Depok,Pelitanusantara.com Bertempat di Bellevue Art Space Mall Belevue Cinere Depok, sejak tanggal 26 Januari – 26 Februari 2025 mendatang, pelukis Nanang Widjaya kembali lakukan pameran. Pameran lukis ini adalah pameran tunggal yang ke-24. Pameran tunggal sebelumnya di NW Art Space, galeri pribadinya, di Yogyakarta tahun 2024.
Pameran lukis kali ini, semakin mengukuhkan gaya lukis Nanang Widjaya yang dikenal dengan gaya lukis On the Spot, yakni melukis secara langsung di lapangan. Terkait dengan melukis langsung di lapangan ini, Nanang Widjaya pernah mengungkapkan keasyikannya.

Nilai Keasyikan dan Kejujuran
“Keasyikannya banyak sekali, melukis di luar lebih cenderung hampir tidak ada tekanan dan betul-betul bebas dan seperti liburan atau healing karena tempatnya di luar dan bukan suasana kerja sama sekali jadi kita lebih banyak duduk berkeliling dan mengamati baru kemudian ketika sudah pas kita lanjut dengan eksekusinya sampai jadi dan tidak boleh diselesaikan di rumah atau di studio karena akan berbeda ruhnya, kedalamannya dan spontanitasnya akan tampak jelas betul betul merdeka tanpa tekanan,” demikian ujar Nanang Widjaya.
Selain itu, baginya melukis on the spot, memiliki nilai kejujuran, karena dilukis dengan apa adanya dan diselesaikan dalam satu tempo melukis.
“Di situlah saya merasakan karya-karya on the spot lebih memiliki nilai kejujuran dan apa adanya tanpa dibuat-buat atau dipercantik dan sebagainya. Karya on the spot lebih mencerminkan jati diri objek tersebut sekaligus mencerminkan kepribadian dari sang pelukis yang berjuang dari tahap awal hingga finish dalam mengerjakan apa yang disampaikan lewat lukisan atau lewat gambar,” begitu kata Nanang Widjaya yang mengagumi pelukis luar negeri Ernest Detjenze, Walter Spiese, Rudolf Bonnet, Roland Strasser, Antonio Blanco, dan pelukis Indonesia Hendra Gunawan, Affandi , dan S. Soedjojono ini.
Maestro Media Cat Air
Dr. Anna Sungkar, S.Sn., M.Sn. yang memberikan sambutan dalam pembukaan menyebutkan bahwa Nanang Widjaya adalah maestro dalam melukis dengan media cat air. Menurut Anna Sungkar Nanang Widjaya telah memahami selama bertahun-tahun Nanang Widjaya, bahwa cat air memiliki sifat transparan, yang memungkinkan cahaya “menembus” lapisan cat dan menciptakan efek bercahaya. Hal ini membuat lukisan Nanang memiliki tampilan yang lembut dan menawan, serta karakternya sulit ditiru oleh seniman lain. Nanang menggunakan teknik layering sehingga menghasilkan warna-warni yang kaya tanpa kehilangan transparansi. Efek alami dan dinamis dihasilkan, karena sifat cat menyebar di atas kertas dengan pola yang sering kali tidak terduga, sehingga menciptakan tekstur unik.
Menurut Anna Sungkar lebih lanjut bahwa gradasi warna dan blending dari karya-karya Nanang terlihat lebih halus, memungkinkan transisi warna yang indah.
“Hal itu disebabkan oleh penguasaannya akan teknik wet-on-wet (melukis di atas kertas basah untuk hasil lembut) dan wet-on-dry (melukis di atas kertas kering untuk detail tajam). Penguasaan teknik oleh Nanang dibarengi dengan respons terhadap kecepatan dan emosi yang menuntut spontanitas karena sifat cat air yang cepat mengering. Hal ini memaksa Nanang untuk bekerja cepat dan percaya pada intuisinya. Sehingga teknik melukis cat air terpancar pada jiwa Nanang sendiri, yang dalam hidup kesehariannya terlihat tenang tetapi ada sisi lain yang membuatnya selalu waspada dan gercep (gerak cepat),” demikian Anna Sungkar memberikan komentarnya.

Back to Basic Characters
Mengapa pameran lukisan Nanang Widjaya diberi tajuk Back to Basic Characters? Menurut Aa Nurjaman kurator seni menyebutkan bahwa karya-karya lukisan Nanang Widjaya dalam pameran ini bisa dianggap ‘metafora perubahan’ kehidupan kita sebagai ‘Back to Basic Characters’.
“Karakter kita yang diawali oleh budaya agraris di masa lalu, yang kemudian berangsur-angsur menjadi ‘budaya industri’ di masa kini. Perubahan dari ‘desa’ menjadi ‘kota’disadari oleh Nanang Widjaya, bahwa perubahan yang akan datang tidak selalu berpijak kepada suatu sistem, tetapi mesti membangun sistem-sistem baru sesuai dengan keperluan zamannya. Oleh karenanya Nanang Widjaya menggali kembali karakter dasar karyanya supaya mampu membangun karakter personalnya ketika menyusuri perkembangan seni rupa kontemporer dewasa ini,” demikian Aa Nurjaman.
Menurut AA Nurjaman lebih lanjut bahwa pameran lukis Nanang Widjaya yang diselenggarakan dalam rangka menyambut “Perayaan Tahun Baru Imlek” adalah upaya memberi inspirasi supaya arah kehidupan diselaraskan dengan arus global.
“Perayaan ‘Imlek’merupakan ungkapan rasa syukur karena kita sudah menjalani satu tahap perubahan kehidupan untuk menuju babak baru yang inovatif. Dalam menjalani perubahan berikutnya, kita mestinya bertekad untuk tidaktergantung lagi kepada sistem lamayang menjadi arus utama, karena perubahan yang akan kita jalani ke depan lebih bersifat menyeluruh sesuai dengan arus kehidupan global,” ujar Aa Nurjaman.
Bertemakan Pecinan
Banyak karya lukis bisa disaksikan dalam pameran yang bertemakan kebudayaan pecinan. Beberapa karya lukis itu di antaranya: Sudut Pasar Pecinan 60 x 80 cm / Cat Air di atas kanvas 2024, Ngaso 60 x 80 cm / Cat Air di atas kanvas 2024, The Warior’s 95 x 145 cm Tinta China di atas kanvas 2024, Pasar Pecinan 100 x120 cm/ Cat Air on Kanvas 2024, God Thes Of Mercy Temple Cat Air di atas Kanvas 50 X 50 Cm 2025, Sudut Pecinan dan Becak 50 X 50 Cm Cat Air di atas kanvas 2025, Barongsay Cat Air di atas Kanvas 30x40cm 2022, Klenteng God Thes of Mercy Temple Cat Air di atas Kanvas 30×40 Cm 2022 dan lain-lain.
Selain itu juga ada lukisan bertemakan bagunan cagar alam budaya, seperti lukisan Borobudur Temple Cat Air di atas kanvas 95 X 145 Cm 2024, Candi Prambanan Cat Air di atas kanvas 60x80cm 2023, Kalasan Temple Cat Air di atas Kanvas 60 x 70 Cm 2022, dan yang terbaru lukisan Barong Bali (Tolak Bala) Cat Air di atas Kanvas 120 x 100 Cm 2025.
Oleh: Suyito Basuki













