan Kontekstual yang Cermat
Menurut Pdt. Dwi Tartiyasa, penggunaan seni budaya tradisional dalam pewartaan Firman Tuhan menuntut kecermatan.
“Kecermatan itu penting agar kita ikut melestarikan seni budaya, bukan malah melemahkan atau merusaknya. Di sisi lain, kecermatan diperlukan supaya pesan Firman Tuhan tidak menjadi bias. Pelayanan kontekstual harus tetap akurat dalam menyampaikan kebenaran,” ujar Rama Dwi.
Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Istimewa
Editor: Romo Kefas













