Pelita Nusantara Dalam era modern ini, kita sering kali terjebak dalam hiruk pikuk kehidupan sehari-hari dan melupakan warisan budaya yang telah membentuk identitas kita. Salah satu contohnya adalah blangkon, penutup kepala tradisional Jawa yang telah menjadi bagian dari budaya kita selama berabad-abad. Namun, apakah kita benar-benar memahami makna di balik blangkon ini? Apakah kita hanya melihatnya sebagai simbol budaya yang estetis, ataukah kita juga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya?
Seperti yang dikatakan dalam peribahasa Jawa, “Ngerti kabeh ora weruh, weruh kabeh ora ngerti” yang berarti “Memahami semua tanpa melihat, melihat semua tanpa memahami”. Dalam konteks ini, kita perlu memahami makna di balik blangkon agar kita dapat benar-benar menghayati dan melestarikan budaya Jawa.
Blangkon adalah salah satu bagian penting dari pakaian tradisional Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Solo. Selain sebagai penutup kepala, blangkon juga memiliki makna filosofis yang mendalam dan menjadi simbol identitas budaya Jawa.
Blangkon Yogyakarta memiliki ciri khas mondolan di bagian belakang yang berbentuk bulat seperti onde-onde. Mondolan ini merupakan hasil adaptasi dari gaya rambut pria Jawa kuno yang mengikat rambut panjang mereka di belakang kepala. Sementara itu, blangkon Solo memiliki mondolan yang berbentuk gepeng atau pipih.
Seperti yang dikatakan dalam peribahasa Jawa, “Beda sarira, beda rasa” yang berarti “Beda badan, beda rasa”. Dalam konteks ini, perbedaan blangkon Yogyakarta dan Solo menunjukkan keunikan dan kekayaan budaya Jawa.
Blangkon Yogyakarta memiliki beberapa makna filosofis, antara lain:
– _Mondolan_: melambangkan kebulatan tekad seorang pria dalam melaksanakan tugasnya walaupun tugas yang diberikan sangat berat.
– _Wiron/Wiru_: berjumlah 17 lipatan yang melambangkan jumlah rakaat sholat dalam satu hari.
– _Cetetan_: mempunyai makna permohonan pertolongan kepada Allah SWT.
– _Kemadha_: bermakna menyamakan atau menganggap sama seperti putra sendiri.
– _Tanjungan_: mempunyai makna kebagusan, artinya supaya terlihat lebih tampan sehingga disanjung-sanjung dan dipuja.
Sementara itu, blangkon Solo memiliki makna filosofis bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat.
Blangkon telah menjadi bagian dari budaya Jawa sejak zaman kuno. Perkembangan blangkon dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti agama, budaya, dan sejarah. Pada zaman Majapahit, misalnya, pria Jawa menggunakan rambut panjang yang diikat ke atas atau digelung. Gaya rambut ini kemudian memengaruhi desain blangkon.
Blangkon adalah simbol budaya dan identitas Jawa yang memiliki makna filosofis mendalam. Perbedaan blangkon Yogyakarta dan Solo menunjukkan keunikan dan kekayaan budaya Jawa. Dengan memahami makna di balik blangkon, kita dapat lebih menghargai dan melestarikan budaya Jawa yang kaya dan beragam.
Seperti yang dikatakan dalam peribahasa Jawa, “Ngono iku mung dadi rerembugan, sing penting iku tumindake” yang berarti “Omongan itu hanya menjadi pembicaraan, yang penting adalah tindakannya”. Dalam konteks ini, kita perlu mengambil tindakan untuk melestarikan budaya Jawa dan memahami makna di balik blangkon.
Sumber:
– Buku “Sejarah Budaya Jawa” oleh Prof. Dr. H. Soedarmono
– Artikel “Makna Filosofis Blangkon” oleh Dr. Siti Rohmah
– Buku “Pakaian Tradisional Jawa” oleh Dr. Ir. Sri Endah Agustina













