“Nompo Kahanan” Jadi Cermin Sunyi, Via Amelia Angkat Realita yang Sering Diabaikan
Jakarta — Di tengah derasnya arus musik yang mengejar viralitas, Via Amelia justru mengambil langkah yang lebih tenang namun tajam. Lewat single terbarunya “Nompo Kahanan”, ia tidak sekadar merilis lagu, tetapi menghadirkan refleksi tentang realitas keluarga yang kerap luput dari perhatian.
Alih-alih membungkus tema luka dengan dramatisasi berlebihan, Via memilih pendekatan yang lebih jujur dan membumi. Lagu ini terasa seperti potongan cerita yang selama ini disimpan rapat—tentang anak yang belajar bertahan di tengah kondisi keluarga yang tidak utuh.
“Nompo Kahanan” berbicara tentang penerimaan, tetapi bukan dalam arti menyerah. Ada dinamika emosi yang kompleks di dalamnya: antara ingin dimengerti, kecewa yang tak terucap, hingga usaha untuk tetap kuat meski tanpa ruang bercerita.
Dari sisi musikal, nuansa pop dangdut yang diusung tidak dibuat hingar-bingar. Aransemen yang sederhana justru memperkuat pesan, seolah memberi ruang bagi setiap kata untuk benar-benar sampai kepada pendengar. Lagu ini tidak memaksa untuk didengar, tetapi perlahan mengajak untuk dirasakan.
Karya ini juga menandai fase baru dalam perjalanan bermusik Via Amelia. Jika sebelumnya ia dikenal lewat eksplorasi berbagai warna musik, kini ia mulai memperlihatkan arah yang lebih personal dan reflektif. Ia tidak lagi sekadar tampil sebagai penyanyi, tetapi sebagai pencerita.
Perjalanan panjangnya sejak usia dini di dunia hiburan menjadi fondasi yang membentuk kedewasaan tersebut. Berbagai pengalaman panggung, pertemuan dengan banyak musisi, hingga keterlibatannya dalam acara-acara besar menjadi proses yang membentuk perspektifnya hari ini.
Menariknya, “Nompo Kahanan” tidak mencoba menawarkan jawaban. Lagu ini hadir bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan membuka ruang—ruang bagi mereka yang merasa tidak didengar, untuk setidaknya merasa ditemani.
Di saat banyak karya berlomba menjadi ramai, Via Amelia justru memilih menjadi jujur. Dan dari kejujuran itulah, “Nompo Kahanan” menemukan kekuatannya.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas













