Natal IKAT Yogyakarta: Rindu Kampung Terobati, Iman Diperkuat di Tanah Rantau
SLEMAN, 16 Januari 2026 — Suasana hangat dan penuh haru menyelimuti Wisma Imanuel, Samirono Baru, Jumat (16/1/2026). Ratusan perantau asal Tanah Toraja yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Toraja Yogyakarta (IKAT Yogyakarta) berkumpul merayakan Natal bersama. Perayaan ini menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan—ia menjelma ruang pelepas rindu kampung halaman sekaligus penguat iman di tanah rantau.
Acara dimulai pukul 10.00 WIB dengan alunan instrumental Natal yang khidmat. Kehangatan semakin terasa saat komunitas Senar Cantik Ukulele membawakan lagu “Nggandol Gusti”, menghadirkan nuansa akrab yang memadukan spiritualitas Kristen dengan sentuhan budaya lokal Yogyakarta.
Kekhasan budaya Toraja tampil kuat melalui sesi Ma’parapa, sapaan adat penuh hormat yang disampaikan Pendeta Daud Nompi dalam bahasa Toraja. Tradisi tutur ini menjadi ungkapan syukur sekaligus doa bagi seluruh warga Toraja yang berjuang dan berkarya di perantauan.
Ibadah inti berlangsung sakral dan estetis. Pendeta Yan Sampe Buntu memasuki mimbar diiringi tarian liturgis yang melambangkan sukacita atas kehadiran Firman Tuhan. Solo pujian kemudian mengantar jemaat pada momen paling menyentuh: prosesi penyalaan lilin. Cahaya lilin menyebar perlahan ke seluruh ruangan, diiringi lagu “Malam Kudus”, menciptakan suasana hening yang mendalam.
Natal tahun ini mengangkat tema “Puang Matua Rampo Urrampanan Tananan Dapo” yang berarti Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga. Dalam khotbahnya, Pendeta Yan Sampe Buntu menegaskan bahwa Allah hadir bukan setelah keluarga menjadi sempurna, melainkan justru di tengah pergumulan hidup. Natal sejati, tegasnya, lahir dari ketaatan dan tanggung jawab iman, bukan dari keadaan yang ideal.
Pesan tersebut diperluas ke kehidupan berorganisasi melalui subtema “Keluarga yang Saling Merindukan, Saling Mengasihi, dan Saling Menopang”. IKAT Yogyakarta ditegaskan sebagai keluarga besar di rantau yang harus saling menjaga, menguatkan, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Sukacita Natal semakin terasa dalam sesi persembahan kreatif, termasuk lelang kuliner khas Toraja Pa’piong. Selain sebagai penggalangan dana, kegiatan ini menjadi wujud pelestarian tradisi. Momen emosional terjadi saat panitia dan pengurus menyanyikan lagu legendaris “Marendeng Marampa”, yang membangkitkan kerinduan mendalam akan kampung halaman di Tana Toraja.
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa berkat dan medley lagu Natal lintas budaya. Keceriaan berlanjut saat panitia membagikan kado Natal kepada lansia, orang tua, dan anak-anak sebagai simbol kasih yang nyata dan inklusif.
Ketua Panitia Moses Sumbu mengapresiasi kerja keras seluruh panitia, sementara Ketua IKAT Andarias Rambu menyampaikan terima kasih kepada para donatur serta mengajak warga Toraja di Yogyakarta untuk kembali aktif dalam kegiatan organisasi. Acara ditutup dengan foto bersama dan makan siang bersama, menegaskan semangat kebersamaan yang menjadi inti perayaan Natal ini.
Jurnalis: SHN
Foto: SHN
Editor: Tim Pewarna DIY













